December 30, 2013

Hijrah Story : Epilog (End)


Seri Sebelumnya :
My Story : Jalan Hijrahku (Prolog)
Hijrah Story 1 : Pakaian
Hijrah Story 2 : Love Life
Hijrah Story 3 : Passion
Hjrah Story 4 : Dreams


Setelah hampir setengah tahun berjuang untuk coba membagi kisah perjalanan hijrah, terutama berjuang melawan rasa malas yang sering menggoda saat mau mulai nulis, Alhamdulillah akhirnya Hijrah Story saya tuntas :) Menuliskan perjalanan hijrah ini sama dengan menarik kembali segala memori tentang perjuangan yang telah dilalui. Berat, berliku, tapi itulah yang membuatnya indah dan bermakna. Jika melihat hasil yang telah digenggam rasanya tidak sedetik pun berpikir untuk menyesalinya. 

Perjalanan hijrah ini telah menuntun saya untuk jauh lebih mengenal Allah dan juga memahami kasih sayangNya. Ketika saya mengenal Allah lebih dalam, timbul rasa ingin terus menerus melakukan hal-hal yang disukaiNya, menjauhi apa yang dimurkaiNya, dan melakukan segala sesuatu hanya untukNya. Sehingga, saya memutuskan untuk mengenakan hijab yang sesuai dengan perintahNya, berhenti menjalin hubungan tak halal, berusaha menemukan dan mengasah passion saya agar kedepannya mampu memberi manfaat, mulai menyusun mimpi sebagai bentuk keyakinan penuh atas keMaha KuasaanNya, juga berusaha memaknai hidup serta menjauhi kesia-siaan. Jadi bisa dikatakan bahwa perjalanan menemukan Allah itu akan otomatis menuntun kita untuk menemukan diri yang lebih baik. 

Perjalanan Hijrah ini bukan tentang menunggu hidayah. Sungguh, bukan tentang itu. Tetapi hijrah adalah sebuah kerelaan diri untuk membuka hati dan pikiran agar mampu memahami setiap petunjukNya serta kesediaan untuk berjalan menuju cahayaNya. Pernah lihat orang yang sudah dinasehatin berkali-kali tapi tetap tidak peduli? Bukan belum datangnya hidayah penyebab utamanya, tapi  tidak adanya keinginan membuka hati dan pikiran untuk menerima cahayaNya lah yang membuat dia begitu. Kemudian munculah alibi untuk menyamarkan hal tersebut dengan menyebutnya “Menunggu Hidayah”. Jika hanya berdiam menunggu, jika tetap memutuskan menutup hati dan pikiran, bagaimana bisa berubah menjadi lebih baik di mataNya? Allah berfirman;
 “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.”
(Q.S Ar-Ra’d :11)
Jelas sekali Allah menginginkan kita melakukan usaha untuk berubah menjadi lebih baik. Menunggu bukan jawaban. Hal yang perlu diwaspadai lagi adalah ada batas yang sangat tipis sekali antara tidak tahu dan tidak mau. Jangan sampai kita berpura-pura tidak tahu untuk menutupi ketidakmauan kita memenuhi seruanNya.

Ada satu pertanyaan penting juga yang harus ditujukan pada diri kita sendiri saat berhijrah. Sebenarnya kepada siapakah ditujukan hijrah ini? Dan untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengingat satu sabda Rasulullah SAW ;
Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya sampai pada Allah dan RasulNya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia inginkan atau karena wanita yang ia ingin nikahi maka hijrahnya sampai apa yang ia niatkan.
(HR. Bukhari)
Semua tergantung niat, dan kita harus selalu menjaga niat hijrah kita hanya karena Allah agar tidak sia-sialah semua perjuangan yang telah dilalui. Sehingga hijrahnya tidak hanya merengkuh kebahagiaan dunia tapi juga akhirat; Hijrahnya tidak hanya mengakibatkan kita diakui penduduk bumi tapi juga dicintai penduduk langit. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus :)
 
Kisah ini mungkin telah sampai pada sebuah akhir, tapi sejatinya perjalanan hijrah tidak akan pernah mengenal akhir. Berhenti untuk berhijrah berarti berhenti berusaha untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Hijrah adalah perjalanan seumur hidup. 

Semoga #JalanHijrahku ini mampu menjadi inspirasi bagi setiap langkah yang tertahan ragu untuk berhijrah, mampu menjadi cheerleaders bagi setiap hati yang sedang dilanda rapuh ditengah perjalanan hijrahnya, dan mampu menjadi cermin agar tidak mengikuti jejak kesalahan saya di masa lalu.
“Belajarlah dari kesalahan orang lain.Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri”
Martin Vanbee
And last but not least, semoga #JalanHijrahku ini mampu menjadi pemberat timbangan amal kelak saat setiap butir perbuatan dipertanggung jawabkan dihadapanNya. Aamiin :’)

Salam,
Diny Gustini
@dinott

Comments:

Post a Comment

Free Blog Template by June Lily