December 28, 2013

Hijrah Story 4 : Dreams

Seri Sebelumnya :
My Story : Jalan Hijrahku (Prolog)
Hijrah Story 1 : Pakaian
Hijrah Story 2 : Love Life
Hijrah Story 3 : Passion


“Untuk apa lah punya cita-cita tinggi? Lihat deh siapa sih kamu? Orang biasa aja kayak kamu itu nggak pantes punya mimpi.” Duh, serem ya baca kata-katanya. Dan yang lebih menyeramkan adalah kalimat tersebut bukan berasal dari orang lain, tapi dari saya dan untuk diri saya sendiri.

Bagi orang yang menjalani hidup apa adanya, cukup puas dengan hidup si satu zona nyaman, dan tidak terlalu menyukai tantangan, memiliki mimpi atau cita-cita adalah sesuatu yang tidak terpikir sama sekali dan dulu sih rasanya nggak perlu juga punya mimpi atau planning hidup jarak jauh. Sehingga dihasilkan lah hidup yang datar-datar aja. Bahkan dulu itu, bermimpi untuk pergi ke Mekkah saja rasanya berat sekali. Parah banget kan? hehe

Hal tersebut berlangsung cukup lama, 20 tahun hidup saya jalani tanpa mimpi. Sampai Allah kirimkan petunjukNya yang sangat menampar saya cukup keras, yaitu ketika saya mempelajari modus Hidup Yakin pada saat mengikuti training Muda Mulia. Saat itu diputar sebuah video yang menggambarkan keMaha Kuasaan Allah Sang Pencipta alam semesta. Ditampilkan bintang-bintang ciptaanNya dari yang terkecil sampai yang terbesar. Dan bintang yang paling besar itu jika dibandingkan dengan bumi, ukurannya 21 kali lipat lebih besar! Bayangkan! Dari visualnya terlihat bumi seperti titik kecil saja saat dibandingkan dengan benda angkasa tersebut. Dan bisa teman-teman bayangkan, bumi saja terlihat begitu ciut, apalagi kita?

Kang Rendy mencoba memperbaiki kesalahan fatal mindset para peserta, khususnya saya, yang bisa jadi selama ini ragu untuk bermimpi, merasa nggak pantes, dan merasa nggak mampu untuk mencapai mimpi. Karena tanpa kita sadari saat itulah kita meragukan keMaha Besaran Allah, meragukan keMahaKuasaan Allah. Allah mampu lho menciptakan bintang yang sebegitu besarnya dengan sangat mudah, terus kenapa kok kita tega-teganya meragukan kekuasaan Allah untuk mengabulkan mimpi kita yang nggak seberapa dibanding dengan menciptakan sebuah benda angkasa yang super besar? Tamparan ini sangat kuat sekali hingga saya menangis sejadi-jadinya. Mengingat ternyata saya selama ini hidup dalam keraguan akan kebesaranNya. Astaghfirullahaladzim :’(

Disitulah titik dimana saya benar-benar merombak habis mindset saya tentang impian. Ternyata selama ini rasa takut untuk bermimpi itu terjadi karena saya selalu melihat kapasitas diri yang memang terbatas. Dan fatalnya saya lupa bahwa bukan kapasitas diri yang menjadi acuan saat kita menyusun mimpi dan cita-cita, tetapi kapasitas Allah yang begitu besar dan tanpa batas lah yang harus dijadikan patokan. Mungkin bagi kita banyak hal yang mustahil, tapi tidak bagi Allah. Kun Fayakun.

Saya pun disadarkan bahwa sejatinya mimpi memang seharusnya ada di atas kapasitas kita, jika tidak maka itu namanya rencana. Tanpa disadari saat kita berusaha untuk mewujudkan mimpi maka secara otomatis kita sedang menaikan kapasitas diri. Maka orang yang memiliki mimpi dan selalu berjuang untuk meraih mimpinya, seluruh bagian dalam dirinya akan terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Alhamdulillah, kini saya sudah keluar dari zona “scare to dream dan memasuki zona “dare to dream”. Memiliki mimpi itu sama dengan memiliki tujuan hidup. Jika tujuan hidup sudah dimiliki maka kita nggak bakalan lagi mengalami kebingungan... mau dibawa kemana hubungan kita~  lho? Hehehe Maksud saya kita nggak bakalan bingung lagi mau dibawa kemana kah hidup ini? Dengan tujuan yang jelas maka akan semakin jelas arah langkah kita. Bermimpi juga membuat hidup lebih berenergi dan berpikir beribu kali untuk menyia-nyiakan waktu.

Perjalanan ini membimbing saya untuk mulai menetapkan mimpi-mimpi yang ingin saya raih,  diantaranya :

  • Menjadi Penulis Inspiratif yang karyanya mampu mendorong orang lain tergerak untuk terus berusaha menjadi lebih baik di mataNya. Dan kelak mampu menjadi pemberat timbangan amal dan menaikan derajat diri di hadapanNya
  • Mendapatkan beasiswa S2 psikologi di luar negeri
  • Menjadi inspirator dan konselor bagi anak dan remaja untuk mengenal Allah sejak dini
  • Beribadah haji dan umrah ke Mekkah bersama keluarga dan berziarah ke Makam Rasulullah SAW ke Madinah
  • Keliling Eropa bersama pasangan hidup, terutama mengunjungi negara-negara yang ada di buku 99 Cahaya di Langit Eropa (Istanbul, Paris, Wina, Cordoba, Granada).

dan masih banyak lagi sebenarnya, Daftar di atas hanyalah gambaran umum mimpi saya. Kalau ditulis semua bisa-bisa jadi novel. Hehehehe Bismillah..semoga kolaborasi antara usaha saya dengan keMaha Kuasaan Allah mampu mengubah mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan aamiin :’)

Satu hal yang harus diingat, jangan takut mimpi kita ditertawakan orang, malah katanya kalau belum ditertawakan itu bukan benar-benar mimpi. Dan banyak orang yang pada awalnya ditertawakan malah akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Tapi tentu saja melalui kerja keras. Karena hidup ini bukan mie yang bisa dibikin instan ;)

“Rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya. Sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.”
(Paulo Coelho, The Alchemist)

 Jadi, tunggu apa lagi? Ayo segera susun mimpimu dan kejarlah! Dream, Pray, and Action..




Semoga Bermanfaat :)
Diny Gustini
@dinott

Comments:

Post a Comment

Free Blog Template by June Lily