October 18, 2013

Mengapa Menulis?

Jum'at 11 oktober 2013 saya mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh para mahasiswa FISIP UNPAD di jatinangor. Untuk acara istimewa ini saya bela-belain cuti hehehe. dari dulu sangat ingin sekali bisa mengikuti workshop kepenulisan, tapi belum diijinin terus sama Allah. Sampai akhirnya....di fan page salah satu penulis favorit saya tertera sebuah event invitation workshop kepenulisan dan beliau menjadi pembicaranya. wuih such a combo!

Darwis Tere Liye, biasa dipanggil bang Tere. Seorang penulis hebat yang telah melahirkan banyak buku best seller dan sebagian telah difilmkan seperti Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, dan yang paling baru Moga Bunda Disayang Allah. Kepiawayan beliau dalam mendeskripsikan seluruh setting secara sangat detail, gaya bahasa yang simple tapi sarat makna, kemampuannya untuk menarik para pembacanya ikut masuk ke dalam cerita adalah kelebihan-kelebihan penulis novel Kau,Aku, dan sepucuk Angpau Merah ini. Sehingga beliau berhasil mencuri hati para penikmat novel untuk terus mengkonsumsi karyanya. Tak hanya itu, ketegasan beliau dan keteguhan dalam memegang prinsip hidupnya menjadi salah satu ciri khas bang Tere yang tak kalah menarik dan bikin penasaran.

Saat mengisi workshop, tidak seperti penulis atau tokoh terkenal pada umumnya, beliau tidak pernah mau foto bareng. Keunikan lainnya adalah prinsip beliau yang tidak ingin kehidupan pribadinya terekspos. Hanya ingin dikenal simply sebagai penulis, itulah alasannya. Maka jangan heran jika biodata detail beliau sulit ditemukan dalam media bentuk apapun. Bikin penasaran kan? hehe itulah keunikan beliau ;) bahkan ketika seorang pembacanya menyatakan bahwa dia ngefans sama bang Tere, beliau langsung menolak dan bilang "No, no, no, kamu ngga usah ngefans sama saya. cukup bilang, kamu suka dengan karya-karya yang saya buat." ♥

Dan beliaulah orang yang saya maksud diawal postingan ini :) such an honour buat saya bisa belajar langsung dari seseorang yang karyanya sudah diakui di dunia tulis menulis. Itulah kenapa sampai rela cuti demi workshop menulis ini. it was a golden chance for me :)

Workshop ini terbagi menjadi dua sesi, dan bang Tere mengisi sesi kedua. 5 tips menulis beliau bagikan pada sekitar 200 peserta yang hadir. tidak akan saya bahas semua disini, in shaa Allah di postingan lain. Ada satu pesan bang Tere yang menjadi pengantar sebelum beliau berbagi 5 tips menulis. Sebuah pesan yang menjadi dasar dari segala torehan kata yang tercipta.

Berawal dari sebuah pertanyaan "mengapa harus menulis?" dan mengalirlah sebuah pesan sederhana bermakna dalam dari seorang Darwis Tere Liye. Dengan nada bicara laiknya pak Mario Teguh beliau berkata, "Setiap orang punya alasan masing-masing untuk menulis. Maka gigitlah alasan itu hingga kamu menjadi penulis."

Nasihat ini selaras dengan apa yang disebutkan oleh Bunda Sofie Beatrix dalam bukunya Jangan (Takut) Jadi Penulis. Beliau menginstruksikan para pembaca untuk membuat motivasi menulis dan menempelkannya di dinding kamar. Kurang lebih sudah 4 bulan lamanya sebuah kertas A4 menempel indah di dinding kamar saya lengkap dengan motivasi menulisnya :)

Jadi mengapa saya harus menulis? Bismillah...Ada dua alasan dasar mengapa saya ingin terus menulis.
1. Menulis adalah passion saya. Passion adalah kado istimewa yang Allah anugerahkan pada setiap manusia yang sangat harus disyukuri. Bentuk kesyukuran paling nyata, yaitu mengoptimalkan dan mengembangkannya. Maka untuk membuktikan rasa syukur, saya harus menulis.
2. Menulis = Menebar manfaat. Visi Dunia saya adalah ingin menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Menulis adalah salah satu langkah nyata yang akan saya ambil.

Sesuai pesan bang Tere, alasan tersebut akan saya gigit terus, hingga tidak hanya sekedar menjadi penulis tapi mampu memproduksi tulisan yang dapat memberi manfaat bagi para pembacanya. Dan pada akhirnya bisa menjadi sebuah prestasi yang dapat saya banggakan dihadapanNya kelak. aamiin :')

Kemalasan, susah cari ide, bingung dalam penggunaan kata yang baik, dan masih banyak hambatan-hambatan lain yang menghantui dalam proses menulis. Saat para resistor itu datang maka saya harus ingat pada apa yang saya gigit, mengencangkannya, dan tentu saja...mulai menulis.

"Dengan membaca kita tahu dunia. Dengan menulis dunia tahu kita."
Sofie Beatrix

semoga bermanfaat ♥
@dinott

Comments:

Post a Comment

Free Blog Template by June Lily