August 27, 2013

Keinginan dan Melupakan

Seringkali saya ingin dipedulikan
Tapi saya melupakan bagaimana caranya peduli.

Seringkali saya ingin dihargai
Tapi saya melupakan bagaimana caranya menghargai.

Seringkali saya ingin didengar
Tapi saya melupakan bagaimana caranya mendengar.

Seringkali saya ingin disayang
Tapi saya melupakan bagaimana caranya menyayangi.

Seringkali saya ingin dicintai
Tapi saya melupakan bagaimana caranya mencintai.

Seringkali saya ingin merasakan kebahagiaan 
Tapi saya melupakan bahwa sejatinya kebahagiaan terletak pada memberi bukan menerima.

:')

August 25, 2013

Countdown to limit

Empat hari lagi limit itu bakalan dateng. Dan saya belum siap. Sudah hampir 365 hari, target-target yang tergores di diary itu entah kapan terakhir saya buka, mungkin sekarang telah bertransformasi menjadi sarang laba-laba. Resolusi untuk umur yang baru, katanya.

Walaupun mungkin udah berkarat dan tertimbun debu malas tapi ada satu target yang selalu saya ingat.
"bisa masak minimal 2 menu" 

Liat deh, kentara tercium sekali aroma pesimisnya. Nargetin ko cuma dua? itu dikasih embel-embel minimal cuma bentuk penghalusan kata dari "kalau nggak males ya ditambahin".

jadi, dua menu apa aja yang udah bisa kamu masak dinot?



emmm.... Oseng waluh.
Baru oseng waluh.
Dan itu pun nggak inget.......
kapan.......
terakhir.....
masaknya.....




#pingsan
(hashtag #gubrak udah nggak suitable buat kemalasan taraf internasional kayak ilustrasi di atas)
-sekian-

August 24, 2013

Perspektif

Ada banyak sekali pertanyaan dalam hidup saya. Especially when i think that thing goes wrong. Kenapa gini, kenapa gitu. Kenapa orang lain bisa, saya nggak? Kenapa orang lain hidupnya keliatan lebih menyenangkan? Kenapa hidup saya gini-gini aja? Kenapa saya mengalami ini? Kenapa saya mengalami itu? Dan beribu 'kenapa' lainnya yang nggak jarang langsung saya tanyakan sama Allah kalau lagi berdoa.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang sering banget bikin saya 'ngebatin'. Ngerasa nggak puas sama diri sendiri. Ngerasa things always go wrong for me. Kadang sampe bingung sendiri, parahnya bisa sampe nimbulin sikap pesimis. Bahaya nih! 

Terus setelah saya telaah, kita...errr mungkin saya aja sih, ya saya itu sering banget menyadari sesuatu itu amat berharga saat saya udah nggak terlibat dengan sesuatu itu. Misal saat SD ngeluh, pas SMP kangen SD. Udah SMP ngeluh lagi, pas SMA kangen SMP. Di SMA ngeluh ini itu juga, dan keluhan yang kadang sejenis. Sekolah teh meuni bla... bla... bla...., bandingin sama sekolah itu mah ya enak..bla..bla..bla. Terus lanjut kuliah, eh ujung-ujungnya kangen juga tuh sama masa-masa sekolah yang dulu dikeluhin. BLAH! suka kayak gitu nggak sih kalian? hahaha mudah mudahan nggak deh, jangan kayak saya.

Dan keluhan itu tuh nggak berhenti. Pas tahun terakhir kuliah, khususnya semester 6an, pokoknya deket deket lulus lah, rasanya tuh pengeeeen banget cepet-cepet kerja. Kalau obrolan udah nyentuh topik-topik kayak "nerusin kuliah" pasti jawabannya, "nggak dulu ah sekarang mah mau kerja dulu. pengen dulu ngerasain punya uang sendiri. Pengen ngerasain hasil dari belajar selama kuliah teh mana." Sip! (sounds) so diplomatic, rite?

Sekarang udah kerja, dan kalian pasti bisa nebak apa yang akan saya tulis selanjutnya. Gilaaaa sumpah saya kangen banget masa-masa kuliah. Nyesel dulu kadang ogah-ogahan belajar. Nyesel di himpunan nggak berkontribusi banyak. Nyesel nggak ikut UKM ini-itu. Nyesel kenapa cuma kuliah-nongkrong-kuliah-nongkrong. Nyesel kenapa nggak ikut BEMA. Dan banyaaak penyesalan lainnya yang saya tahu udah sangat terlambat.

Jadi.. mau sampai kapan kayak gini terus ya, dinot? *hening*....

Hari ini saya ke kampus lagi dan rasanya seneeeeeeng banget. Walaupun nggak banyak tapi tadi Alhamdulillah bisa kumpul lagi bareng teman seangkatan, saling ngasih kabar ter-update, dan ngobrolin target angkatan. Betah banget rasanya di kampus. Menatap lekat-lekat setiap sudut kampus yang dulu menjadi tempat saya dikasih ilmu sama dosen-dosen yang hebat. Menatap setiap sudut kampus dengan segala kenangan indah berjuang bareng temen-temen seangkatan. Menatap setiap sudut kampus dengan segala kenangan haha-hihi, bercanda, ngerjain tugas, dan segala moment yang mungkin dulu dilewatin gitu aja. *sigh*

Padahal dulu, nggak jarang saya ngeluhin kampus yang kadang sistemnya anehlah, banding-bandingin sama kampus lain, ngeluhin fasilitas, dan keluhan-keluhan lainnya. Dan nyatanya kampus yang sering saya keluhin itu sekarang jadi tempat yang paling saya rindukan. Selayaknya saya kangen sama SD, kangen SMP, dan kangen SMA. Tapi emang yang paling 'ngena' dan ngangenin itu masa-masa kuliah.

Dan sekarang ada suatu keadaan lagi yang sedang saya idam-idamkan... Married Life. Ok, emang itu yang sering terngiang-ngiang akhir-akhir ini. Jatuhnya malah jadi fokus meratapi apa yang belum tercapai dibandingkan dengan memanfaatkan masa single ini sebaik-baiknya untuk terus belajar dan mempersiapkan diri. Selain itu, saya juga sering ngeluh soal kerjaan yang emang sering menyita sebagian besar waktu saya. Tapi dari pengalaman saya belajar bahwa..... 

Apa yang kita keluhkan saat ini sangat mungkin bisa menjadi hal yang kita rindukan di masa depan. Dan apa yang kita idamkan selama ini tidak selalu seindah dan semenakjubkan seperti apa yang kita pikirkan.

Dalam setiap keadaan pasti selalu ada baik dan (kelihatannya saja) buruk. Akan selalu ada. Pasti. Sekeluh-able apapun kondisi kita saat ini pasti ada sisi baiknya. Begitu juga dengan apa yang kita idamkan, semanis apapun itu pasti ada paitnya. Dan ternyata, solusinya itu sesimple.... terima dan syukuri. Ya, terima dan syukuri apapun kondisi kita saat ini. Walau dihadapkan dengan masalah dan kondisi yang sama, output yang diberikan pasti akan berbeda antara orang yang bersyukur dan tidak. Misal seperti yang pernah saya ceritain di Hijrah Story 2 saya tentang Love Life (bagi yang belum baca, sila baca disini), 

Dulu saat saya single (sekarang juga masih sih hahahaha) dan masih punya mindset pacaran-sebelum-nikah, saya selalu menginginkan punya someone special a.k.a pacar. Rasanya beban banget tuh nggak punya pacar. Wkwkwkwk Titik balik saya adalah saat saya mulai menerima dan mensyukuri kondisi single saya. Apalagi setelah saya sadari Allah lebih menyukai ke-single-an saya ini dibanding saya ngejalin hubungan yang nggak halal. Setelah mengubah perspektif saya yang tadinya ngeluh jadi menerima dan mensyukuri apakah kondisi berubah dan saya ujug-ujug nggak single lagi? Nggak teman-teman, kondisi tetap sama, i'm still single. Tapi apa yang saya rasakan jauuuuuuh berbeda. Ini beneran, aseli, nggak bohong. Dengan menerima dan mensyukuri, mata dan pikiran saya lebih tenang dan menjadi lebih terbuka bagi cinta-cinta yang selama ini terabaikan, yaitu cintanya Allah, orang tua, kakak, dan teman-teman saya. Allah nggak pernah menyalahi janji, jika kita bersyukur maka bertambahlah nikmat. Subhanallah..

Jadi solusi bagi segala keluhan saya ternyata mengubah perspektif dari suudzan menjadi khusnudzan. Dari kufur jadi syukur. Dari tidak menerima menjadi menerima. Formula-formula itulah yang harus kembali saya praktikan untuk membasmi segala keluhan saya tentang dunia kerja yang saya geluti saat ini. Dan untuk menahan segala gejolak dan ekspektasi berlebih tentang Married Life.

Mungkin nanti setelah menikah dan memutuskan untuk menjadi Full time wife and Full time mom saya akan merindukan masa-masa kerja saya. Mungkin nanti setelah menikah saya akan merindukan masa-masa single saya, masa dimana saya masih punya "me time", masa dimana saya masih bisa sepenuhnya mengabdi buat mamah sama bapak. Maka saya harus menikmati setiap moment-moment ini :)

Jangan sampai penyesalan-penyesalan itu tertoreh lagi. Saya harus mensyukuri apapun keadaan saya sekarang. Dan berusaha melakukan yang terbaik adalah suatu bentuk kesyukuran yang paling nyata. I will do my best and let Allah do the rest. Selain itu, saya harus terus belajar, belajar, dan belajar, juga senantiasa membekali diri dengan ilmu dan pemahaman yang baik untuk menghadapi masa depan yang bisa jadi nggak semudah dan nggak seindah ekspektasi saya saat ini. Hidup akan terus bergerak maju, tapi kita memiliki batas waktu. Maka jangan sampai waktu hidup kita habis cuma buat meratapi dan menyesali.

Masalah adalah suatu kepastian dalam hidup, sama pastinya dengan kematian. Jadi daripada repot-repot dan cape-cape bertanya kenapa begini kenapa begitu, lebih baik sekarang kita (terutama saya) ubah perspektif negatif yang menghambat terbukanya pikiran kita menjadi perspektif positif sehingga kita akan menjadi pribadi yang solutif. Aamiin in shaa Allah.

Saya beneran nggak ada maksud buat so nasehatin atau so betul apalagi menggurui. Cuma ingin berbagi pemahaman yang baru aja saya peroleh. Pemahaman dari pengalaman hidup yang saya alami. Allah wanna say something to me. And maybe Allah wanna say something to you, too. Bukan sebuah kebetulan kan kalian kesasar di blog saya ini? hehehe Semua udah diatur sama Allah ;) 

Walau kenyataannya praktik memang selalu nggak semudah teori, semoga dengan bermodalkan belajar-dari-pengalaman ini saya bisa menjalani hidup kedepannya dengan cara yang lebih baik. Dengan cara yang Allah sukai. Aamiin Doain yaa :')

Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman pribadi saya ini. Semoga Allah selalu membersemai dan membimbing setiap langkah kaki, setiap degupan jantung, dan setiap hembusan nafas kita.


From Dinot with Much Love <3
semoga bermanfaat :)

August 23, 2013

Yuk Ah, Jangan Kalah Sama Anak Kecil!

Hidup adalah belajar dan belajarlah dari siapapun. Tapi kita harus pilih-pilih juga hal yang dipelajarinya. pastikan kita selalu mempelajari hal-hal yang mempengaruhi pertumbuhan diri kita ke arah positif. Jangan belajar gimana caranya menjampi-jampi temen yang nyebelin misalnya, atau belajar gimana caranya merebut kecantikan saya. Nggak usah dipelajari ya yang gitu-gitu mah, tinggal disabarin aja. #okesip :D

Belajarlah dari siapapun. Ini betul banget. Dalam hal belajar kita nggak boleh pandang bulu. Kita bisa belajar dari orang-orang di sekitar kita. Entah dia lebih tua, seumuran, atau lebih muda. Entah berasal dari suku mana. Nggak peduli kaya atau miskin. Nggak peduli dia pernah menyakiti kita di masa lalu. Be Open Minded. Ilmu bisa datang dari mana saja dan kita harus selalu terbuka untuk menimba ilmu dari siapapun. Seperti dua orang anak kecil yang tidak sengaja saya temui di suatu sore, senin kemarin. Tapi entah mungkin mereka sengaja pengen ketemu saya, yaa itu mah diluar tanggung jawab saya ya. haha Dari mereka lah saya memperoleh sebuah pelajaran berharga.

Jadi begini ceritanya.. Kemarin.. Kulihat awan membentuk wajahmu. Desau angin meniupkan namamu. Tubuhku terpaku~ #lho hehehe maaf, maaf. maklum kalau terlampau mirip Raisa tuh jadi kepingin nyanyi aja bawaannya. sulit... :D

Ok saya lanjut ceritanya ya, tapi harap rapikan kembali bantal-bantal temen temen yang udah siap ditampokin ke saya itu. Udah? sip...lanjuuut... Ini kejadiannya waktu senin sore. Waktu itu saya lagi nunggu jemputan di deket gerbang tol Kopo. Buat temen-temen yang belum ketik REG(spasi)Dinot, saya kasih sedikit bocoran kegiatan saya. Jadi, minggu ini saya kebagian kerja shift malem, masuknya jam 22.30 tapi berhubung kemarin lembur jadi masuknya lebih awal, yaitu jam 19.00. Alhamdulillah tempat kerja saya menyediakan jemputan. Tapi kalau untuk jemput jodoh katanya belum nyediain, jadi yaudahlah ngga apa apa. Terus, kalau lembur itu biasanya dijemput jam 17.30, kalau ngga macet. Tapi sedihnya, Kopo ini sekarang udah so so an metropolis kayak Jakarta. Macetnya ampun-ampunan. Nyampe pernah tuh saya lembur masuk jam 19.00 dijemput jam 19.10. What the cute !? Haha

Senin kemarin itu kan bertepatan dengan hari pertama masuk anak sekolahan tuh. Jadi jalanan kopo udah mulai agak-agak nyebelin lagi dengan menunjukkan wajah wajah kemacetannya di beberapa titik. Tapi masih keitung ramai lancar sih belum padat merayap, belum sampe stuck kayak hati yang nggak bisa move on  gitu, diem di tempat. wkwkwk :p

Saya pergi dari rumah sekitar jam 17.10 dianter sama bapak saya yang ganteng dan keren. Nyampe deket gerbang tol kurang lebih jam 17.25. Setelah nunggu 15 menit saya coba sms bapak drivernya yang nggak kunjung dateng. Khawatir aja dia berlabuh di tempat lain dan nge-PHP-in saya gitu, jadi langsung aja saya tanya dimana keberadaan beliau ini. Ternyata bapaknya masih di pom bensin daerah sayati dan katanya mau tancep gas dari sana jam 18 lebih 10. (FYI: Sayati-Tol Kopo jaraknya kurang lebih 500m)

Berdasarkan perhitungan cepat mantan anak teknik ini, kalau bapaknya start jam 18.10 dari sayati, bisa diperkirakan beliau nyampe tol kopo jam 18.20an, untuk mencapai tempat saya bekerja dibutuhkan waktu 30 menit berarti kurang lebih jam 18.50. OH NO! waktu shalat maghribnya mepet bangeeeet. Jadi saya putuskan untuk shalat maghrib dulu di mesjid terdekat dari tempat saya nunggu. Dan pertemuan itu pun terjadi..... #tsaah

Dengan langkah sedikit mirip pinguin dikejar mantan a.k.a jalan kecil-kecil tapi cepet, saya bergerak menuju mesjid yang saya lupa namanya :( Saya lewat gang, dimana di salah satu sudut gang itu ada 3 orang pemuda lagi asik ngobrol. dengan level kegeeran yang tinggi, takut di suit suitin, saya ubah jurus langkah penguin dikejar mantannya dengan jurus langkah pinguin mengejar jodoh. Sampai akhirnya saya  hampir bertubrukan dengan seorang anak kurang lebih 7 taun-an yang lagi multi-tasking, dia lagi pake sarung sambil jalan dengan jurus langkah pinguin kebelet. Ternyata anak tersebut sedang menuju mesjid yang sama dengan saya. Disitulah...Pemandangan kontras mulai terlukis. Dimana di satu sisi ada seorang anak kecil yang ingin segera memenuhi panggilan untuk "ngobrol" dengan Rabbnya. Sedangkan di sisi lain ada pemuda yang disaat adzan berkumandang, tetap memilih ngobrol dengan temannya. Hiks

Sesampainya di mesjid saya langsung meluncur ke tempat wudhu yang berada tepat di sebelah pintu masuknya. Masjidnya memang nggak terlalu besar. Jadi setelah pagar langsung nyampe ke teras dan kurang dari satu meter teman teman langsung bisa nemuin tempat wudhunya. Tiba-tiba, pas saya lagi wudhu, ada yang gugurusukan di belakang saya. Awalnya saya agak parno gitu takut ada yang mau nyulik saya. Atau takut ada yang mau ngambil barang-barang saya yang tersimpan di belakang saya. Pas saya tengok.. kaget sih, ko tiba tiba banyak paparazzi, ada yang bawa poster bergambar saya juga lengkap sama pulpennya  buat minta tanda tangan.. #BLAH hehehe peace... ternyata pas saya liat, yang gugurusukan itu adalah seorang anak kecil yang diliat dari kemungilannya sih lebih muda dari anak yang tadi. Aksi gugurusukan tersebut mengekspresikan betapa tingginya keinginan anak tersebut untuk shalat berjamaah yang emang waktu itu udah di mulai. Ih sumpeeeh ini anak keren banget! Terbukti sehabis wudhu dia langsung lari lari kecil masuk ke mesjid dengan kecepatan yang agak lebih tinggi dibanding jurus langkah pinguin kebelet.

Sehabis sholat saya jadi merenung. Jujur saya terharu sama dua anak kecil tersebut. Ngeliat mereka yang super duper antusias untuk memenuhi panggilan Rabbnya tanpa banyak ba-bi-bu. Dan selanjutnya yang saya rasakan adalah..tertampar! Rasanya jadi malu sendiri. Duh maaaan gue dikalahin sama anak kecil. Karena nggak jarang pas adzan berkumandang saya malah lenjeh lenjehan aja nunggu 5 menit...10 menit...baru meluncur shalat. Huhu Astaghfirullah.. :'(

Mudah-mudahan semangat ade ade kecil itu selalu terjaga seumur hidupnya ya. Aamiin :') Dan semoga kita-kita nih muda-mudi yang keren dan kece bisa berkaca dan belajar dari semangat mereka dalam beribadah. Pemuda kan tonggak kehidupan agama dan bangsa. Iya nggak? hehehe. Energi yang dimiliki saat kita berada dalam fasa bernama "masa muda" adalah energi terbesar yang kita punya sepanjang sejarah kehidupan kita. Maka tugas kita adalah selalu berusaha mentransfer energi gigantis ini menjadi sebuah energi yang positif dengan berkarya dan berkontribusi aktif dalam kegiatan yang juga positif. Siap? *nanya sama diri sendiri* Harus siap!

And as young people, we should say no to galau-nggak-berkualitas. Iya. Galau itu ada yang berkualitas dan ada yang nggak. Kalau galaunya mikirin bagaimana nih hidup kita kedepannya? Mau jadi apa? Kontribusi apa nih yang bisa saya kasih buat agama dan negara? Terus galau mikirin cara gimana biar Allah sayang sama kita.. Nah, galau begini sih udah galau top markotop high quality lah. Jadi bikin kita mikir dan bersemangat untuk terus berubah ke arah lebih baik. Jangan sampai kita menghabiskan masa muda kita dengan "galau nggak berkualitas" a.k.a galau yang drama bangeeeet. Udah tau lah yaa yang kayak gimana hehehe, galau ini biasanya identik sama cinta-cintaan. Saya juga pernah lho jadi miss galau-nggak-berkualitas. Rasanya itu capeeeeee banget. Hidup tuh rasanya ripuh dan rapuh #halah. Energi gigantisnya malah disalurkan sama nangisin yang nggak penting, kan sayang ya. Tapi kabar baiknya sekarang saya udah pensiun jadi miss galau-nggak-berkualitas. Horeeee~ walaupun kadang sekali dua kali masih suka ngalamin juga, tapi frekuensinya jauh lebih sedikit, Alhamdulillah :) Sedikit sharing, kalau kalian didatengin galau nggak berkualitas usir aja dia dengan.....duduk di atas sajadah dan curhat sama Allah sampe nangis sesenggukan. Pasti Plong! ;) nggak percaya? cobain duluuuu gih hehe

Sebagai kaula muda #ciee kita harus bisa benar-benar memanfaatkan masa muda ini. Ingat kata bang Oma.. Masa Muda..Masa yang berapi-api~ teng teng teng teng~ Sebenernya sih kita nggak perlu ngerombak dari awal banget. Ada beberapa hal yang masih bisa kita lakukan ko, tapi cuma digeser dikit konten-nya. Halah ribet ya, maksudnya gimana sih? Haha misal nih, kebiasaan kita nongkrong. Wuih maaan yang namanya nongkrong itu kan mengasyikan banget ya, ngobrol ngelantur kemana mana, haha hihi, sampe lupa waktu, nongkrong dari jaman Harry Potter and The Philosoper Stone tau-tau udah ada di jaman Harry Potter and The Deathly Hallows aja! (nggak gitu juga kaleeee :D) ya pokoknya waktu kerasa cepet banget lah.  

Guys! (cieee so gaul) kebiasaan nongkrong kayak gitu nggak usah dibinasakan. Nongkrong, kalau bahasa gaulnya sih berjamaah, adalah suatu elemen penting dalam kehidupan beragama #tsaah. Jadi yang perlu kita rombak adalah sistem nongkrongnya. Biasanya nongkrong di mall, pelan-pelan kita pindahin nongkrong ke mesjid. Biasanya ngobrolin kecengan, pelan-pelan kita ubah jadi ngobrolin masa depan, ngobrolin ilmu pengetahuan, ilmu keagamaan, pokoknya ngobrolin yang positif dan bikin semangat membara-bara lah. Tapi bukan berarti kita jadi manusia anti-mall, nggak lah. Sosialisasi itu penting banget. Main ke mall ya main aja, terus pas waktunya shalat langsung sigap bergerak ke mushola. Kalau mau nonton ya nonton aja, terus cari jadwal nontonnya yang nggak bikin shalat kita terbengkalai. Jangan menjadikan nurut sama Allah itu hal yang menakutkan, karena itu bisa menyebabkan orang malah ogah-ogahan untuk mengenal Allah dan Islam lebih dalam. Jangan sampe jadi kaum eksklusif mentang-mentang udah jadi anak gaul mesjid gaulnya jadi sama yang mesjid-ers lagi. No..No... Ketika kita sudah paham suatu ilmu maka ingatlah prinsip "Terangilah tempat yang gelap" ;) tebarkan ilmu, tebarkan manfaat sebanyaaaak banyaknya biar menjadi investasi akhirat kita. Oke? *nanya sama diri sendiri lagi* Biarkan orang lain merasakan sendiri gimana indahnya Islam tanpa kita harus selalu mengutarakan dalil-dalil. Because action does Speak Louder.

Eh ini ngelantur kemana-mana nggak sih? hehehehe intinya sih saya pengeeeen banget semangat ibadah kedua anak itu ada pada diri kita semua. Kayaknya bakalan jadi pemandangan yang indah kalau pas Adzan semua kegiatan berhenti dan orang langsung berbondong-bondong ke mesjid, shalat berjamaah. wuiiiii...ngebayanginnya aja merinding nih :') Mesjid makmur, rakyat saling berbaur. Muda-mudi berpartisipasi aktif membuat kegiatan positif di lingkungan masyarakat. Sehingga pada akhirnya kita semua mampu menterjemahkan arti Islam Rahmatan Lil'alamin, Rahmat bagi seluruh alam dalam setiap tindakan nyata. Subhanallah....Yuk ah kita wujudkan! Kalau bukan kita, siapa lagi? ;)




"Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan, tentang masa mudanya pada apa dia luangkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia pergunakan, dan tentang ilmunya apa yang dia amalkan padanya" [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani].





Wallahu'alam
Semoga bermanfaat :')
-Dinot, seorang manusia yang terus belajar menjadi "agen muslim yang baik"-

August 18, 2013

mari Bung, rebut kembali!

Untaian kalimat berikut ini merupakan komentar tokoh yang saya kagumi,yaitu Bapak B.J. Habibie tentang buku yang saaaaaaaangat saya suka, berjudul: 99 Cahaya di Langit Eropa. Saya share karena komentar beliau ini mengandung pesan yang sangat dalam. Semoga setelah membaca komentar ini, teman-teman bisa merasakan semangat dan memperoleh pemahaman baik yang sama atau lebih dengan apa yang saya dapatkan setelah membacanya.. :)


"Novel perjalanan Hanum Salsabiela Rais-Rangga Almahendra yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa, yang ditulis berdasarkan pengamatan selama tiga tahun di Eropa, cukup menarik. Hanum kemudian menyimpulkan bahwa kondisi umat saat ini sudah semakin jauh dari akar yang membuat peradaban Islam terang-benderang seribu tahun lalu, karena kondisi umat kini yang menyalahartikan "jihad" sebagai perjuangan dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan dan teknologi).

Pengamatan Hanum, sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa kebudayaan dan teknologi selalu berjalan berdampingan, saling mengisi, menentukan masa depan suatu bangsa. Jika kebudayaan suatu bangsa mati, mati pula teknologi bangsa itu. Di luar meredupnya peradaban Islam, lihat saja persamaan dengan kepunahan Suku Indian Maya di Amerika Latin, bersamaan dengan punahnya teknologi suku tersebut. Begitu pula jika kebudayaan dan teknologi suatu bangsa dikekang, bangsa itu tidak akan tumbuh. Sebaliknya jika keduanya diberikan kesempatan mekar, masa depan bangsa itu mekar dan berkembang.

Berdasarkan pengalaman sejarah dan peradaban umat manusia, yang lebih penting bagi umat Islam sekarang ini tidak lagi sibuk membicarakan keunggulan-keunggulan yang telah dicapai umat Islam pada masa lampau, atau memperdebatkan siapa yang pertama kali menemukan angka nol, termasuk angka satu, dua, tiga, dan seterusnya, sebagai sumbangan umat Islam dalam penulisan angka pada zaman modern dan dasar seluruh pembangunan dan peradaban di dunia, tetapi bagaimana umat Islam kembali unggul dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kembali terdepan dan menjadi pemimpin dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dunia, karena prestasi nyata yang ditunjukkannya."

-Bacharuddin Jusuf Habibie
Mantan Presiden Republik Indonesia

August 11, 2013

Apologize

Teteh : Kita kayak si Bolang ya
Dinot si narsis : Ko kayak si Bolang?
Teteh : Iya ini di sini (merujuk ke pepohonan di sekitar yang mengapit jalan setapak dimana kita berjalan)
Dinot si narsis : Oh gitu, aku sih ngerasa kayak puteri
Teteh : Kenapa kayak puteri?
Dinot si narsis : yah, aku mah ya dimana aja ngerasanya kayak puteri. Mau di hutan, tetep ngerasa puteri. Jadi judulnya puteri di hutan. *intonasi bacain judul sinetron* Dimanapun aku mah tetep jadi puteri. hahahahahahaha~
Teteh : *ngakak*

Percakapan ini diambil dari sebuah kisah nyata kakak-beradik yang kadang konslet (adiknya sih yang lebih sering haha) Terjadi pada hari lebaran kemarin dalam sebuah perjalanan menuju makam Kakek di daerah Rancaekek, Bandung.

Yah itulah saya hahaha pasti gemes banget pengen ngegetok ya bacanya? :))) but seriously, emang begitulah kenyataannya. Saya adalah tipikal manusia musiman. Nggak tau deh saya juga kadang aneh sama diri saya sendiri hehehe. Basicly saya adalah orang yang suka banget bercanda. Tapi untuk melawak bukan ahlinya. Jadi untuk menyandang predikat humoris juga perlu dipikirkan ulang. Di tempat kerja, temen temen saya ngejulukin saya "si penikmat" gegara saya yang kebanyakan cuma ikut enaknya aja alias ketawa doang, tapi ngelucunya jarang. Hahaha eh tapi seriusan temen temen saya itu kalau udah ngelawak bodornya nggak ketulungan. Dan selalu saya lah menjadi ketawa-ers yang paling keras dan lama. Padahal kata orang lain itu biasa aja dan nggak lucu lucu amat :D Tapi ya menurut saya, tertawa untuk lelucon orang lain adalah salah satu bentuk apresiasi. Ya bayangin aja gitu orang lain udah bikin bodoran terus kitanya diem krik krik kayak jangkrik kan kasian haha *ngeles*

Nah percakapan saya di atas itu entahlah bisa dikategoriin bodoran atau bukan. tapi sukses bikin saya sama si teteh ngakak nggak nyampe guling guling juga sih. jadi saya udah mulai ahli ngelucu belum nih? :D dunno deh tapi emang bikin seneng orang sampe ketawa itu ada sensasi bahagia tersendiri #tsah

Awal-awal masuk kerja saya pernah dapet predikat pendiam doooong. Ini kalau temen temen kuliah tahu pasti pada nggak nerima nih hahahaha Awal kerja emang saya nggak banyak ngomong. Ya gitu deh kalau belum banyak kenal orang ya saya emang milih diem. Saya nunggu orang lain bercanda dulu baru saya berani bercanda dan nyerocos ini itu. Saya bukan tipikal orang yang langsung heboh dan ngeluarin segala jurus bercandaan di awal ketemu. Karena orang kan beda beda, ada yang bisa nerima bercandaan, ada juga yang nggak. Jadi di awal perkenalan saya lebih seneng ngobrol biasa dulu sambil nganalisis kira-kira orang ini gimana sifatnya, bisa diajak bercanda atau nggak. Gitu deh pokoknya hehehe dan sekarang jika temen temen nanya ulang apakah saya beneran pendiem atau nggak sama temen temen kerja saya, saya yakin mereka bilang 'nggak' dengan mantap :))))

Tapi saya adalah tipikal orang responsif, bukan pencetus ide obrolan. Kalau lagi berdua sama orang yang pendiem saya pasti ikut diem. Kalau diajak rame dan gila gilaan saya bisa lebih rame dan lebih cantik #lho :D jadi jangan heran kalau lagi berdua sama saya terus kalian diem pasti banyak ngiiii~ng moment di antara kita. Dan dalam diam itu sebenarnya saya itu mikir..aduh ngomongin apa ya biar rame? kira kira begitulah hahaha kadang suka ngerasa nggak enak juga kalau padiem-diem tapi suka bingung juga ngomongin apa. Pusing kan? wkwkwk

Untuk saya, menyampaikan lewat tulisan jauh lebih menyenangkan. Bukan artinya nggak bisa ngomong, cuma kadang saya mengalami kesulitan kalau mau ngomongin sesuatu. Di otak udah di rancang ngomong A eh keluarnya A- hehehe jadi maksudnya kadang walaupun intinya saya sampaikan tapi bahasanya acakabrut lah. Kalau nulis kan bisa di tata ulang dulu biar enak dibaca. Asik bangeeeet :D dan dalam menulis itu kita bisa mikir dua kali sebelum di publikasikan, apa kata-katanya udah tepat, apakah ada kata yang menyinggung atau nggak, intinya sih jadi bisa lebih di filter kata-katanya. Itulah kenapa menulis adalah hal yang paling menyenangkan buat saya ;))

sometime, i do feel like an alien. diri saya yang sering overanalizing, mikirin apa yang nggak dipikirin orang lain. Pemikiran yang nyeleneh. Dan daya imajinasi yang tinggi. Entah ini jatuhnya unik apa mungkin lebih ke aneh. hehehe Kadang ngerasa isi otak ini super absurd dan nggak ada yang bisa ngerti. Apalagi dulu saat masa-masa awal hijrah itu rasanya aneeeh bgt, mencoba mendobrak tradisi. Membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa. it's really hard. Pernah ngerasa aneh sendiri bahkan nyampe ngerasa bener-bener sendiri. Tapi...disitu saya belajar untuk nggak bergantung sama orang. Di saat kayak gitu bener-bener kerasa banget indahnya bergantung cuma sama Allah :') dan itulah mindset yang akan terus saya bangun. Bergantung hanya pada Allah.. dari setiap masalah yang dialami selalu ada pelajaran yang bisa diambil, kan? hehe

Saya itu nyebelin juga kadang-kadang, eh nggak tau sering deng. Soalnya saya kalau udah nggak sreg sama perilaku orang, suka straight to the point. Padahal kan sesuatu yang benar itu harus disampaikan dengan cara yang benar dan di moment yang tepat. Dan itu yang kadang saya lupa atau jawaban lebih jujurnya sih dilupain, soalnya kalah sama nafsu. Astaghfirullah..Tapi abisnya itu ya suka nyeseeeeeeel banget. Asli. Dan itulah yang sedang saya coba rubah sekarang. Doakan saya yaaa! :D

Saya adalah seorang hamba yang diciptakan sepaket dengan kekurangan dan kelebihan dalam hidupnya. Seorang manusia yang memiliki curiousity yang besar dalam hidupnya. Seorang manusia yang ingin terus belajar hingga akhir hayatnya. Seorang manusia yang bercita-cita menjadi sebaik baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Pasti bertanya-tanya deh. Ko tiba tiba posting beginian ya? haha mencoba menggambarkan diri sendiri secara umum. Emang ada yang nanya? wkwkwk Sebenarnya ini bukan postingan narsis dan sejenisnya. hehehe i just wanna try to be honest about myself. Di moment lebaran ini, saya Diny Gustini dengan segala hal nyebelinnya yang pernah dilakuin mau memohon maaf sedalam-dalamnya sama temen-temen semua. Maaf untuk bercandaan yang berlebihan. Maaf nggak bisa jadi orang yang asik dan kadang membosankan. Maaf karena suka ceplas ceplos. Maaf kalau udah bete kadang nggak bisa nyembunyiin. Maaf kalau udah absurd pas lagi ngobrol jadi bahasanya acakabrut dan nggak dimengerti. Maaf kalau ada postingan di blog ini yang tidak berkenan. Maaf suka so tau, so betul, so pinter, dan so so lainnya yang udah pasti nyebelin. Maaf, maaf, maaf sebesar-besarnya :')

My dear friends..
Selamat hari raya idul fitri 1434 H..
Setelah sebulan kita melaksanakan ibadah shaum, semoga kita termasuk hambaNya yang mendapatkan reward yang telah Dia janjikan, yaitu ketakwaan. Aamiin
11 bulan akan kita jelang, dengan pintu neraka yang kembali di buka, dengan setan yang kembali bebas tanpa belenggu.
Semoga Ramadhan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, siap menghadapi segala tantangan dengan bekal takwa dalam diri. Aamiin
Mohon maaf atas segala khilaf.
Doakan saya semoga bisa merealisasikan maaf yang terucap dengan usaha perbaikan diri terus menerus sampai tiba waktunya saya kembali menghadapNya. Aamiin :')

I Love You All my dear friends.. ah tapi mungkin cintaku kurang gereget dan kurang ngaruh. Ada yang lebih penting dan berharga teman....
Allah loves you all, for sure. Always :')
Free Blog Template by June Lily