Cinta Tak Berujung
diambil dari novel Perahu Kertas, karya Dee.
diambil dari novel Perahu Kertas, karya Dee.
Sudah hampir gelap ketika Keenan sampai di rumah itu. Karel sendiri yang membukakan pintu. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Keenan.
“Mas Karel, Kugy-nya ada?” tanya Keenan sopan. Pasti ada.
Karel tak langsung menjawab. Ia kelihatan sedang berpikir. “Kamu aja yang nyusulin dia, ya,” akhirnya ia berkata sambil membalik badan, menunjuk satu pintu, “dia lagi di tempat jemuran belakang. Kamu ke pintu itu. Ada tangga besi di dekat sana. Kamu naik aja. Kugy ada di atas.”
Keenan mengangguk. Langsung menuju tangga yang dimaksud Karel, menaikinya hati-hati. Balkon belakang itu hanya berbentuk dak beton. Sebuah kursi dan meja plastik terparkir di sana. Tampak siluet Kugy duduk memunggunginya. Kepalanya menengadah, menatap langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi, berkibar halus ditiup angin.
Keenan menahan napas. “Kecil ....”
Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, mendapatkan Keenan sudah berdiri di hadapannya. “Kamu ... kok ... bisa ada di sini?” ia bertanya, terbata.
Keenan menahan napas. “Kecil ....”
Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, mendapatkan Keenan sudah berdiri di hadapannya. “Kamu ... kok ... bisa ada di sini?” ia bertanya, terbata.
“Radar Neptunus,” jawab Keenan ringkas seraya tersenyum sekilas. Ia lalu berjalan mendekati Kugy. Berjongkok di depannya. “Kenapa harus ngilang, Gy?” tanyanya halus.
“Aku juga nggak tahu kenapa,” Kugy menggelengkan kepala, “tiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tahu jawabannya.”
“Saya mau bantu kamu. Boleh?” Keenan lantas meraih tangan Kugy. “Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya.”
“Aku juga nggak tahu kenapa,” Kugy menggelengkan kepala, “tiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tahu jawabannya.”
“Saya mau bantu kamu. Boleh?” Keenan lantas meraih tangan Kugy. “Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya.”
Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi masih ia tahan.
“Itu satu hal. Masih ada lagi yang harus saya bilang,” Keenan mengatur napasnya, “saya sudah tahu soal Remi, Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorang, cuma dialah orangnya. Nggak ada lagi. Dia orang yang sangat, sangat baik. Kamu beruntung.”
“Kamu juga,” desis Kugy, “aku nggak sengaja ketemu Luhde di Ubud. Kami sempat mengobrol di pura. Dia ... dia seperti malaikat turun dari langit. Kamu beruntung, Nan. Jangan pernah melepaskan dia.”
Keenan terkesiap mendengar Kugy menyebut nama Luhde. Namun, pembicaraan Remi di kantornya kembali berulang ... waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde yang berubah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy yang juga berubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia memahami.
“Itu satu hal. Masih ada lagi yang harus saya bilang,” Keenan mengatur napasnya, “saya sudah tahu soal Remi, Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorang, cuma dialah orangnya. Nggak ada lagi. Dia orang yang sangat, sangat baik. Kamu beruntung.”
“Kamu juga,” desis Kugy, “aku nggak sengaja ketemu Luhde di Ubud. Kami sempat mengobrol di pura. Dia ... dia seperti malaikat turun dari langit. Kamu beruntung, Nan. Jangan pernah melepaskan dia.”
Keenan terkesiap mendengar Kugy menyebut nama Luhde. Namun, pembicaraan Remi di kantornya kembali berulang ... waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde yang berubah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy yang juga berubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia memahami.
“Luhde nggak layak disakiti,” desis Kugy lagi.
“Remi juga,” timpal Keenan lirih.
Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur. Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin perih.
“Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy,” bisik Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. “Bisa. Pasti bisa. Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa jadi sahabatmu.” Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.
“Iya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik,” Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah diucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya.
“Nan ...,” Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suaranya makin lirih, “banyak yang aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita. Kamu turun, ya, Nan. Pulang.”
Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. “Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy. Udah malam.” Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan pergi.
Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, meski langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh. “Nan ...,” panggilnya.
“Ya?” Keenan berbalik.
“Aku nggak kepingin, sepuluh ... dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu.” Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. “Nggak, Gy. Nggak akan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa.”
“Dan kamu yakin bisa?” tangis Kugy.
“Remi juga,” timpal Keenan lirih.
Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur. Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin perih.
“Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy,” bisik Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. “Bisa. Pasti bisa. Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa jadi sahabatmu.” Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.
“Iya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik,” Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah diucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya.
“Nan ...,” Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suaranya makin lirih, “banyak yang aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita. Kamu turun, ya, Nan. Pulang.”
Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. “Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy. Udah malam.” Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan pergi.
Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, meski langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh. “Nan ...,” panggilnya.
“Ya?” Keenan berbalik.
“Aku nggak kepingin, sepuluh ... dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu.” Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. “Nggak, Gy. Nggak akan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa.”
“Dan kamu yakin bisa?” tangis Kugy.
“Pasti ....” Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan, dan kegentaran. Namun, ia tak mungkin lagi mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari pandangan Kugy. Harus ada yang bisa, batinnya, kalau tidak .... Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia tak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini.
Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama....
Banyak hal dalam hidup ini tidak bisa dipaksakan karena memang bukan jalannya. hanya Dia yang tahu akan kemana alur cerita hidup ini berjalan. dan hanya Dia yang Maha Tahu alur terbaiknya. berusaha, berpasrah, dan tetap yakin padaNya itulah sejatinya jatah manusia.. jika memang telah ditakdirkan sesuatu untuk kita maka pasti akan menjadi bagian hidup kita pada akhirnya... jika memang telah ditakdirkan.. ingatlah.... jika :')
a song from Kugy to Keenan...
Tahu Diri
Hai selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada disini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernapas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan Cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil
'Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah bisa kita bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangi mu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan sgala khayalan gila jika kau ada
dan ku cuma bisa meradang menjadi yang disisimu
Membenci nasibku yang tak berubah
Dan upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil
'Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah bisa kita bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku tlah berjanji menyerah
Dan upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil
Dan upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil
'Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah bisa kita bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Pergilah, menghilang sajalah lagi...
Banyak hal dalam hidup ini tidak bisa dipaksakan karena memang bukan jalannya. hanya Dia yang tahu akan kemana alur cerita hidup ini berjalan. dan hanya Dia yang Maha Tahu alur terbaiknya. berusaha, berpasrah, dan tetap yakin padaNya itulah sejatinya jatah manusia.. jika memang telah ditakdirkan sesuatu untuk kita maka pasti akan menjadi bagian hidup kita pada akhirnya... jika memang telah ditakdirkan.. ingatlah.... jika :')

Comments:
Post a Comment