Seri Sebelumnya :
My Story : Jalan Hijrahku (Prolog)
Hijrah Story 1 : Pakaian
Hijrah Story 2 : Love Life
Hijrah Story 3 : Passion
Hjrah Story 4 : Dreams
Setelah hampir setengah tahun berjuang untuk coba membagi kisah perjalanan hijrah, terutama berjuang melawan rasa malas yang sering menggoda saat mau mulai nulis, Alhamdulillah akhirnya Hijrah Story saya tuntas :) Menuliskan perjalanan hijrah ini sama
dengan menarik kembali segala memori tentang perjuangan yang telah dilalui. Berat,
berliku, tapi itulah yang membuatnya indah dan bermakna. Jika melihat hasil
yang telah digenggam rasanya tidak sedetik pun berpikir untuk menyesalinya.
Perjalanan hijrah ini telah
menuntun saya untuk jauh lebih mengenal Allah dan juga memahami kasih
sayangNya. Ketika saya mengenal Allah lebih dalam, timbul rasa ingin terus
menerus melakukan hal-hal yang disukaiNya, menjauhi apa yang dimurkaiNya, dan melakukan
segala sesuatu hanya untukNya. Sehingga, saya memutuskan untuk mengenakan hijab
yang sesuai dengan perintahNya, berhenti menjalin hubungan tak halal, berusaha
menemukan dan mengasah passion saya
agar kedepannya mampu memberi manfaat, mulai menyusun mimpi sebagai bentuk
keyakinan penuh atas keMaha KuasaanNya, juga berusaha memaknai hidup serta
menjauhi kesia-siaan. Jadi bisa dikatakan bahwa perjalanan menemukan Allah itu akan
otomatis menuntun kita untuk menemukan diri yang lebih baik.
Perjalanan Hijrah ini bukan
tentang menunggu hidayah. Sungguh, bukan tentang itu. Tetapi hijrah adalah
sebuah kerelaan diri untuk membuka hati dan pikiran agar mampu memahami setiap
petunjukNya serta kesediaan untuk berjalan menuju cahayaNya. Pernah lihat orang
yang sudah dinasehatin berkali-kali tapi tetap tidak peduli? Bukan belum
datangnya hidayah penyebab utamanya, tapi
tidak adanya keinginan membuka hati dan pikiran untuk menerima cahayaNya
lah yang membuat dia begitu. Kemudian munculah alibi untuk menyamarkan hal
tersebut dengan menyebutnya “Menunggu Hidayah”. Jika hanya berdiam menunggu,
jika tetap memutuskan menutup hati dan pikiran, bagaimana bisa berubah menjadi
lebih baik di mataNya? Allah berfirman;
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri
yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.”
(Q.S
Ar-Ra’d :11)
Jelas sekali Allah menginginkan kita melakukan usaha
untuk berubah menjadi lebih baik. Menunggu bukan jawaban. Hal yang perlu
diwaspadai lagi adalah ada batas yang sangat tipis sekali antara tidak tahu dan
tidak mau. Jangan sampai kita berpura-pura tidak tahu untuk menutupi
ketidakmauan kita memenuhi seruanNya.
Ada satu pertanyaan penting juga
yang harus ditujukan pada diri kita sendiri saat berhijrah. Sebenarnya kepada
siapakah ditujukan hijrah ini? Dan untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus
mengingat satu sabda Rasulullah SAW ;
“Sesungguhnya setiap amal tergantung
niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa
hijrahnya karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya sampai pada Allah dan
RasulNya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia inginkan atau karena
wanita yang ia ingin nikahi maka hijrahnya sampai apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari)
Semua tergantung niat, dan kita harus selalu menjaga
niat hijrah kita hanya karena Allah agar tidak sia-sialah semua perjuangan yang
telah dilalui. Sehingga hijrahnya tidak hanya merengkuh kebahagiaan dunia tapi
juga akhirat; Hijrahnya tidak hanya mengakibatkan kita diakui penduduk bumi
tapi juga dicintai penduduk langit. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus :)
Kisah ini mungkin telah sampai
pada sebuah akhir, tapi sejatinya perjalanan hijrah tidak akan pernah mengenal
akhir. Berhenti untuk berhijrah berarti berhenti berusaha untuk bertumbuh
menjadi pribadi yang lebih baik. Hijrah adalah perjalanan seumur hidup.
Semoga #JalanHijrahku ini mampu
menjadi inspirasi bagi setiap langkah yang tertahan ragu untuk berhijrah, mampu
menjadi cheerleaders bagi setiap hati
yang sedang dilanda rapuh ditengah perjalanan hijrahnya, dan mampu menjadi
cermin agar tidak mengikuti jejak kesalahan saya di masa lalu.
“Belajarlah dari kesalahan orang lain.Anda
tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu
sendiri”
Martin Vanbee
And last but
not least, semoga #JalanHijrahku ini mampu menjadi pemberat timbangan amal
kelak saat setiap butir perbuatan dipertanggung jawabkan dihadapanNya. Aamiin
:’)
Salam,
Diny Gustini
@dinott
