Alkisah, ada seorang miskin dihadiahi Rumah Gratis oleh sang kaya dermawan. Jangan bayangkan Rumah Gratis ini sederhana, seadanya, sempit, berada di kawasan kumuh, tidak terawat. Orang Kaya ini sungguh sangat dermawan. Ia memberikan sebuah rumah super duper mewah. Dibuat dengan bahan bangunan terbaik. Dihiasi taman indah megah bertaburkan berbagai macam bunga cantik dan wangi. Tak lupa sayuran dan buah yang bisa langsung dipetik dari pohonnya.
Jika butuh refreshing si miskin bisa langsung menghibur diri dengan memancing di kolam ikannya sendiri. Kolam renang pun tersedia disana. Mobil mewah nan mahal pun tak terlewatkan oleh sang kaya untuk dihadiahkan pada si miskin. Sejumlah uang juga diberikan untuk memenuhi kebutuhan si miskin dan keluarganya sehari-hari. Pokoknya lengkap, semua yang dia butuhkan ada disana.
Luar biasa senang sekali si miskin. Dia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, mengecup punggung tangan, dan memeluk sang kaya dermawan itu.
"Sungguh dermawan sekali engkau Pak, saya tidak pernah menyangka bisa mendapat hadiah seistimewa ini." Sambil memeluk sang kaya dermawan mungkin untuk keseribu kalinya, si miskin kembali berterima kasih.
"Duhai pria dermawan, apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikanmu ini?" Lanjut si miskin sembari mencoba menangkis curahan air mata dengan kedua tangannya yang bergetar hebat saking senangnya.
Sang kaya dermawan lantas hanya tersenyum, menatap si miskin, membalas pelukannya dengan erat, "Pak, semoga rumah ini bermanfaat bagi anda dan keluarga. Saya tidak akan menuntut lebih, ini semua sudah sepenuhnya milik anda. "
Berhenti sejenak, sang kaya dermawan kemudian melanjutkan, "Pak, Jika engkau menanyakan tentang pembalasan, tidak ada pembalasan yang lebih baik dari hal satu ini. Jagalah, rawatlah dengan baik rumah ini. Sungguh itu adalah bentuk pembalasan yang paling baik."
Mendengar hal itu si miskin semakin senang. Dia tak menyangka bisa mendapatkan rumah super duper mewah dan megah. Dan yang terpenting adalah Gratis! Ditambah syarat yang ecek ecek menurut si miskin, yaitu merawat rumah tersebut. Semburat kebahagiaan semakin terpancar dari wajahnya.
***
30 tahun berlalu, kalian tahu apa yang terjadi? Rumah mewah itu bertransformasi menjadi kumuh dan apek. cat temboknya pun perlahan memudar. Jika hujan tiba, tetesan airnya mampu merangsak masuk ke rumah melalui lubang-lubang di atapnya. Ikan-ikan sudah tidak ada yang sanggup tinggal di kolam karena kekeruhannya yang membahana. Kolam renang? Mengering, tidak berair, dilengkapi dengan noda-noda coklat di keempat sisinya.
Tanaman indah itu berubah gersang, tidak ada satu pun bunga, sayuran, ataupun buah yang berani tumbuh di tanah kering itu. Kemewahan juga telah meninggalkan mobil yang dihadiahi sang kaya dermawan 30 tahun yang lalu itu. kacanya berdebu, ban nya tinggal 3, tempat duduk dihiasi berbagai lubang dimana-mana. Intinya sih, sudah tidak layak pakai.
Kalian tahu mengapa bisa seperti itu? Simply hanya karna si miskin tidak melaksanakan bentuk pembalasan terbaiknya. Menjaga dan merawat. Sebuah pesan yang dulu diremehkan si miskin. Lalu sekarang apa sang kaya dermawan rugi? Tentu tidak. Kekayaan dia menggunung. Kehilangan satu rumah itu saja tidak mempengaruhi kekayaannya. Yang rugi ya jelas jelas si miskin, habitatnya kini sumpek, bau, dan tidak layak huni.
Dih, sungguh menyebalkan sekali kan si miskin ini. Sudah diberi segala apa yang dibutuhkan dan dalam bentuk yang terbaik, hanya diperintahi untuk menjaga dan merawatnya saja ia malas. Rasa syukur hanya sampai pada bibirnya saja.
Eh tapi tunggu dulu, jangan-jangan kita ini sejenis dengan si miskin. Ko bisa? Mari kita renungkan bersama. Kalian tahu sejak kita lahir kita menumpang di sebuah planet pemberian Sang Maha Kaya bernama bumi dengan GRATIS! kemudian kita bernapas menghirup oksigen yang Dia ciptakan juga dengan GRATIS! Dia Yang Maha Kaya tidak pernah menyuruh kita untuk membayar sepeserpun. BagiNya planet bumi yang besar ini tidak ada apa-apanya. Hanya setitik ciptaan di antara jutaan karya luar biasaNya.
PerintahNya kepada kita manusia-manusia gratisan ini juga simple sekali. "Jangan berbuat kerusakan di muka bumi." Pesan sederhana yang terdapat dalam sebuah kitab berisi kumpulan firmanNya.
Lalu kita lihat kondisi bumi sekarang. Sampah menggunung, sungai tercemar, perubahan iklim, pemanasan global, pencemaran udara, dan sederet kerusakan lainnya. Pelakunya? siapa lagi kalau bukan penghuninya sendiri. Lalu apakah Allah, Sang Pencipta, Sang Maha Kaya rugi? Oh tentu tidak kawan. Jelas sekali kitalah yang rugi. Keburukan yang kita lakukan ya akan kembali pada kita.
Maka, ketuklah pintu hati kita. Allah itu sudah luar biasa baiknya terhadap kita. Memberikan dengan cuma-cuma bumi ciptaanNya untuk kita tempati. Tugas kita hanya sekedar menjaganya dengan baik. Sungguh itulah bentuk pembalasan terbaik. Rasa syukur tidak cukup hanya di bibir, tapi harus menjalar ke seluruh bagian tubuh dan melahirkan tindakan-tindakan nyata. Yuk, jangan cuma bisa mengeluh atas segala kerusakan, tapi mulai berkontribusilah untuk memperbaikinya :) Ingat segala upaya kita untuk merawat bumi ini adalah untuk kita sendiri. Karena mau bumi ini hancur pun tidak akan mengurangi secuil pun KekayaanNya dan KeagunganNya.
So Let's #SaveOurEarth ! ♥
Semoga bermanfaat :)
@dinott
@dinott
