May 2, 2014

Belajar Dari Kehilangan

Udah lupa tepatnya kapan terakhir kali melihara kucing di rumah. Dulu sih banyak, sampe beranak pinak. Bahkan sampe anaknya gede dan pacaran sama ibunya, well mereka kucing, nggak salah kan? hehe kalau ada manusia yang terinspirasi mungkin akal mereka lupa disimpen dimana.

Kucing adalah satu dari beberapa hal yang bisa membuat bibir manyun seketika berubah jadi lengkungan senyum bahkan sampe tiga jari. All of those sadness just gone, disapear, like magic. Dan jangan tanya kenapa, it's just happen.

Lalu kenapa berhenti melihara kucing? well, alasannya sakit hati. engga, bukan jadi benci sama kucing. Tapi kalian tau kan, nggak ada kucing yang hidupnya sepanjang umur manusia. Atau pernah ada ya? hehe tapi dulu sih ada yang pernah bilang kucing nggak akan bertahan hidup lebih dari 7 taun... dan konon katanya kalau kucing tiba-tiba pergi dan ga pulang pulang lebih dari tiga kali puasa dan tiga kali lebaran, artinya mereka udah mati. mungkin itu pula yang terjadi pada kucing-kucing saya sebelumnya.

Nggak pernah sepenuhnya jaga jarak sama mereka (kucing) karena nggak bisa. dimanapun saya temui kucing pasti spontan manggil, ga peduli dia kucing jenis apa, bersih atau ngga, ada luka, tetep aja selalu bikin gemessss. walaupun kadang ujungnya dijutekin hehehehe

Ngasih makan juga suka, tapi hanya sebatas itu. udah. trauma? mungkin. karena rasanya kehilangan itu nggak ada yang enak. main bareng kucing-kucing, curhat walaupun dia nggak ngerti dan cuma ngeong doang, tapi itu semua selalu sukses membuat bahagia, nggak pernah gagal.

trauma itu pecah sekitar...mungkin pertengahan taun lalu. saat kucing yang suka dikasih makan deket rumah bawa anaknya yang masih bayi banget, jalannya aja masih endet-endetan hehe akhirnya itu anak kucing jadi sering hang out di depan rumah bareng ibunya. pas ibunya ngilang, tinggal nyisa dia deh.

si kucing kecil pun jadi makin akrab sama semua anggota keluarga. you know im trying hard to hold my feeling toward him. pengen banget melihara tapi takut. takut banget kehilangan lagi. tapi malah makin akrab aja, malah sering main ke dalem rumah.

semakin dekat dan dekat, saya nggak pernah mau nyebut dia kucing saya. karena apa alesan saya bisa melakukan itu? toh dia terlahir di alam bebas, milik Allah, dan nggak ada pemberat yang bisa membuat saya bilang dia kucing saya. karena memang bukan.

terngiang terus di kepala, diusahakan logika selalu dinyalakan agar biasa aja jangan terlalu kameumeut sama dia. karena kehilangan berkali-kali tidak akan membuat hati kita terbiasa. selalu akan membuat lubang entah itu kecil atau besar di dalam hati yang hanya bisa ditambal oleh kesadaran bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar milik kita. semua titipan.

Selama beberapa bulan memelihara saya juga ngga berani ngasih nama. karena takut terlalu jauh. tapi semakin kesini malah semakin sayang. semakin gede dia semakin ngegemesinnnnn banget. Akhirnya saya putuskan untuk membiarkan semuanya, dibandingkan dengan menahan. kehilangan bukan mengajarkan ketakutan, tapi kehilangan mengajarkan agar saya memaksimalkan setiap detik ketika titipan itu masih Dia percayakan.
memangnya kebetulan kucing itu bawa anaknya ke depan pintu rumah? di dunia ini nggak ada yang kebetulan terjadi, semuanya udah tersusun rapi dalam skenarioNya..

well, mungkin ini tulisan yang terlalu serius untuk membicarakan tentang binatang. tapi ini benar-benar mengajarkan saya suatu hal yang besar tentang kehilangan...juga tentang mencintai, apapun, siapapun.

Kalau lagi main-main sama si kucing yang akhirnya diberi nama Messi karena ganteng kayak Lionel Messi itu hehehe, saya selalu bilang, "entah aku atau meng yang bakal pergi duluan, tapi yang penting hari ini aku harus melakukan yang terbaik, dan harus selalu mempersiapkan diri untuk kehilangan atau aku yang menghilang.."

Lebay? bisa jadi. tapi saya putuskan untuk menerapkan hikmah itu di setiap lapis kehidupan. nggak ada yang abadi di dunia ini. kalau tidak ditinggalkan ya meninggalkan. saya belajar untuk tidak merasa memiliki apapun yang ada dalam hidup. termasuk orang tua, sahabat, teman, anggota tubuh, dan semuanya. apa yang bisa saya akuisisi? setiap jengkal adalah titipan. jika merasa memiliki hanya akan membuat diri ini terlena dan tidak memedulikan, maka nggak ada cara lain selain menyadari bahwa semua hanya titipan. hanya titipan. dan yang memberikan titipan bukan main-main, Dia yang menciptakan alam semesta. Maka saya lebih terdorong untuk menghargai semua. saat pertemuan terjadi, saat amanah di genggam, disitulah titik dimana saya harus benar-benar melalukan yang terbaik. Semua memiliki akhir dan kehilangan adalah sebuah kewajaran.

Semoga Allah nggak akan merasa kecewa atas apa yang saya lakukan pada setiap inchi hal yang Dia titipkan pada saya. Memperlakukan setiap amanah dengan perlakuan terbaik. Itulah mimpi terbesar saya. Semoga.

aamiin..

Dan hidup ini..adalah amanah terbesar saya. begitu bukan?

With Love,
Diny Gustini
:)

Free Blog Template by June Lily