November 24, 2013

Lullaby

Pekat malam menyuguhkan sebuah keheningan. Tubuh telah terbaring nyaman beralaskan kasur empuk. Namun mata masih enggan terpejam. Imajinasiku terbang bebas menembus segala batas. 

Kini kedua indra penglihat tengah tertuju pada deretan foto tempat-tempat yang belum terjamah. Mereka terhimpun dalam selembar karton yang tertempel tepat di depan tempat tubuh ini berbaring. Dia diam tapi berbicara. Ia tak lelah bercerita tentang mimpi melalui gambar-gambar. Keyakinan telah memberi mereka nyawa.

Kemudian samar terdengar sebuah nada indah. Simfoni yang begitu sempurna untuk menemani imajinasi yang masih menikmati penerbangannya ke negeri tanpa batas. Ku dengarkan dengan baik, ternyata keindahan simfoni itu berasal dari dentuman hati. Dan seketika menyebutkan satu nama yang hanya hati dan Sang Penggenggam hati yang tahu.
Dia mencoba bergabung bersama selembar karton berisi gambar dan mulai menaiki armada yang sama untuk ikut terbang ke negeri tanpa batas.

Sebuah perjalanan indah menggunakan maskapai penerbangan bernama Lullaby. Dikendarai seorang pilot bernama Imajinasi. Menuju Negeri tanpa batas.



dan Negeri Tanpa Batas itu bernama mimpi. 

November 20, 2013

Sekilas Tentang Mimpi

Kalau merasa hidup ini adem ayem lempeng-lempeng aja, berasa nggak asik, datar, membosankan, mungkin kalian perlu sejumput stimulus hidup bernama mimpi. Ini bukan tentang mimpi saat mata terlelap. Tetapi mimpi yang selalu menemani bahkan di saat mata terbuka.

Mimpi itu gratis tapi banyak orang takut memilikinya. Ada yang beralasan takut nggak terwujud. Ketahuilah bahwa rasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi itu lebih menakutkan dari apa yang ditakuti. Rasa takut itu menahan langkah kaki untuk maju. Akhirnya memilih untuk berpuas dengan keadaan saat ini dan hasilnya hidup jadi membosankan.

Fase takut bermimpi juga pernah saya alami karena dulu yang dijadikan dasar adalah kapasitas diri saya. Jelaslah banyak ketidak mungkinan yang kemudian membuat saya hidup apa adanya. Go with the flow, ceunah. Sampai akhirnya saya disadarkan tentang keyakinan 100 persen tanpa kurang pada Sang Maha Kuasa. Manusia memang dibatasi dengan kekurangan, tapi Allah tidak. Apa yang perlu kita lihat saat menyusun mimpi adalah kapasitas Allah yang Maha Luas bukan kapasitas kita.

Mulailah saya menyusun mimpi-mimpi. Wah ternyata asik banget. Membayangkannya saja udah bikin senyum-senyum sendiri. Rasanya jadi ada dorongan untuk selalu bersemangat. Nah, jika teman-teman merasa hidup teman-teman membosankan, cobalah untuk menyusun mimpi! Mimpi itu gratis, bebas, nggak beraturan. Jadi nggak usah takut. 

Ciri mimpi itu adalah di atas kapasitas diri kita. Kalau dalam kapasitas diri sih namanya rencana. Misal saya punya uang seribu pengen ke warung, itu namanya rencana. Kalau dengan uang seribu itu saya ingin pergi ke Mekah dan keliling dunia nah itu baru mimpi ;) Jangan takut mimpi kita diketawain orang, malah katanya kalau belum diketawain itu bukan benar-benar mimpi. Dan banyak orang yang pada awalnya ditertawakan malah akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Tapi tentu saja melalui kerja keras. Hidup ini bukan mie yang bisa dibikin instan ;)

Ayooo segera susun mimpimu dan rasakan sensasinya. Hidup menjadi lebih bersemangat, lebih bermakna, lebih terarah, dan lebih mengasikan!

Semoga bermanfaat :)
NB : postingan ini adalah prolog Hijrah Story saya yang keempat dan terakhir, yaitu Dreams! Tunggu tanggal mainnya ;D

November 17, 2013

Hati-Hati Dalam Menasihati

Mengapa kita diberikan dua telinga dan satu mulut? Karena kita harus lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Sering banget pasti kan mendengar kalimat itu. Ternyata memang tidak diragukan lagi kebenarannya guys! :) Beberapa pengalaman hidup mengajari saya langsung tentang hal ini.

Saya pernah ngobrol sama seorang teman yang katanya susah dinasihatin, sebut saja si A. Waktu itu dia cerita tentang keluhannya diperlakuin nggak enak sama teman lain, yaitu dinasihatin dengan cara marah-marah. Kedua telinga saya buka lebar-lebar untuk mendengar semua keluhan terpendamnya. Berdasarkan ceritanya sih memang A ini melakukan kesalahan, tapi saya dengerin dulu aja sampai dia mengeluarkan semua unek-uneknya. Akhirnya saya coba tengahin, sebenarnya teman-temannya itu peduli cuma caranya yang salah. Terus saya coba luruskan juga tentang kesalahannya. Apa yang saya bilang sama si A ini sebenarnya sama aja dengan apa yang dikatakan teman-temannya. Cuma cara menyampaikannya yang  dibedain. Dan si A bilang inilah yang dia inginkan. Dia ingin  teman-temannya itu nanya dulu lah kenapa bisa melakukan hal itu, dengarkan dulu alasannya, bukan langsung dibombardir dengan kalimat-kalimat penuh amarah. Nah kan terbukti pentingnya mendengar :)

Asal comment, sembarang menjudge, main marah-marah tanpa tahu pasti apa masalahnya adalah hal-hal yang mungkin tanpa kita sadari sering kita lakukan. Itulah saat dimana kita menutup kedua telinga kita rapat-rapat dan membiarkan mulut yang sebenarnya kalah jumlah sama telinga buat bekerja tanpa pikir panjang. Dan sebenarnya hal ini bisa dipastikan kelakuan yang positif.....nyebelin. hehehe Jadi sikap-sikap di atas wajib kita waspadai dan hindari.

Kenapa sih kita bisa melakukan hal-hal positif nyebelin itu? Pertama, karena kita merasa betul atau lebih tepatnya so betul, ditambah dengan jiwa so tahu alhasil mulut kita ngomong seenaknya aja. Asal bunyi. Walaupun bisa jadi apa yang dikatakan memang benar, tapi kedengarannya ngga enak dan jadi males aja buat didengerin. 

Penyebab kedua adalah faktor "nggak suka". Biasanya saat kita nggak suka sama seseorang semua yang dilakuin dia selalu terlihat salah di mata kita. Kalau dia ngelakuin kesalahan dikit wih langsung nyerocos persis kayak komentator bola. Terus beluber ngomongin borok-boroknya. Diakhiri dengan so menasihati menggunakan kata-kata pedas level 10. Saking pedasnya bisa sampai keluar api tuh dari mulutnya. Menyeramkan sekali. Padahal di saat orang lain melakukan hal yang sama, kita nggak seheboh itu nanggepinnya. Biasa aja, datar.. kayak ekspresi mukanya si brown boneka Line. Ini bahaya banget karena kita udah kehilangan unsur objektif dalam menilai dan menasihati. 

Maka kita perlu menghindari dua hal di atas agar kita nggak jadi manusia yang asal bunyi, suka berkomentar negatif, menjudge orang mentah-mentah, dan marah-marah nggak jelas. Jangan harap saat kita menasihati atau mengingatkan orang lain dengan cara-cara sesat tersebut, maka dia akan menerima dengan enak lalu seketika berubah menjadi anak baik yang penurut. Yang ada dia bakal males dengerin. Dan memang begitu juga yang saya rasakan. Bukannya mengikuti apa yang dikatakan malah jadinya males dan nggak respect. Makanya saya selalu berusaha untuk nggak melakukan itu ke orang lain. 

Dari pengalaman pribadi dan orang lain saya pun belajar untuk menahan mulut dan membiarkan kedua telinga bekerja terlebih dahulu. Untuk berkomentar kita membutuhkan cukup informasi biar nggak nyerocos nggak bermutu. Dan untuk mendapatkan informasi itulah kita butuh banyak mendengar. Jika kita belum betul-betul paham duduk permasalahannya maka tahanlah dulu sebentar mulut kita untuk ngasih komentar. Saya juga pernah tuh main seruduk asal bunyi, nada bicara langsung tinggi, nyerocos so betul. Eh taunya setelah mendengar cerita jelasnya saya jadi malu sendiri karena ternyata apa yang saya pikirkan itu salah. hahaha jadinya gendok bin malu abis :D 

Jadi saat kita dihadapkan dengan suatu masalah, hal pertama yang harus dilakukan adalah tahan emosi. Don't let emotion take control of you, you're the one who control your emotion. Kemudian bukalah telinga selebar-lebarnya. Belajar mendengar. Setelah kita betul-betul paham jenis permasalahannya seperti apa barulah mulut kita bekerja. Dan jangan lupa fungsi otak kita untuk berpikir. Akal dan pikiran berfungsi untuk menyaring informasi yang kita terima lewat telinga, jadi saat mendengarkan kita bisa menilai secara objektif. Jangan sampai kita membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Selain itu, gunakan pula pikiran kita untuk memilah perkataan yang hendak keluar dari mulut agar pesannya tersampaikan dengan benar. Ingatlah pesan Rasulullah Muhammad SAW :

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Coba telanlah dulu kata-kata yang akan kita keluarkan. Kalau rasanya pait, maka diam jauh lebih baik :)

Ada satu hal lagi yang penting, yaitu libatkan hati. Apa yang datang dari hati maka akan sampai ke hati juga. Tapi jika datangnya dari ego maka akan sampai pula ke ego, jadinya perang ego deh. Akhirnya masalah malah bertambah rumit. Bakalan kerasa beda lho orang yang menasihati dengan melibatkan hati dan yang nggak melibatkan hati. Orang yang nggak melibatkan hati inilah yang cenderung meledak-ledak kayak gunung berapi meletus. Sereeeem man! Berbeda dengan orang yang melibatkan hati, ia menasihati benar-benar atas dasar kepedulian, penyampaiannya akan enak didengar sekalipun ada ketegasan didalamnya. Jadi perlu diwaspadai nih kalau kita menasihati orang lain dengan cara anarkis marah-marah membabi buta. Apa bener tuh kita peduli? Atau cuma bentuk penyaluran emosi berbalut so peduli? Mari kita evaluasi ;)


Semoga Bermanfaat :)
@dinott

November 9, 2013

Bingung bin Galau

Berdoa sehabis shalat adalah "curhat time" saya dengan Sang Maha Mendengar. Jangan membayangkan berderet doa puitis yang terlontar. Bayangkan saja saat kalian bercerita panjang lebar tanpa titik koma bersama sahabat terdekat kalian. Nggak pake bahasa baku-bakuan, all out. Nah begitulah kira-kira kondisi saya saat curhat kepada Dia yang Maha Mengerti segala keadaan hati.

Biasanya semua curhatan keluar gitu aja mengalir. Tak jarang sampai nangis senggukan. Dan pasti kalau udah beres curhat sama Allah hati itu tenaaaaaaaaaaaang banget. Sejuk. Damai. Ah, pokoknya priceless

Tapi kemarin-kemarin seperti ada yang mengganjal. Kedua tangan saya sudah menengadah. Keadaan udah benar-benar siap untuk....berdoa tentunya, bukan untuk minta-minta di pinggir jalan. Mulut seketika membisikan lantunan dzikir rutin sehabis sholat. Sambil mencoba menghayati dengan menterjemahkan tiap katanya. 

Saat tiba "curhat time" saya bingung. Otak sesak dengan segala pikiran-pikiran yang entah apa. Untuk sekedar mengatakan apa yang dirasakan saja rasanya sulit sekali. Benar-benar bingung. Bukan ketiadaan masalah yang membuat keran curhat saya mogok nggak mengalirkan cerita. Karena nyatanya banyak sekali hal yang mengganjal. Tapi nggak tahu apa. Pernah nggak sih merasakan itu? Kalau saya sih jujur ini bukan pertama kalinya.

Saat bersosialisasi, profesionalitas adalah prioritas. Artinya, saya berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. karena menunjukan muka kusut pun nggak bikin semuanya beres. Malah menambah daftar panjang kebingungan, soalnya bingungnya dibagi-bagi sama yang lain. Ah ogah deh, bukannya ngasih manfaat sama orang eh ini malah ngasih kebingungan. Kan kasian yang lain, nggak tahu apa-apa tapi dapet jatah muka kusut saya.

Ajaibnya suatu malem dua temen saya ngesms dan ngewhatsapp nanyain saya kenapa. Mungkin kalau di tambah ada yang ngeline, kakao talk, we chat, lebih rame lagi. BBM? saya nggak punya (ngga sukses nginstallnya). Kedua temen saya ini bilang katanya keliatan suka ngelamun kayak mikirin sesuatu. Duh penyamaran saya gagal. 

Penyamaran yang gagal itu nggak bikin saya curhat meluber ke dua temen saya itu. Ya karena saya sendiri pun bingung mau cerita apa? Karena apa yang dipikirin pun nggak tahu. Kondisi ini tuh positif bikin bingung taraf internasional. Kalau tahu masalahnya saya bisa langsung memikirkan solusinya, tapi kalau masalahnya aja bingung saya jadi bingung juga mencari cara untuk mengatasinya.

Akhirnya, pagi ini sehabis shalat subuh, saya putuskan curhat lagi sama Allah. Saya cerita aja kalau saya bingung. "Ya Allah, aku teh kenapa ya? what is happening to me? hamba bingung. i think i lost my path." Berhenti beberapa detik karena bingung mau cerita apa, tapi rasanya pengeeeen banget ngeluarin semuanya. Lalu saking bingungnya, saya ubah doanya menjadi : "Ya Allah karuniakanlah hamba ketenangan." Logika saya bilang permintaan itulah yang paling pas dan bisa menangkis semua kegalauan nggak jelas saya akhir-akhir ini. Dan ternyata memang benar.....

Seusai sholat, saya ke dapur menemani mamah yang lagi siap-siap mau masak. Tiga buah gelas saya siapkan untuk menampung aliran dua susu coklat cair untuk saya dan teteh, sisanya akan menjadi tampungan butiran kopi untuk mamah. Dalam acara pembuatan  tiga gelas minuman itu, tiba-tiba terlontar sebuah pertanyaan mamah. "De, kalau misal...misal ini mah ya, ade jadi nerusin kuliah terus kerjanya gimana?" 

Menanggapi pertanyaan itu, sontak berderet kalimat keluar dari mulut saya. Dari mulai alasan, rencana, lengkap dengan tempat saya jika mau nerusin kuliah. Kemudian merembet tentang saya yang kurang sreg dengan jurusan yang dulu saya ambil. Keinginan saya untuk melanjutkan S2 dan pindah jurusan. Semuanya keluar. Semuanya. Sampai nada bicara saya sedikit berubah, melambat, dan bergetar. Mata mulai hangat. Dan acara curhat bersama mamah (tanpa Dedeh) pun berakhir karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan saya harus segera mandi dan bersiap berangkat lembur.

Di kamar mandi saya nangis, masih efek dari acara curhat. ternyata oh ternyata inilah yang mengganjali pikiran saya selama ini. melihat teman-teman yang kerja sambil kuliah, bahkan ada yang akan resign, untuk mengejar mimpinya membuat saya iri. Iri positif in shaa Allah. Mulailah kebingungan itu datang. Karena saya pun ingin, ingin sekali kembali menimba ilmu. Tapi seperti yang udah saya bahas sebelumnya, saya ngerasa ngga sreg sama jurusan yang diambil saat D3. Kata anak gaul sih, "nggak gue banget". Setelah menapaki jalan kehidupan yang berliku saya sadari bahwa Psikologi sepertinya lebih cocok. Tapi dari D3 teknik kimia ke S1 psikologi itu jelas nggak bisa. Alhasil jalan satu-satunya adalah meneruskan S1 di teknik kimia dulu kemudian mengambil S2 psikologi. wait? 2 years more with engineering world? *nangis di pojokan*

Kegalauan ini sebenarnya sudah bercokol lama, mengendap di otak dan merembet ke hati. Saya sempat berpikir untuk nggak nerusin kuliah. Walau sebenarnya pengen banget mempelajari dan memperdalam ilmu yang saya minati dan sesuai dengan bakat. Tapi dua tahun bergelut di dunia teknik kimia nya itu lho yang bikin berat. Akhirnya kemarin lumayan dapet pencerahan Alhamdulillah. Ada temen saya yang nerusin ke S1 Teknik Industri dan katanya Teknik Industri ini lebih ke manajemen Industrinya dan nggak teknik banget.  Hati saya bilang kayaknya ini bisa menjadi opsi menghabiskan dua tahun saya meneruskan S1. Aha! Ngga tahu juga sih tapi, saya masih harus terus menggali informasinya. Selain itu, dibutuhkan pula pemikiran matang. Nggak boleh kebawa mainstream karena temen-temen pada nerusin terus saya ngekor. Ohohohoho jelas itu alasan yang salah besar.

Walaupun cita-cita saya adalah menjadi ibu rumah tangga profesional yang setia melayani suami dan anak dengan baik, nggak membuat saya menghentikan keinginan untuk belajar. Justru malah setelah lulus kuliah saya menyadari pentingnya mencari ilmu. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti nggak boleh sekolah tinggi-tinggi. Perempuan adalah aset berharga agama, bangsa, dan keluarga. Dan dalam keluarga, seorang Perempuan (Ibu) akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ditambah jaman yang akan terus berkembang. Anak-anak bisa lebih canggih dari emak dan bapaknya. Jika kita nggak bisa ngimbangin kan bahaya.

Lalu apa harus sekolah formal? Pribadi saya sih berpendapat nggak harus. Bukan masalah formal nggaknya tapi mencari ilmunya. Dan ilmu itu ada dimana-mana asal ada kemauan untuk terus menggali pasti mudah ketemu. Maka rajinlah membaca, berdiskusi dengan teman, dan beribu cara lain untuk memperoleh ilmu. Luaskan wawasan kita, jangan kuper. 

Sebelum cerita ini berakhir seiring dengan berakhirnya pencarian penyebab kegalauan, saya pun menyadari satu hal yang sukses membuat saya menangis terharu. Kalian tahu, ada yang menggerakan mulut mamah untuk melontarkan pertanyaan pamungkas tadi. Pertanyaan yang membuat semua yang saya bingungkan keluar mengalir deras. Dan yang menggerakan adalah... Allah. Allah mengabulkan doa saya kawan, saya meminta ketenangan dan Allah seketika memberikannya :')

Sekarang nggak ada acara bingung lagi. Semuanya udah jelas, nggak samar lagi. Hati dan pikiran menjadi jauh lebih tenang.. Allah yang telah mengaruniakan ketenangan itu. Subhanallah. Walaupun belum ada keputusan pasti sebagai jawaban dari soal perkuliahan ini tapi setidaknya saya tahu apa yang selama ini mengganjal. ditambah dengan ketenangan yang Allah kasih semuanya menjadi lebih ringan. Alhamdulillahirabbil'alamin :)

Duhai jiwa, ternyata memang hanya Allah Yang Menggenggam Segala. termasuk ketenangan yang menjadi nutrisimu duhai jiwa. 

"Ya Rabb, terima kasih...you always be there for me.  Ya Allah, semua sudah jelas kini. Rencana sudah mulai tersusun walau belum rapi. Tapi hamba nggak sanggup ya Rabb, hamba nggak akan pernah sanggup kalau sendirian. Maka bersamailah setiap langkah hamba Ya Rabb. TanpaMu, aku hampa. Without You i am nothing."


Semoga Bermanfaat :)
@dinott
Free Blog Template by June Lily