“Eeeh dinot, meuni pangling”.
“dinot, Alhamdulillah sekarang jilbabnya udah
panjang”
Dan sapaan lainnya yang sering saya temui saat
bertemu dengan orang-orang. Hehehehe biasanya pernyataan pernyataan tersebut
diakhiri dengan pertanyaan gimana saya bisa jadi sampai sekarang? Kok bisa ya? Jadi,
ijinkan saya bercerita sejarah perubahan saya dalam hal berpakaian..
*jeng jeeeeeng....* *drum roll*
*jeng jeeeeeng....* *drum roll*
by the way, kisah ini adalah kisah sambungan dari postingan saya sebelumnya, ayooo yang belum baca tengok dulu yaa link berikut My Story : Jalan Hijrahku (prolog)
jadi... pakaian saya dulu...heem ya seperti remaja pada
umumnya. memakai jeans ketat atau yang dikenal dengan sebutan "skinny
jeans" ke atasan kemeja atau kaos. Kadang kalau kemejanya kepanjangan
malah suka saya masukin ke dalam celana, style style tahun 80an itu lhoo, jamannya
mamah dan bapa saya lagi falling in love kyknya.hehehe yaaa pokoknya secara
garis besar saya cenderung memakai pakaian yang casual dan masih menampakan
dengan jelas lekuk tubuh saya, alhamdulillah kerudung masih melekat walau tidak
menutup dada. kalau istilah teh pepew mah "jilbab lontong" hehehehe
kaki juga masih dipamerin kemana mana alias nggak pake kaus kaki.
Titik baliknya dimulai saat.... suatu hari, temen
saya di tag suatu note di facebook dengan judul "kerudung tidak cocok dipasangkan dengan jeans" singkatnya di
note tersebut dijelaskan bahwa selayaknya muslimah tidak menggunakan celana
jeans ketat yang menampakan lekukan tubuh. esensi berpakaian kan untuk menutupi
aurat, tapi kalau cuma dibungkus kan tetap keliatan jelas bentuknya. saya pun
mulai berpikir.... "iya juga ya" dan membiasakan pakai rok dengan kerudung yang masih tidak menutupi dada hihi
*nyengir*
Sebenernya beberapa hari sebelum saya baca note
tersebut saya juga kadang memakai rok, dan saya ngerasa nyaman. Sempat
terbersit untuk sering pake rok kedepannya dan Allah takdirkan ketemu sama note
tersebut. PAS! Saya pun semakin mantap jadi rok-ers :)
Hari-hari kedepannya saya jalani hari dengan ditemani
rok dalam setiap kegiatan yang memungkinkan ada lawan jenis atau yang bukan
muhrim. Kalau di dalem rumah mah yaa pake celana aja, apalagi pas tidur kan ga
enak kalau tidur pake rok. Hehehehe :d
sampai kutemukan, saya yakin ini bukan kebetulan.
Suatu hari, masih di ranah facebook. (thanks mark zukerberg for your product)
Allah takdirkan saya membaca suatu hadits yang di share salah seorang teman
saya. Bunyi haditsnya adalah sebagai berikut:
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku
lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan Para
wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka
seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan
tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan
sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Pada awalnya saya belum begitu paham dan sekedar
ber “oh” ria saat membaca hadits tersebut. Tapi kemudian, di beberapa hari
selanjutnya saya terus menemukan (dipertemukan) dengan hadits tersebut. Saat
saya sedang berada di toko buku bersama sahabat saya, saya temukan kembali
hadits tersebut di cover depan sebuah buku...! i am sure this is what they call
“Allah’s sign”. Pada saat itu saya yakin itu bukan kebetulan, kuberanikan diri
bertanya pada sahabat yg menemani saya. Yang saya tanyakan adalah
“beb (panggilan saya buat sahabat saya), kalau
**** (nama teman saya yang jilbabnya panjang) keliatan ngga sih sanggul
rambutnya?”
“heeeem, ngga beb.” Jawab sahabatku segera.
Saya pun mengerti oooh mungkin itu maksudnya
puntuk unta. Karena memang saya sadari, ketika kita menyanggul rambut, itu bisa
membuat lawan jenis menerka seberapa panjang rambut kita. Mungkin sebagian dari
temen-temen ada yang berpikir, “ah, nggak mungkin ada lah. Masa iseng banget
sih cowok nyampe segitunya.” Eit eit jangan salah, saya udah pernah survey
langsung dari seorang teman laki-laki dan jawabannya “ya”. Apalagi sekarang
model kerudung paris kan tipis bangeeeet tuh, kalau pake sanggul tinggi tinggi
pas kena sinar tuh jelassss banget keliatan rambut kita. Nah makanya, mulai
saat itu saya putuskan untuk tidak menggulung rambut ;)
Ternyata, dengan tidak menggulung rambut,
kerudung melebar dengan sendirinya. Ini bukan mistis pemirsa haha tapi, dengan
menghilangkan sanggul rambut maka bagian kerudung yang biasanya tertarik akan
terulur. Saya mematut diri dan berkata pada sosok saya dicermin dalam hati,
“wah sekarang udah kayak jilbaber” hehehe tapi perasaan saya waktu itu senang
dan tenaaang rasanya :)
Langkah saya semakin mantap ketika membaca
kultwit nya ustadz Felix Siauw. Di linimasa nya beliau membahas, mengkupas
tuntas, membabat, membeberkan dengan jelas tentang hadits ini. Untuk keterangan
lebih lanjut silahkan hubungi dokter.. #eh, maksudnya periksa ke klinik tong
fang #oops no no no, cuma intermezzo hehehe sila di cek ke http://chirpstory.com/li/7525 untuk
lebih jelasnya ;)
Saya mencoba merangkai segala runutan kejadian
yang terjadi, segala pecahan puzzle yang mulai saya temukan satu persatu. Saya
sadar Allah sedang menuntun saya untuk menjadi seorang hamba yang lebih
memahami perintahNya dan tentu saja mengamalkanNya.
Memang sudah sejak lama saya pakai kerudung, tp masih kayak lontong hehehe dengan lekukan tubuh yang masih bebas dipandang mata. Esensi hijabnya belum dapet.
Memang sudah sejak lama saya pakai kerudung, tp masih kayak lontong hehehe dengan lekukan tubuh yang masih bebas dipandang mata. Esensi hijabnya belum dapet.
Dulu saya sempet mikir sama mereka yang lebih sempurna hijabnya, kalau mereka
berlebihan atau bahasa gaulnya mah lebay. Dalam pikiran awam saya dulu, “udah
deh yang penting di kerudung.” Nah itulah contoh amal tanpa ilmu. Jadi sekenanya,
yang penting ngelakuin and case closed.
Hasil observasi pribadi saya dari beberapa
responden lelaki, dari sudut pandang mereka ternyata kerudung yang sekenanya a.k.a
jilbab lontong nggak menjamin dapat melindungi kita dari pandangan lelaki
iseng. Kok bisa? Karena yang namanya lelaki (ini masih menurut observasi
pribadi hihi) sudah menjadi fitrah saat melihat perempuan pasti matanya
langsung menjelajahi bagian bagian sensitif, dan bagian bagian sensitif tsb
umumnya tidak tertutupi dengan style jilbab lontong. Nah makanya muslimah,
waspadalah, waspadalah! Saya nggak mau nyinyirin temen temen yg mungkin
hijabnya belum syar’i. Saya ucapkan selamaaat buat temen temen yang sudah
menentukan untuk menutup auratnya, apapun style temen temen sekarang. Akan tetapi,
kita harus ingat ilmu dan amal is unseparated. Jadi mari kita merujuk ke ayat
Al-Qur’an yang menjadi landasan para muslimah untuk menutup aurat.
1. Qur’an Surat An-Nur ayat 31 tentang kerudung
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera
suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita
islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang
tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita…” (Q.S. An-Nur:31)
2. Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59 tentang jilbab
2. Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59 tentang jilbab
“Hai Nabi,katakanlah pada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak
di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.S. Al-Ahzab : 59)
Nah, dari dua ayat qur’an di atas, hijab yang
Allah perintahkan adalah kerudung yang menutupi dada dan jilbab yang mengulur
ke seluruh tubuh. Itulah pelindung kita sebenarnya teman teman muslimah. Jadi jangan
heran kalau misalnya kita udah dikerudung nih, tapi masih aja suka diisengin
lelaki, bisa jadi pelindung kita belum seperti apa yang Allah perintahkan :)
Jelas sekali kan teman teman betapa Allah
melindungi kita para muslimah. Dengan rahmat dan kasih sayangNya Allah
perintahkan kita untuk menutup aurat, memakai kerudung hingga menutupi dada dan
mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh agar kita
para muslimah tidak diganggu :’)
untung ruginya ada di kita bukan di Allah. Allah tidak akan rugi jika kita
tidak menaatiNya, tapi kita yang justru akan sangat merugi.
Bismillah, saya pun semakin mantap untuk
menggunakan hijab sesuai apa yang Allah perintahkan atau dikenal sebagai hijab
syar’i, hijab yang sesuai syariat J saya merasa lebih
tenang dan nyaman. Benar benar merasa dilindungi Allah dengan melalui
firmanNya.
Setelah dirunut dan dirangkai satu persatu segala “Allah’s sign” yang terjadi dalam hidup saya maka...... jadilah saya yang sekarang. Tadaaaa~ saya dengan kerudung panjang plus rok, no more skinny jeans, dan tidak lupa lengkap dengan kaus kaki. Hehehe
and you know what i feel? I’m feeling protected :) yes i do really feel that. Karena dengan style saya sekarang saya lebih ngerasa
aman dari pandangan mata jail lelaki. Alhamdulillah, udah kerasa esensinya
sekarang :’)
Semoga kisah ini bisa menjadi jalan kemantapan
hati teman teman yang sudah muncul benih benih cinta #eh, maksudnya benih benih
keinginan untuk berhijab dan menyempurnakan hijabnya. Hehehe
Saat bisikan bisikan kebaikan itu datang, jangan
ditangkis teman karena setiap bisikan kebaikan datangnya dari Allah. Jangan tunda
kebaikan karena esok hari mungkin niat itu udah expire, atau bahkan bisa jadi
kitanya yang expire duluan, you know what i mean, bisa jadi waktu kita udah
keburu abis duluan sebelum merealisasikan bisikan baik untuk berhijab atau
menyempurnakan hijab. And i hope not :)
Tidak ada niat menggurui sama sekali hanya niat berbagi sedikit pengalaman hidup yang telah dilalui. Semoga menjadi tempat lewatnya inspirasi dari Sang Illahi Rabbi :’) aamiin
"jika untuk mendapatkan perhatian makhluk saja kita kadang rela tidak menjadi diri kita sendiri. mengapa untuk Dia yang siap menerima apa adanya kita saja, kita harus berpikir berkali kali untuk membenahi diri?" - dinot :')

Hari minggu lalu, Ui ketemu sama temen lama. Salah satunya ada yang bilang, "Ui ko sekarang jadi gini? Jadi pake rok gini? Kerudungnya meuni panjang. Meuni asa sedih." *tepok jidat* Sekarang jadi Ui yang sedih buat beliau :( ingin ingatkan, tapi takut disangka sok tau :( huhuhu
ReplyDelete