December 30, 2013

Hijrah Story : Epilog (End)


Seri Sebelumnya :
My Story : Jalan Hijrahku (Prolog)
Hijrah Story 1 : Pakaian
Hijrah Story 2 : Love Life
Hijrah Story 3 : Passion
Hjrah Story 4 : Dreams


Setelah hampir setengah tahun berjuang untuk coba membagi kisah perjalanan hijrah, terutama berjuang melawan rasa malas yang sering menggoda saat mau mulai nulis, Alhamdulillah akhirnya Hijrah Story saya tuntas :) Menuliskan perjalanan hijrah ini sama dengan menarik kembali segala memori tentang perjuangan yang telah dilalui. Berat, berliku, tapi itulah yang membuatnya indah dan bermakna. Jika melihat hasil yang telah digenggam rasanya tidak sedetik pun berpikir untuk menyesalinya. 

Perjalanan hijrah ini telah menuntun saya untuk jauh lebih mengenal Allah dan juga memahami kasih sayangNya. Ketika saya mengenal Allah lebih dalam, timbul rasa ingin terus menerus melakukan hal-hal yang disukaiNya, menjauhi apa yang dimurkaiNya, dan melakukan segala sesuatu hanya untukNya. Sehingga, saya memutuskan untuk mengenakan hijab yang sesuai dengan perintahNya, berhenti menjalin hubungan tak halal, berusaha menemukan dan mengasah passion saya agar kedepannya mampu memberi manfaat, mulai menyusun mimpi sebagai bentuk keyakinan penuh atas keMaha KuasaanNya, juga berusaha memaknai hidup serta menjauhi kesia-siaan. Jadi bisa dikatakan bahwa perjalanan menemukan Allah itu akan otomatis menuntun kita untuk menemukan diri yang lebih baik. 

Perjalanan Hijrah ini bukan tentang menunggu hidayah. Sungguh, bukan tentang itu. Tetapi hijrah adalah sebuah kerelaan diri untuk membuka hati dan pikiran agar mampu memahami setiap petunjukNya serta kesediaan untuk berjalan menuju cahayaNya. Pernah lihat orang yang sudah dinasehatin berkali-kali tapi tetap tidak peduli? Bukan belum datangnya hidayah penyebab utamanya, tapi  tidak adanya keinginan membuka hati dan pikiran untuk menerima cahayaNya lah yang membuat dia begitu. Kemudian munculah alibi untuk menyamarkan hal tersebut dengan menyebutnya “Menunggu Hidayah”. Jika hanya berdiam menunggu, jika tetap memutuskan menutup hati dan pikiran, bagaimana bisa berubah menjadi lebih baik di mataNya? Allah berfirman;
 “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.”
(Q.S Ar-Ra’d :11)
Jelas sekali Allah menginginkan kita melakukan usaha untuk berubah menjadi lebih baik. Menunggu bukan jawaban. Hal yang perlu diwaspadai lagi adalah ada batas yang sangat tipis sekali antara tidak tahu dan tidak mau. Jangan sampai kita berpura-pura tidak tahu untuk menutupi ketidakmauan kita memenuhi seruanNya.

Ada satu pertanyaan penting juga yang harus ditujukan pada diri kita sendiri saat berhijrah. Sebenarnya kepada siapakah ditujukan hijrah ini? Dan untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengingat satu sabda Rasulullah SAW ;
Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya sampai pada Allah dan RasulNya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia inginkan atau karena wanita yang ia ingin nikahi maka hijrahnya sampai apa yang ia niatkan.
(HR. Bukhari)
Semua tergantung niat, dan kita harus selalu menjaga niat hijrah kita hanya karena Allah agar tidak sia-sialah semua perjuangan yang telah dilalui. Sehingga hijrahnya tidak hanya merengkuh kebahagiaan dunia tapi juga akhirat; Hijrahnya tidak hanya mengakibatkan kita diakui penduduk bumi tapi juga dicintai penduduk langit. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus :)
 
Kisah ini mungkin telah sampai pada sebuah akhir, tapi sejatinya perjalanan hijrah tidak akan pernah mengenal akhir. Berhenti untuk berhijrah berarti berhenti berusaha untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Hijrah adalah perjalanan seumur hidup. 

Semoga #JalanHijrahku ini mampu menjadi inspirasi bagi setiap langkah yang tertahan ragu untuk berhijrah, mampu menjadi cheerleaders bagi setiap hati yang sedang dilanda rapuh ditengah perjalanan hijrahnya, dan mampu menjadi cermin agar tidak mengikuti jejak kesalahan saya di masa lalu.
“Belajarlah dari kesalahan orang lain.Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri”
Martin Vanbee
And last but not least, semoga #JalanHijrahku ini mampu menjadi pemberat timbangan amal kelak saat setiap butir perbuatan dipertanggung jawabkan dihadapanNya. Aamiin :’)

Salam,
Diny Gustini
@dinott

December 28, 2013

Hijrah Story 4 : Dreams

Seri Sebelumnya :
My Story : Jalan Hijrahku (Prolog)
Hijrah Story 1 : Pakaian
Hijrah Story 2 : Love Life
Hijrah Story 3 : Passion


“Untuk apa lah punya cita-cita tinggi? Lihat deh siapa sih kamu? Orang biasa aja kayak kamu itu nggak pantes punya mimpi.” Duh, serem ya baca kata-katanya. Dan yang lebih menyeramkan adalah kalimat tersebut bukan berasal dari orang lain, tapi dari saya dan untuk diri saya sendiri.

Bagi orang yang menjalani hidup apa adanya, cukup puas dengan hidup si satu zona nyaman, dan tidak terlalu menyukai tantangan, memiliki mimpi atau cita-cita adalah sesuatu yang tidak terpikir sama sekali dan dulu sih rasanya nggak perlu juga punya mimpi atau planning hidup jarak jauh. Sehingga dihasilkan lah hidup yang datar-datar aja. Bahkan dulu itu, bermimpi untuk pergi ke Mekkah saja rasanya berat sekali. Parah banget kan? hehe

Hal tersebut berlangsung cukup lama, 20 tahun hidup saya jalani tanpa mimpi. Sampai Allah kirimkan petunjukNya yang sangat menampar saya cukup keras, yaitu ketika saya mempelajari modus Hidup Yakin pada saat mengikuti training Muda Mulia. Saat itu diputar sebuah video yang menggambarkan keMaha Kuasaan Allah Sang Pencipta alam semesta. Ditampilkan bintang-bintang ciptaanNya dari yang terkecil sampai yang terbesar. Dan bintang yang paling besar itu jika dibandingkan dengan bumi, ukurannya 21 kali lipat lebih besar! Bayangkan! Dari visualnya terlihat bumi seperti titik kecil saja saat dibandingkan dengan benda angkasa tersebut. Dan bisa teman-teman bayangkan, bumi saja terlihat begitu ciut, apalagi kita?

Kang Rendy mencoba memperbaiki kesalahan fatal mindset para peserta, khususnya saya, yang bisa jadi selama ini ragu untuk bermimpi, merasa nggak pantes, dan merasa nggak mampu untuk mencapai mimpi. Karena tanpa kita sadari saat itulah kita meragukan keMaha Besaran Allah, meragukan keMahaKuasaan Allah. Allah mampu lho menciptakan bintang yang sebegitu besarnya dengan sangat mudah, terus kenapa kok kita tega-teganya meragukan kekuasaan Allah untuk mengabulkan mimpi kita yang nggak seberapa dibanding dengan menciptakan sebuah benda angkasa yang super besar? Tamparan ini sangat kuat sekali hingga saya menangis sejadi-jadinya. Mengingat ternyata saya selama ini hidup dalam keraguan akan kebesaranNya. Astaghfirullahaladzim :’(

Disitulah titik dimana saya benar-benar merombak habis mindset saya tentang impian. Ternyata selama ini rasa takut untuk bermimpi itu terjadi karena saya selalu melihat kapasitas diri yang memang terbatas. Dan fatalnya saya lupa bahwa bukan kapasitas diri yang menjadi acuan saat kita menyusun mimpi dan cita-cita, tetapi kapasitas Allah yang begitu besar dan tanpa batas lah yang harus dijadikan patokan. Mungkin bagi kita banyak hal yang mustahil, tapi tidak bagi Allah. Kun Fayakun.

Saya pun disadarkan bahwa sejatinya mimpi memang seharusnya ada di atas kapasitas kita, jika tidak maka itu namanya rencana. Tanpa disadari saat kita berusaha untuk mewujudkan mimpi maka secara otomatis kita sedang menaikan kapasitas diri. Maka orang yang memiliki mimpi dan selalu berjuang untuk meraih mimpinya, seluruh bagian dalam dirinya akan terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Alhamdulillah, kini saya sudah keluar dari zona “scare to dream dan memasuki zona “dare to dream”. Memiliki mimpi itu sama dengan memiliki tujuan hidup. Jika tujuan hidup sudah dimiliki maka kita nggak bakalan lagi mengalami kebingungan... mau dibawa kemana hubungan kita~  lho? Hehehe Maksud saya kita nggak bakalan bingung lagi mau dibawa kemana kah hidup ini? Dengan tujuan yang jelas maka akan semakin jelas arah langkah kita. Bermimpi juga membuat hidup lebih berenergi dan berpikir beribu kali untuk menyia-nyiakan waktu.

Perjalanan ini membimbing saya untuk mulai menetapkan mimpi-mimpi yang ingin saya raih,  diantaranya :

  • Menjadi Penulis Inspiratif yang karyanya mampu mendorong orang lain tergerak untuk terus berusaha menjadi lebih baik di mataNya. Dan kelak mampu menjadi pemberat timbangan amal dan menaikan derajat diri di hadapanNya
  • Mendapatkan beasiswa S2 psikologi di luar negeri
  • Menjadi inspirator dan konselor bagi anak dan remaja untuk mengenal Allah sejak dini
  • Beribadah haji dan umrah ke Mekkah bersama keluarga dan berziarah ke Makam Rasulullah SAW ke Madinah
  • Keliling Eropa bersama pasangan hidup, terutama mengunjungi negara-negara yang ada di buku 99 Cahaya di Langit Eropa (Istanbul, Paris, Wina, Cordoba, Granada).

dan masih banyak lagi sebenarnya, Daftar di atas hanyalah gambaran umum mimpi saya. Kalau ditulis semua bisa-bisa jadi novel. Hehehehe Bismillah..semoga kolaborasi antara usaha saya dengan keMaha Kuasaan Allah mampu mengubah mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan aamiin :’)

Satu hal yang harus diingat, jangan takut mimpi kita ditertawakan orang, malah katanya kalau belum ditertawakan itu bukan benar-benar mimpi. Dan banyak orang yang pada awalnya ditertawakan malah akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Tapi tentu saja melalui kerja keras. Karena hidup ini bukan mie yang bisa dibikin instan ;)

“Rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya. Sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.”
(Paulo Coelho, The Alchemist)

 Jadi, tunggu apa lagi? Ayo segera susun mimpimu dan kejarlah! Dream, Pray, and Action..




Semoga Bermanfaat :)
Diny Gustini
@dinott

December 21, 2013

Terapi Bersyukur

Berada dalam situasi yang serba bingung itu nggak enak. Bingung kenapa? Kadang bingung juga untuk jawabnya hehehe. Rasanya itu ada sesuatu yang mengganjal. Banyak yang dipikirkan dan menyesakkan, menyita waktu. Tapi semakin dipikirkan semakin bingung dan bikin pusing. Bisa dikatakan ini galau kehidupan.

Ternyata berdasarkan self-observation fasa galau kehidupan ini berkala selama sebulan sekali (in my case). Udah kayak datang bulan. Kirain setelah berhasil melewati satu kegalauan dan biasanya menjadi semangat dan penuh harap, kedepannya bakalan terus kayak gitu. but hey it's life! kata iklan snack juga life it's never flat. Nggak mungkin lempeng terus, pasti ada naik turunnya. Itulah dinamika kehidupan. 

Menyebalkan? Memang. Tapi yang harus diyakini bahwa dinamika kehidupan ini sangat penting untuk peningkatan kualitas hidup. Ingat kata Pak Jamil Azzaini bahwa "Pelaut yang ulung tidak dilahirkan di laut yang tenang". Untuk menjadi seorang hebat memang butuh diuji kelayakan. Uji kelayakan itu bernama ujian kehidupan yang merupakan bagian dari dinamika kehidupan.

Parahnya kalau badai ujian ini datang berbarengan dengan futurnya iman. Wih bikin tambah galau guys :( Rasanya makin pusing, bingung, sesak (lebay dikit). Saat iman futur, biasanya semuanya itu nambah rumit. Kenapa? Karena kadang suka dipikirin sendiri, dibikin pusing sendiri, nyari solusi sendiri, semua serba sendiri. Tidak melibatkan Allah. Dan itu adalah fatal error! Sebab kita SELALU butuh Allah. Apalagi saat-saat genting seperti itu. Nggak bisa dilakukan sendiri dan memang nggak akan pernah bisa. PASTI butuh Allah.

Tapi syaitan semakin gencar dan genit aja goda-godain. Saat mau Curhat time dibikin males, sewaktu shalat dibikin ngantuk, ditambah bisikan-bisikan yang bahayanya bisa bikin putus asa..rasanya semakin mumet. Bawaannya pengen ngeluh. Lebih sering berpikir negatif. Duh! Udah tahap danger banget ini.

Pas udah mumet-mumetnya banget akhirnya saya cobain terapi bersyukur. Saya ngoceh sendiri, coba menyebutkan hal-hal baik yang patut saya syukuri hari ini. 
"Alhamdulillah saya masih bisa bernapas hari ini."
"Alhamdulillah masih dikaruniai fisik yang sehat."
"Alhamdulillah mata saya masih bisa melihat". 
"Alhamdulillah masih bisa makan enak."
"Alhamdulillah masih memiliki keluarga yang utuh."
"Alhamdulillah masih punya rumah."
"Alhamdulillah punya temen-temen yang baik"
"Alhamdulillah disaat banyak orang susah mencari kerja saya punya kerja."
Dan masih banyaaaaaaak sekali hal-hal lain yang patut disyukuri. Bahkan jika kita mau mencoba mengganti kaca mata ngeluh dengan kaca mata syukur maka kita akan melihat banyaaaaak sekali hal yang patut disyukuri dari masalah itu sendiri.

Saat mensyukuri nikmat-nikmat tersebut biasanya otomatis muka langsung berseri-seri. Rasanya itu menyenangkan dan menenangkan. Semua beban hilang.. Masya Allah indahnya bersyukur :)

Kejadian-kejadian buruk (menurut kita) biasanya akan menjauhkan diri dari rasa syukur. Padahal semakin jauh dari rasa syukur maka semakin jauh pula dengan solusi. Ingatlah dengan pesan Allah pada kita....

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Semakin bersyukur maka nikmat semakin bertambah. Tapi semakin diingkari maka bersiap azabNya menanti. Naudzubillah. Inilah kenapa saat kita mengeluh semuanya malah terasa jadi semakin rumit. Astaghfirullahaladzim.. Semoga Allah mengampuni segala kekufuran kita ya. aamiin

Terapi syukur ini sangat penting untuk mengalihkan fokus kita dari masalah. Eits bukan maksudnya jadi menghindar dari masalah ya. No..No.. Maksudnya gini lho kalau lagi ada masalah kita kan bawaannya ruwet gitu ya mikirin masalahnya. Sedangkan masalah itu butuh dikasih solusi kan bukan cuma dipikirin. Ketua himpunan saya dulu waktu kuliah bilang, "Jangan fokus sama masalahnya, tapi fokus sama solusinya." Dan untuk memikirkan solusi kita butuh kepala dingin yang itu nggak kita dapatan kalau cuma fokus ke masalahnya. Kalau itu sih yang ada makin pusing. Nah terapi syukur ini dibutuhkan untuk mendinginkan otak kita yang panas biar adem. Nyesss.... hehehe Selain itu, SELALU berpikir positif atau khusnudzan pada Allah juga menjadi bekal wajib yang kita kantongi ;)

Dinamika kehidupan adalah sunatullah, atau bahasa universalnya mah hukum alam. Nggak akan ada hidup yang bahagiaaaaa terus atau sedihhhhhh terus. Naik, turun, semua punya periodenya masing-masing. Cuma kebanyakan kita siap untuk fase naik nya aja tapi nggak siap mental saat disatronin fase turun. Sebagai seorang yang beriman kita harus selalu siapkan senjata syukur saat fase naik dan sabar saat fase turun.

Karena Allah memang Maha Baik banget, sebenarnya Allah menguji kita agar kapasitas diri kita meningkat. Syaratnya, kita harus berhasil melewati ujian tersebut. Tapi sayangnya banyak dari kita yang memilih untuk hanya mengeluh, terus putus asa di tengah jalan, dan malah menjauh dari sumber solusi. Siapakah sumber solusi? ya Allah, nggak ada lagi. Akhirnya bukan menaikan tapi jadinya menurunkan kapasitas diri. Naudzubillah mudah-mudahan nggak kejadian sama kita ya. Ngeri :(

Menceritakan ini bukan berarti i'm being Mrs. Right. Nope. as always, i just DO want to share hal menakjubkan atau pengalaman luar biasa yang dialami. Dan kali ini tentang terapi bersyukur yang Masya Allah sangat mujarab. Semoga kedepannya tulisan ini bisa menjadi self-reminder dan bilang.. "hey lihat, dulu kamu pernah mengalami galau kehidupan juga, kamu bisa melewatinya..ini lho obatnya." dan semoga bisa membantu meringankan teman-teman yang lagi ngerasa berat banget ditimpa beban masalah aamiin :)

Semoga Bermanfaat :)
Diny Gustini
@dinott

November 24, 2013

Lullaby

Pekat malam menyuguhkan sebuah keheningan. Tubuh telah terbaring nyaman beralaskan kasur empuk. Namun mata masih enggan terpejam. Imajinasiku terbang bebas menembus segala batas. 

Kini kedua indra penglihat tengah tertuju pada deretan foto tempat-tempat yang belum terjamah. Mereka terhimpun dalam selembar karton yang tertempel tepat di depan tempat tubuh ini berbaring. Dia diam tapi berbicara. Ia tak lelah bercerita tentang mimpi melalui gambar-gambar. Keyakinan telah memberi mereka nyawa.

Kemudian samar terdengar sebuah nada indah. Simfoni yang begitu sempurna untuk menemani imajinasi yang masih menikmati penerbangannya ke negeri tanpa batas. Ku dengarkan dengan baik, ternyata keindahan simfoni itu berasal dari dentuman hati. Dan seketika menyebutkan satu nama yang hanya hati dan Sang Penggenggam hati yang tahu.
Dia mencoba bergabung bersama selembar karton berisi gambar dan mulai menaiki armada yang sama untuk ikut terbang ke negeri tanpa batas.

Sebuah perjalanan indah menggunakan maskapai penerbangan bernama Lullaby. Dikendarai seorang pilot bernama Imajinasi. Menuju Negeri tanpa batas.



dan Negeri Tanpa Batas itu bernama mimpi. 

November 20, 2013

Sekilas Tentang Mimpi

Kalau merasa hidup ini adem ayem lempeng-lempeng aja, berasa nggak asik, datar, membosankan, mungkin kalian perlu sejumput stimulus hidup bernama mimpi. Ini bukan tentang mimpi saat mata terlelap. Tetapi mimpi yang selalu menemani bahkan di saat mata terbuka.

Mimpi itu gratis tapi banyak orang takut memilikinya. Ada yang beralasan takut nggak terwujud. Ketahuilah bahwa rasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi itu lebih menakutkan dari apa yang ditakuti. Rasa takut itu menahan langkah kaki untuk maju. Akhirnya memilih untuk berpuas dengan keadaan saat ini dan hasilnya hidup jadi membosankan.

Fase takut bermimpi juga pernah saya alami karena dulu yang dijadikan dasar adalah kapasitas diri saya. Jelaslah banyak ketidak mungkinan yang kemudian membuat saya hidup apa adanya. Go with the flow, ceunah. Sampai akhirnya saya disadarkan tentang keyakinan 100 persen tanpa kurang pada Sang Maha Kuasa. Manusia memang dibatasi dengan kekurangan, tapi Allah tidak. Apa yang perlu kita lihat saat menyusun mimpi adalah kapasitas Allah yang Maha Luas bukan kapasitas kita.

Mulailah saya menyusun mimpi-mimpi. Wah ternyata asik banget. Membayangkannya saja udah bikin senyum-senyum sendiri. Rasanya jadi ada dorongan untuk selalu bersemangat. Nah, jika teman-teman merasa hidup teman-teman membosankan, cobalah untuk menyusun mimpi! Mimpi itu gratis, bebas, nggak beraturan. Jadi nggak usah takut. 

Ciri mimpi itu adalah di atas kapasitas diri kita. Kalau dalam kapasitas diri sih namanya rencana. Misal saya punya uang seribu pengen ke warung, itu namanya rencana. Kalau dengan uang seribu itu saya ingin pergi ke Mekah dan keliling dunia nah itu baru mimpi ;) Jangan takut mimpi kita diketawain orang, malah katanya kalau belum diketawain itu bukan benar-benar mimpi. Dan banyak orang yang pada awalnya ditertawakan malah akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Tapi tentu saja melalui kerja keras. Hidup ini bukan mie yang bisa dibikin instan ;)

Ayooo segera susun mimpimu dan rasakan sensasinya. Hidup menjadi lebih bersemangat, lebih bermakna, lebih terarah, dan lebih mengasikan!

Semoga bermanfaat :)
NB : postingan ini adalah prolog Hijrah Story saya yang keempat dan terakhir, yaitu Dreams! Tunggu tanggal mainnya ;D

November 17, 2013

Hati-Hati Dalam Menasihati

Mengapa kita diberikan dua telinga dan satu mulut? Karena kita harus lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Sering banget pasti kan mendengar kalimat itu. Ternyata memang tidak diragukan lagi kebenarannya guys! :) Beberapa pengalaman hidup mengajari saya langsung tentang hal ini.

Saya pernah ngobrol sama seorang teman yang katanya susah dinasihatin, sebut saja si A. Waktu itu dia cerita tentang keluhannya diperlakuin nggak enak sama teman lain, yaitu dinasihatin dengan cara marah-marah. Kedua telinga saya buka lebar-lebar untuk mendengar semua keluhan terpendamnya. Berdasarkan ceritanya sih memang A ini melakukan kesalahan, tapi saya dengerin dulu aja sampai dia mengeluarkan semua unek-uneknya. Akhirnya saya coba tengahin, sebenarnya teman-temannya itu peduli cuma caranya yang salah. Terus saya coba luruskan juga tentang kesalahannya. Apa yang saya bilang sama si A ini sebenarnya sama aja dengan apa yang dikatakan teman-temannya. Cuma cara menyampaikannya yang  dibedain. Dan si A bilang inilah yang dia inginkan. Dia ingin  teman-temannya itu nanya dulu lah kenapa bisa melakukan hal itu, dengarkan dulu alasannya, bukan langsung dibombardir dengan kalimat-kalimat penuh amarah. Nah kan terbukti pentingnya mendengar :)

Asal comment, sembarang menjudge, main marah-marah tanpa tahu pasti apa masalahnya adalah hal-hal yang mungkin tanpa kita sadari sering kita lakukan. Itulah saat dimana kita menutup kedua telinga kita rapat-rapat dan membiarkan mulut yang sebenarnya kalah jumlah sama telinga buat bekerja tanpa pikir panjang. Dan sebenarnya hal ini bisa dipastikan kelakuan yang positif.....nyebelin. hehehe Jadi sikap-sikap di atas wajib kita waspadai dan hindari.

Kenapa sih kita bisa melakukan hal-hal positif nyebelin itu? Pertama, karena kita merasa betul atau lebih tepatnya so betul, ditambah dengan jiwa so tahu alhasil mulut kita ngomong seenaknya aja. Asal bunyi. Walaupun bisa jadi apa yang dikatakan memang benar, tapi kedengarannya ngga enak dan jadi males aja buat didengerin. 

Penyebab kedua adalah faktor "nggak suka". Biasanya saat kita nggak suka sama seseorang semua yang dilakuin dia selalu terlihat salah di mata kita. Kalau dia ngelakuin kesalahan dikit wih langsung nyerocos persis kayak komentator bola. Terus beluber ngomongin borok-boroknya. Diakhiri dengan so menasihati menggunakan kata-kata pedas level 10. Saking pedasnya bisa sampai keluar api tuh dari mulutnya. Menyeramkan sekali. Padahal di saat orang lain melakukan hal yang sama, kita nggak seheboh itu nanggepinnya. Biasa aja, datar.. kayak ekspresi mukanya si brown boneka Line. Ini bahaya banget karena kita udah kehilangan unsur objektif dalam menilai dan menasihati. 

Maka kita perlu menghindari dua hal di atas agar kita nggak jadi manusia yang asal bunyi, suka berkomentar negatif, menjudge orang mentah-mentah, dan marah-marah nggak jelas. Jangan harap saat kita menasihati atau mengingatkan orang lain dengan cara-cara sesat tersebut, maka dia akan menerima dengan enak lalu seketika berubah menjadi anak baik yang penurut. Yang ada dia bakal males dengerin. Dan memang begitu juga yang saya rasakan. Bukannya mengikuti apa yang dikatakan malah jadinya males dan nggak respect. Makanya saya selalu berusaha untuk nggak melakukan itu ke orang lain. 

Dari pengalaman pribadi dan orang lain saya pun belajar untuk menahan mulut dan membiarkan kedua telinga bekerja terlebih dahulu. Untuk berkomentar kita membutuhkan cukup informasi biar nggak nyerocos nggak bermutu. Dan untuk mendapatkan informasi itulah kita butuh banyak mendengar. Jika kita belum betul-betul paham duduk permasalahannya maka tahanlah dulu sebentar mulut kita untuk ngasih komentar. Saya juga pernah tuh main seruduk asal bunyi, nada bicara langsung tinggi, nyerocos so betul. Eh taunya setelah mendengar cerita jelasnya saya jadi malu sendiri karena ternyata apa yang saya pikirkan itu salah. hahaha jadinya gendok bin malu abis :D 

Jadi saat kita dihadapkan dengan suatu masalah, hal pertama yang harus dilakukan adalah tahan emosi. Don't let emotion take control of you, you're the one who control your emotion. Kemudian bukalah telinga selebar-lebarnya. Belajar mendengar. Setelah kita betul-betul paham jenis permasalahannya seperti apa barulah mulut kita bekerja. Dan jangan lupa fungsi otak kita untuk berpikir. Akal dan pikiran berfungsi untuk menyaring informasi yang kita terima lewat telinga, jadi saat mendengarkan kita bisa menilai secara objektif. Jangan sampai kita membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Selain itu, gunakan pula pikiran kita untuk memilah perkataan yang hendak keluar dari mulut agar pesannya tersampaikan dengan benar. Ingatlah pesan Rasulullah Muhammad SAW :

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Coba telanlah dulu kata-kata yang akan kita keluarkan. Kalau rasanya pait, maka diam jauh lebih baik :)

Ada satu hal lagi yang penting, yaitu libatkan hati. Apa yang datang dari hati maka akan sampai ke hati juga. Tapi jika datangnya dari ego maka akan sampai pula ke ego, jadinya perang ego deh. Akhirnya masalah malah bertambah rumit. Bakalan kerasa beda lho orang yang menasihati dengan melibatkan hati dan yang nggak melibatkan hati. Orang yang nggak melibatkan hati inilah yang cenderung meledak-ledak kayak gunung berapi meletus. Sereeeem man! Berbeda dengan orang yang melibatkan hati, ia menasihati benar-benar atas dasar kepedulian, penyampaiannya akan enak didengar sekalipun ada ketegasan didalamnya. Jadi perlu diwaspadai nih kalau kita menasihati orang lain dengan cara anarkis marah-marah membabi buta. Apa bener tuh kita peduli? Atau cuma bentuk penyaluran emosi berbalut so peduli? Mari kita evaluasi ;)


Semoga Bermanfaat :)
@dinott

November 9, 2013

Bingung bin Galau

Berdoa sehabis shalat adalah "curhat time" saya dengan Sang Maha Mendengar. Jangan membayangkan berderet doa puitis yang terlontar. Bayangkan saja saat kalian bercerita panjang lebar tanpa titik koma bersama sahabat terdekat kalian. Nggak pake bahasa baku-bakuan, all out. Nah begitulah kira-kira kondisi saya saat curhat kepada Dia yang Maha Mengerti segala keadaan hati.

Biasanya semua curhatan keluar gitu aja mengalir. Tak jarang sampai nangis senggukan. Dan pasti kalau udah beres curhat sama Allah hati itu tenaaaaaaaaaaaang banget. Sejuk. Damai. Ah, pokoknya priceless

Tapi kemarin-kemarin seperti ada yang mengganjal. Kedua tangan saya sudah menengadah. Keadaan udah benar-benar siap untuk....berdoa tentunya, bukan untuk minta-minta di pinggir jalan. Mulut seketika membisikan lantunan dzikir rutin sehabis sholat. Sambil mencoba menghayati dengan menterjemahkan tiap katanya. 

Saat tiba "curhat time" saya bingung. Otak sesak dengan segala pikiran-pikiran yang entah apa. Untuk sekedar mengatakan apa yang dirasakan saja rasanya sulit sekali. Benar-benar bingung. Bukan ketiadaan masalah yang membuat keran curhat saya mogok nggak mengalirkan cerita. Karena nyatanya banyak sekali hal yang mengganjal. Tapi nggak tahu apa. Pernah nggak sih merasakan itu? Kalau saya sih jujur ini bukan pertama kalinya.

Saat bersosialisasi, profesionalitas adalah prioritas. Artinya, saya berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. karena menunjukan muka kusut pun nggak bikin semuanya beres. Malah menambah daftar panjang kebingungan, soalnya bingungnya dibagi-bagi sama yang lain. Ah ogah deh, bukannya ngasih manfaat sama orang eh ini malah ngasih kebingungan. Kan kasian yang lain, nggak tahu apa-apa tapi dapet jatah muka kusut saya.

Ajaibnya suatu malem dua temen saya ngesms dan ngewhatsapp nanyain saya kenapa. Mungkin kalau di tambah ada yang ngeline, kakao talk, we chat, lebih rame lagi. BBM? saya nggak punya (ngga sukses nginstallnya). Kedua temen saya ini bilang katanya keliatan suka ngelamun kayak mikirin sesuatu. Duh penyamaran saya gagal. 

Penyamaran yang gagal itu nggak bikin saya curhat meluber ke dua temen saya itu. Ya karena saya sendiri pun bingung mau cerita apa? Karena apa yang dipikirin pun nggak tahu. Kondisi ini tuh positif bikin bingung taraf internasional. Kalau tahu masalahnya saya bisa langsung memikirkan solusinya, tapi kalau masalahnya aja bingung saya jadi bingung juga mencari cara untuk mengatasinya.

Akhirnya, pagi ini sehabis shalat subuh, saya putuskan curhat lagi sama Allah. Saya cerita aja kalau saya bingung. "Ya Allah, aku teh kenapa ya? what is happening to me? hamba bingung. i think i lost my path." Berhenti beberapa detik karena bingung mau cerita apa, tapi rasanya pengeeeen banget ngeluarin semuanya. Lalu saking bingungnya, saya ubah doanya menjadi : "Ya Allah karuniakanlah hamba ketenangan." Logika saya bilang permintaan itulah yang paling pas dan bisa menangkis semua kegalauan nggak jelas saya akhir-akhir ini. Dan ternyata memang benar.....

Seusai sholat, saya ke dapur menemani mamah yang lagi siap-siap mau masak. Tiga buah gelas saya siapkan untuk menampung aliran dua susu coklat cair untuk saya dan teteh, sisanya akan menjadi tampungan butiran kopi untuk mamah. Dalam acara pembuatan  tiga gelas minuman itu, tiba-tiba terlontar sebuah pertanyaan mamah. "De, kalau misal...misal ini mah ya, ade jadi nerusin kuliah terus kerjanya gimana?" 

Menanggapi pertanyaan itu, sontak berderet kalimat keluar dari mulut saya. Dari mulai alasan, rencana, lengkap dengan tempat saya jika mau nerusin kuliah. Kemudian merembet tentang saya yang kurang sreg dengan jurusan yang dulu saya ambil. Keinginan saya untuk melanjutkan S2 dan pindah jurusan. Semuanya keluar. Semuanya. Sampai nada bicara saya sedikit berubah, melambat, dan bergetar. Mata mulai hangat. Dan acara curhat bersama mamah (tanpa Dedeh) pun berakhir karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan saya harus segera mandi dan bersiap berangkat lembur.

Di kamar mandi saya nangis, masih efek dari acara curhat. ternyata oh ternyata inilah yang mengganjali pikiran saya selama ini. melihat teman-teman yang kerja sambil kuliah, bahkan ada yang akan resign, untuk mengejar mimpinya membuat saya iri. Iri positif in shaa Allah. Mulailah kebingungan itu datang. Karena saya pun ingin, ingin sekali kembali menimba ilmu. Tapi seperti yang udah saya bahas sebelumnya, saya ngerasa ngga sreg sama jurusan yang diambil saat D3. Kata anak gaul sih, "nggak gue banget". Setelah menapaki jalan kehidupan yang berliku saya sadari bahwa Psikologi sepertinya lebih cocok. Tapi dari D3 teknik kimia ke S1 psikologi itu jelas nggak bisa. Alhasil jalan satu-satunya adalah meneruskan S1 di teknik kimia dulu kemudian mengambil S2 psikologi. wait? 2 years more with engineering world? *nangis di pojokan*

Kegalauan ini sebenarnya sudah bercokol lama, mengendap di otak dan merembet ke hati. Saya sempat berpikir untuk nggak nerusin kuliah. Walau sebenarnya pengen banget mempelajari dan memperdalam ilmu yang saya minati dan sesuai dengan bakat. Tapi dua tahun bergelut di dunia teknik kimia nya itu lho yang bikin berat. Akhirnya kemarin lumayan dapet pencerahan Alhamdulillah. Ada temen saya yang nerusin ke S1 Teknik Industri dan katanya Teknik Industri ini lebih ke manajemen Industrinya dan nggak teknik banget.  Hati saya bilang kayaknya ini bisa menjadi opsi menghabiskan dua tahun saya meneruskan S1. Aha! Ngga tahu juga sih tapi, saya masih harus terus menggali informasinya. Selain itu, dibutuhkan pula pemikiran matang. Nggak boleh kebawa mainstream karena temen-temen pada nerusin terus saya ngekor. Ohohohoho jelas itu alasan yang salah besar.

Walaupun cita-cita saya adalah menjadi ibu rumah tangga profesional yang setia melayani suami dan anak dengan baik, nggak membuat saya menghentikan keinginan untuk belajar. Justru malah setelah lulus kuliah saya menyadari pentingnya mencari ilmu. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti nggak boleh sekolah tinggi-tinggi. Perempuan adalah aset berharga agama, bangsa, dan keluarga. Dan dalam keluarga, seorang Perempuan (Ibu) akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ditambah jaman yang akan terus berkembang. Anak-anak bisa lebih canggih dari emak dan bapaknya. Jika kita nggak bisa ngimbangin kan bahaya.

Lalu apa harus sekolah formal? Pribadi saya sih berpendapat nggak harus. Bukan masalah formal nggaknya tapi mencari ilmunya. Dan ilmu itu ada dimana-mana asal ada kemauan untuk terus menggali pasti mudah ketemu. Maka rajinlah membaca, berdiskusi dengan teman, dan beribu cara lain untuk memperoleh ilmu. Luaskan wawasan kita, jangan kuper. 

Sebelum cerita ini berakhir seiring dengan berakhirnya pencarian penyebab kegalauan, saya pun menyadari satu hal yang sukses membuat saya menangis terharu. Kalian tahu, ada yang menggerakan mulut mamah untuk melontarkan pertanyaan pamungkas tadi. Pertanyaan yang membuat semua yang saya bingungkan keluar mengalir deras. Dan yang menggerakan adalah... Allah. Allah mengabulkan doa saya kawan, saya meminta ketenangan dan Allah seketika memberikannya :')

Sekarang nggak ada acara bingung lagi. Semuanya udah jelas, nggak samar lagi. Hati dan pikiran menjadi jauh lebih tenang.. Allah yang telah mengaruniakan ketenangan itu. Subhanallah. Walaupun belum ada keputusan pasti sebagai jawaban dari soal perkuliahan ini tapi setidaknya saya tahu apa yang selama ini mengganjal. ditambah dengan ketenangan yang Allah kasih semuanya menjadi lebih ringan. Alhamdulillahirabbil'alamin :)

Duhai jiwa, ternyata memang hanya Allah Yang Menggenggam Segala. termasuk ketenangan yang menjadi nutrisimu duhai jiwa. 

"Ya Rabb, terima kasih...you always be there for me.  Ya Allah, semua sudah jelas kini. Rencana sudah mulai tersusun walau belum rapi. Tapi hamba nggak sanggup ya Rabb, hamba nggak akan pernah sanggup kalau sendirian. Maka bersamailah setiap langkah hamba Ya Rabb. TanpaMu, aku hampa. Without You i am nothing."


Semoga Bermanfaat :)
@dinott
Free Blog Template by June Lily