Berdoa sehabis shalat adalah "curhat time" saya dengan Sang Maha Mendengar. Jangan membayangkan berderet doa puitis yang terlontar. Bayangkan saja saat kalian bercerita panjang lebar tanpa titik koma bersama sahabat terdekat kalian. Nggak pake bahasa baku-bakuan, all out. Nah begitulah kira-kira kondisi saya saat curhat kepada Dia yang Maha Mengerti segala keadaan hati.
Biasanya semua curhatan keluar gitu aja mengalir. Tak jarang sampai nangis senggukan. Dan pasti kalau udah beres curhat sama Allah hati itu tenaaaaaaaaaaaang banget. Sejuk. Damai. Ah, pokoknya priceless.
Tapi kemarin-kemarin seperti ada yang mengganjal. Kedua tangan saya sudah menengadah. Keadaan udah benar-benar siap
untuk....berdoa tentunya, bukan untuk minta-minta di pinggir jalan.
Mulut seketika membisikan lantunan dzikir rutin sehabis sholat. Sambil
mencoba menghayati dengan menterjemahkan tiap katanya.
Saat tiba "curhat time" saya bingung. Otak sesak dengan segala pikiran-pikiran yang entah apa. Untuk sekedar mengatakan apa yang dirasakan saja rasanya sulit sekali. Benar-benar bingung. Bukan ketiadaan masalah yang membuat keran curhat saya mogok nggak mengalirkan cerita. Karena nyatanya banyak sekali hal yang mengganjal. Tapi nggak tahu apa. Pernah nggak sih merasakan itu? Kalau saya sih jujur ini bukan pertama kalinya.
Saat bersosialisasi, profesionalitas adalah prioritas. Artinya, saya berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. karena menunjukan muka kusut pun nggak bikin semuanya beres. Malah menambah daftar panjang kebingungan, soalnya bingungnya dibagi-bagi sama yang lain. Ah ogah deh, bukannya ngasih manfaat sama orang eh ini malah ngasih kebingungan. Kan kasian yang lain, nggak tahu apa-apa tapi dapet jatah muka kusut saya.
Ajaibnya suatu malem dua temen saya ngesms dan ngewhatsapp nanyain saya kenapa. Mungkin kalau di tambah ada yang ngeline, kakao talk, we chat, lebih rame lagi. BBM? saya nggak punya (ngga sukses nginstallnya). Kedua temen saya ini bilang katanya keliatan suka ngelamun kayak mikirin sesuatu. Duh penyamaran saya gagal.
Penyamaran yang gagal itu nggak bikin saya curhat meluber ke dua temen saya itu. Ya karena saya sendiri pun bingung mau cerita apa? Karena apa yang dipikirin pun nggak tahu. Kondisi ini tuh positif bikin bingung taraf internasional. Kalau tahu masalahnya saya bisa langsung memikirkan solusinya, tapi kalau masalahnya aja bingung saya jadi bingung juga mencari cara untuk mengatasinya.
Akhirnya, pagi ini sehabis shalat subuh, saya putuskan curhat lagi sama Allah. Saya cerita aja kalau saya bingung. "Ya Allah, aku teh kenapa ya? what is happening to me? hamba bingung. i think i lost my path." Berhenti beberapa detik karena bingung mau cerita apa, tapi rasanya pengeeeen banget ngeluarin semuanya. Lalu saking bingungnya, saya ubah doanya menjadi : "Ya Allah karuniakanlah hamba ketenangan." Logika saya bilang permintaan itulah yang paling pas dan bisa menangkis semua kegalauan nggak jelas saya akhir-akhir ini. Dan ternyata memang benar.....
Seusai sholat, saya ke dapur menemani mamah yang lagi siap-siap mau masak. Tiga buah gelas saya siapkan untuk menampung aliran dua susu coklat cair untuk saya dan teteh, sisanya akan menjadi tampungan butiran kopi untuk mamah. Dalam acara pembuatan tiga gelas minuman itu, tiba-tiba terlontar sebuah pertanyaan mamah. "De, kalau misal...misal ini mah ya, ade jadi nerusin kuliah terus kerjanya gimana?"
Menanggapi pertanyaan itu, sontak berderet kalimat keluar dari mulut saya. Dari mulai alasan, rencana, lengkap dengan tempat saya jika mau nerusin kuliah. Kemudian merembet tentang saya yang kurang sreg dengan jurusan yang dulu saya ambil. Keinginan saya untuk melanjutkan S2 dan pindah jurusan. Semuanya keluar. Semuanya. Sampai nada bicara saya sedikit berubah, melambat, dan bergetar. Mata mulai hangat. Dan acara curhat bersama mamah (tanpa Dedeh) pun berakhir karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan saya harus segera mandi dan bersiap berangkat lembur.
Di kamar mandi saya nangis, masih efek dari acara curhat. ternyata oh ternyata inilah yang mengganjali pikiran saya selama ini. melihat teman-teman yang kerja sambil kuliah, bahkan ada yang akan resign, untuk mengejar mimpinya membuat saya iri. Iri positif in shaa Allah. Mulailah kebingungan itu datang. Karena saya pun ingin, ingin sekali kembali menimba ilmu. Tapi seperti yang udah saya bahas sebelumnya, saya ngerasa ngga sreg sama jurusan yang diambil saat D3. Kata anak gaul sih, "nggak gue banget". Setelah menapaki jalan kehidupan yang berliku saya sadari bahwa Psikologi sepertinya lebih cocok. Tapi dari D3 teknik kimia ke S1 psikologi itu jelas nggak bisa. Alhasil jalan satu-satunya adalah meneruskan S1 di teknik kimia dulu kemudian mengambil S2 psikologi. wait? 2 years more with engineering world? *nangis di pojokan*
Kegalauan ini sebenarnya sudah bercokol lama, mengendap di otak dan merembet ke hati. Saya sempat berpikir untuk nggak nerusin kuliah. Walau sebenarnya pengen banget mempelajari dan memperdalam ilmu yang saya minati dan sesuai dengan bakat. Tapi dua tahun bergelut di dunia teknik kimia nya itu lho yang bikin berat. Akhirnya kemarin lumayan dapet pencerahan Alhamdulillah. Ada temen saya yang nerusin ke S1 Teknik Industri dan katanya Teknik Industri ini lebih ke manajemen Industrinya dan nggak teknik banget. Hati saya bilang kayaknya ini bisa menjadi opsi menghabiskan dua tahun saya meneruskan S1. Aha! Ngga tahu juga sih tapi, saya masih harus terus menggali informasinya. Selain itu, dibutuhkan pula pemikiran matang. Nggak boleh kebawa mainstream karena temen-temen pada nerusin terus saya ngekor. Ohohohoho jelas itu alasan yang salah besar.
Walaupun cita-cita saya adalah menjadi ibu rumah tangga profesional yang setia melayani suami dan anak dengan baik, nggak membuat saya menghentikan keinginan untuk belajar. Justru malah setelah lulus kuliah saya menyadari pentingnya mencari ilmu. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti nggak boleh sekolah tinggi-tinggi. Perempuan adalah aset berharga agama, bangsa, dan keluarga. Dan dalam keluarga, seorang Perempuan (Ibu) akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ditambah jaman yang akan terus berkembang. Anak-anak bisa lebih canggih dari emak dan bapaknya. Jika kita nggak bisa ngimbangin kan bahaya.
Lalu apa harus sekolah formal? Pribadi saya sih berpendapat nggak harus. Bukan masalah formal nggaknya tapi mencari ilmunya. Dan ilmu itu ada dimana-mana asal ada kemauan untuk terus menggali pasti mudah ketemu. Maka rajinlah membaca, berdiskusi dengan teman, dan beribu cara lain untuk memperoleh ilmu. Luaskan wawasan kita, jangan kuper.
Sebelum cerita ini berakhir seiring dengan berakhirnya pencarian penyebab kegalauan, saya pun menyadari satu hal yang sukses membuat saya menangis terharu. Kalian tahu, ada yang menggerakan mulut mamah untuk melontarkan pertanyaan pamungkas tadi. Pertanyaan yang membuat semua yang saya bingungkan keluar mengalir deras. Dan yang menggerakan adalah... Allah. Allah mengabulkan doa saya kawan, saya meminta ketenangan dan Allah seketika memberikannya :')
Sekarang nggak ada acara bingung lagi. Semuanya udah jelas, nggak samar lagi. Hati dan pikiran menjadi jauh lebih tenang.. Allah yang telah mengaruniakan ketenangan itu. Subhanallah. Walaupun belum ada keputusan pasti sebagai jawaban dari soal perkuliahan ini tapi setidaknya saya tahu apa yang selama ini mengganjal. ditambah dengan ketenangan yang Allah kasih semuanya menjadi lebih ringan. Alhamdulillahirabbil'alamin :)
Duhai jiwa, ternyata memang hanya Allah Yang Menggenggam Segala. termasuk ketenangan yang menjadi nutrisimu duhai jiwa.
"Ya Rabb, terima kasih...you always be there for me. Ya Allah, semua sudah jelas kini. Rencana sudah mulai tersusun walau belum rapi. Tapi hamba nggak sanggup ya Rabb, hamba nggak akan pernah sanggup kalau sendirian. Maka bersamailah setiap langkah hamba Ya Rabb. TanpaMu, aku hampa. Without You i am nothing."
Semoga Bermanfaat :)
@dinott