Siang hari, baru beres istirahat, pelajaran Agama. Saat itu saya kelas 2 SMA, kurang lebih.... 5 tahun yang lalu. Dih, udah lama juga ya? hehehe Jam pelajaran setelah istirahat adalah salah satu not good moment buat belajar (Alibi Detected! :D) karena yang dibayangin adalah pulang...pulang...dan pulang. Kalau dibumbui dengan cuaca mendung dan angin sepoi sepoi maka akan terjadi ngantuk moment sepanjang pelajaran. Tapi siang itu berbeda.
Nggak begitu ingat dengan gamblang nama bab yang dibahas. Namun, hari itu Guru Agama saya, bapak Atik Tapipin telah mengajarkan sesuatu yang masih terus melekat kuat dalam memori hingga kini.
"Apa tujuan hidup kita?" pertanyaan dari Guru saya yang pada saat itu cuma berhasil bikin saya bengong-bengong-so-mikir. Kemudian beliau melanjutkan sembari mencontohkan pada salah satu teman kelas, seorang siswa anggota Pecinta Alam, "Jika suatu saat kalian tersesat, misalnya Oris (nama teman saya) lagi tersesat di gunung, bingung nggak tahu mau kemana, maka ingatlah selalu surat Adz-Dzariyat ayat 56 : "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." itulah tujuan hidup kita."
Pesan tersebut nggak cukup berhasil "menyetrum" otak ababil saya pada saat itu. Tapi sungguh pesan itu terus terngiang. Dan setelah melalui berbagai liku di labirin kehidupan saya semakin paham dengan apa yang disampaikan beliau 5 tahun silam.
Beribadah kepada Allah. Itulah sejatinya tujuan hidup kita di dunia ini. Lalu apa ibadah berarti melakukan hubungan vertikal selama 24 jam? Sepertinya bukan. Mengapa? Karena tauladan kita pun, Rasulullah Muhammad SAW tidak melulu berada di Mesjid 24 jam, sholat, dzikir, dan melakukan ritual ibadah lainnya. Beliau juga bekerja, menghidupi keluarga, berbagi ilmu, berjihad.
Artinya, ibadah itu bermakna luas. Ibadah tidak terbatas hubungan vertikal dengan sang pencipta dan terbatas tembok Mesjid saja. Hidup adalah tentang membuat segala aktivitas kita selama 24 jam menjadi ibadah. Belajar menjadi ibadah, bekerja menjadi ibadah, makan dan minum menjadi ibadah, membaca menjadi ibadah, menulis menjadi ibadah, nonton TV menjadi ibadah, ngobrol menjadi ibadah, masak menjadi ibadah, dan beribu kegiatan lainnya kita jadikan ibadah. Bagaimana caranya? Lakukanlah segala kegiatan dari hati dengan niat Lillahi Ta'ala. Semua hanya untuk Allah. Maka In Shaa Allah semua kegiatan kita menjadi ibadah dimataNya.
Jika prinsip "semua hanya untuk Allah" ini kita pegang dengan kuat, in shaa Allah mampu mengurangi frekuensi kegiatan nggak bermanfaat dalam hidup kita. Misalnya nih kalau yang sering saya alami, pas saya mau males-malesan, keinget prinsip ini, malah jadi malu sendiri. Ya masa iya saya mau meniatkan males-malesan ini untuk Allah, kan ngga sinkron banget. hehehe Begitulah contoh kecilnya. Selain itu, prinsip ini juga selalu sukses menjadi charger saya saat bekerja dengan mengubah lelah menjadi Lillah :) Pokoknya prinsip ini mampu membuat hidup menjadi lebih hidup!
Terima kasih kepada Gurunda Bapa Atik Tapipin yang telah mengingatkan tentang hakikat kehidupan. Firman Allah Surat AD-Dzariyat : 56 akan selalu saya jadikan sistem navigasi. Terlebih saat mulai melenceng dan tersesat. Karena tersesat dalam kehidupan itu jauh lebih mengerikan dari sekedar tersesat di jalan.
Dan pemikiran panjang ini diikuti oleh sebuah pertanyaan kecil yang mungkin menggelitik bagi sebagian orang. Terkadang memang otak saya memproduksi unpredictable question. Jika kita manusia dan golongan jin diciptakan Allah untuk beribadah dan mengabdi padaNya. Lalu kenapa Allah menciptakan dua golongan makhluk hidup lain di dunia ini, yaitu hewan dan tumbuhan? Untuk apa? i mean, saya tahu bahwa hewan dan tumbuhan mengabdi pada Allah dengan cara mereka sendiri, dalam diam mereka berzikir walau tak bisa tertangkap indera pendengaran kita. Tetapi Allah tidak memasukan hewan dan tumbuhan dalam ayat ke 56 surat Adz-Dzariyat. Berarti bukan itu tujuan utama mereka ada. Then Why?
Pertanyaan yang tergolong cukup aneh dan kurang kerjaan mungkin, jadi tidak diutarakan pada siapapun. Saya renungkan saja sendiri. Tidak lebih dari satu jam hingga perenungan saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa...ternyata..apa yang saya konsumsi setiap hari...semua...berasal..dari...hewan dan tumbuhan :') Saya pun membayangkan bumi tanpa hewan dan tumbuhan. Akan jadi apa kita ini? Tidak ada bahan makanan = tidak ada energi. Mungkin umur manusia hanya akan bertahan dalam itungan minggu atau hari. Ya Rabb, sungguh begitu besarnya kasih sayangMu pada kami, manusia yang hina dan sering membangkang ini. Hewan dan tumbuhan juga berkontribusi banyak dalam kehidupan manusia dan keseimbangan alam. Sungguh, tiada suatu kesia-siaan pun atas segala yang Allah ciptakan.
Pertanyaan yang tergolong cukup aneh dan kurang kerjaan mungkin, jadi tidak diutarakan pada siapapun. Saya renungkan saja sendiri. Tidak lebih dari satu jam hingga perenungan saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa...ternyata..apa yang saya konsumsi setiap hari...semua...berasal..dari...hewan dan tumbuhan :') Saya pun membayangkan bumi tanpa hewan dan tumbuhan. Akan jadi apa kita ini? Tidak ada bahan makanan = tidak ada energi. Mungkin umur manusia hanya akan bertahan dalam itungan minggu atau hari. Ya Rabb, sungguh begitu besarnya kasih sayangMu pada kami, manusia yang hina dan sering membangkang ini. Hewan dan tumbuhan juga berkontribusi banyak dalam kehidupan manusia dan keseimbangan alam. Sungguh, tiada suatu kesia-siaan pun atas segala yang Allah ciptakan.
Dengan tujuan hidup yang telah jelas tertera dalam Al-Qur'an, ditambah dengan kesadaran besarnya kasih sayang Allah terhadap kita, maka sepertinya kita tidak perlu banyak ngeles lagi untuk melakukan penghambaan dan pengabdian terbaik pada Allah. Siap? Mari kita laksanakan!
Semoga Bermanfaat :)
@dinott
@dinott

Comments:
Post a Comment