Assalamu'alaikum reader :) (kalau ada) hehehe
hari ini saya membaca sesuatu yang luar biasa sukses membuat air mata saya mengalir dengan derasnya. membuat diri ini tertegun dan merenung. Sesuatu itu saya baca di buku keduanya kak Oki Setiana Dewi : Sejuta Pelangi. Buku ini berisi kumpulan kisah nyata inspiratif yang dialami oleh sahabat - sahabat ka OSD bahkan oleh ka OSD sendiri. Salah satu bahasan dari buku ini ada yang berjudul 'Cinta Rasulullah'. Semoga postingan ini membawa berkah bagi kalian yang membaca ya aamiin :) Berikut tulisan dari ka OSD yang berhasil menjebol kran air mata saya hari ini:
hari ini saya membaca sesuatu yang luar biasa sukses membuat air mata saya mengalir dengan derasnya. membuat diri ini tertegun dan merenung. Sesuatu itu saya baca di buku keduanya kak Oki Setiana Dewi : Sejuta Pelangi. Buku ini berisi kumpulan kisah nyata inspiratif yang dialami oleh sahabat - sahabat ka OSD bahkan oleh ka OSD sendiri. Salah satu bahasan dari buku ini ada yang berjudul 'Cinta Rasulullah'. Semoga postingan ini membawa berkah bagi kalian yang membaca ya aamiin :) Berikut tulisan dari ka OSD yang berhasil menjebol kran air mata saya hari ini:
Cinta Rasulullah
Cintakah kau kepada nabi-Mu? Pertanyaan ini menghampiriku beberapa tahun silam. Bibirku mengucapkan, iya. Namun perbuatan dan hatiku tidak menunjukkan demikian. Siapa idolamu? Meluncurlah nama Rasulullah Saw. dari lisanku. Namun, ketika ditanya apa yang membuatku mengidolakannya, aku hanya mampu menjawab, "Karena Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah yang mengenalkan manusia kepada penciptanya."
Saat itu, aku hanya tahu siapa Nabi Muhammad Saw. dari buku-buku agama di sekolah. Hanya mendengar sambil lalu saja kisah yang terus berulang mengenai Nabi Muhammad Saw. Beliau nabiku, oleh karena itu aku cinta. Titik.
Ternyata... aku membohongi diriku sendiri. Apa yang aku katakan itu benar-benar semu dan klise. Aku menipu diriku sendiri dan dengan entengnya mengucapkan kata cinta. Kala itu, aku tak pernah merasa rindu kepada Rasulullah Saw. Bibirku memang sering memanjatkan shalawat, tapi tak pernah ada rasanya di hati ini. Ternyata... cinta mudah diucapkan karena lidah tak bertulang. Aku mengaku cinta, padahal aku sedikit sekali mengenal Rasulullah Saw. mengaku cinta, tapi gaya hidup jauh dari contoh-contoh yang Rasulullah berikan. Lalu.. pantaskah aku berkata aku mencintainya?
Aku telah berdusta.
Cinta hadir karena adanya pengetahuan. Semakin dalam pengetahuan terhadap sesuatu, semakin kuatlah cinta itu. Maka, sejak hari itu, hari ketika aku menyadari bahwa diriku telah berdusta, aku mulai berusaha dengan berbagai cara untuk menumbuhkan cintaku kepada Rasulullah Saw. Aku berusaha dengan berbagai cara untuk mengenalnya lebih dekat, meski terpisah ratusan abad! Aku ingin cintaku kepadanya tumbuh, mengalir indah, hingga aku bisa menikmatinya sebagai rindu kepada kemuliaan sifatnya. Sungguh, saat itu, aku belum merasakan cinta kepada beliau.
Kubeli berbagai macam buku mengenai kisah Nabi Muhammad Saw. Kupacu diriku untuk terus menerus mengenal siapa Nabiku itu. Aku harus mengenal beliau agar cinta ini tumbuh di hatiku. Aku coba membolak-balik terjemahan Al-Quran, menonton film yang menceritakan perjuangan beliau dan merintih kepada Allah sambil berbisik.. Aku belum merasakan cinta kepadanya.. Aku belum merasakan cinta kepadanya ...
Hari-hari berjalan, aku pun berusaha menumbuhkan cinta dari waktu ke waktu ... berusaha untuk terus mengenal sosoknya.
Abu Bakar, ketika baru sadar dari pingsannya, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah, "Bagaimana keadaan Rasulullah?" Padahal, saat itu keadaannya sendiri sudah hampir mati dan darah terus mengucur dari hidungnya karena dianiaya kaum musyrikin.
Khubaub ibn Adi yang ketika itu ditangkap oleh kafir Quraisy dan hendak dibunuh, ketika diajukan pertanyaan, "Sukakah kamu jika Muhammad menggantikan posisimu di tempat ini, sedangkan kamu duduk bersama keluargamu dengan selamat?", Khubaib menjawab, "Demi Allah, aku tidak suka jika Muhammad terkena duri di tempatnya sekarang ini, sementara aku duduk santai dengan keluargaku." ia pun dibunuh setelah sebelumnya menjalankan shalat dua rakaat.
Tak berbeda dengan jawaban Zaid ibn Dutsnah yang memiliki kisah serupa dengan Khubaib ibn Adi. Di tengah berkecamuknya Perang Uhud dan tersebar desas-desus Nabi Muhammad Saw. telah terbunuh, seorang wanita berlari memasuki kancah peperangan dan mencari-cari Rasulullah Saw. Ia melihat saudara-saudaranya telah menjadi mayat. Begitu ia tahu Rasulullah Saw. masih hidup, wanita itu berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan memedulikan (apa pun yang menimpa diriku) selama engkau selamat."
Menjelang wafat, dalam keadaan yang sekarat, Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabat dan keluarganya. Semua menangis sedih melihat keadaan Rasulullah Saw. Beliau lalu bertanya dengan suara lemah, "Adakah di antara kalian yang pernah aku sakiti?" Tak ada yang menjawab, Rasulullah Saw. bertanya lagi hingga ketiga kalinya. Seorang laki-laki pun berdiri menuju Nabi, dialah Ukasyah ibn Muhsin. "Ya Rasul Allah, dulu aku pernah bersamamu di Perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku." ucap Ukasyah.
Semua yang ada di ruangan itu kaget, tega sekali Ukasyah berkata seperti itu saat Rasulullah Saw. dalam keadaan sekarat. Semua air mata sahabat yang ada di situ mengalir deras. Rasulullah Saw. lalu menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putrinya, Fathimah. Bilal tampak begitu berat menunaikan perintah Nabi itu. Ia tak ingin cambuk yang dibawanya melecut tubuh sang kekasih, namun Bilal juga tidak berani melawan perintah Nabi. Segera setelah sampai, cambuk diberikan kepada Nabi dan dengan cepat cambuk berpindah ke tangan Ukasyah. Masjid seketika dipenuhi gemuruh suara para sahabat.
Tiba-tiba dari barisan terdepan maju sosok berwajah sendu dan berjanggut basah oleh air mata, Abu Bakar, dan sosok pemberani yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Umar ibn Al-Khaththab. Mereka berkata, "Hai Ukasyah, pukulah kami berdua, sesukamu. Pilihlah bagian mana yang paling kau inginkan, qisas-lah kami." Rasulullah Saw. menggelengkan kepalanya dan menyuruh kedua sahabat duduk.
Melihat Abu Bakar dan Umar duduk, Ali ibn Abu Thalib pun berdiri di depan Ukasyah dengan berani. "Hai Hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan qisas Rasul. Inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apa pun, deralah aku." Rasulullah Saw, kembali menggeleng dan menyuruh Ali duduk.
"Hai Ukasyah, engkau tahu, kami ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah Saw., kami darah dagingnya, bukankan ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mencambuk Rasul juga." Hasan dan Husein tampil di depan Ukasyah. Namun, Rasulullah menyuruh cucu yang sangat dicintainya itu untuk duduk.
Masjid dipenuhi isak tangis. Tak ada seorang pun yang rela kekasih Allah ini dicambuk dalam keadaannya yang sekarat.
Ukasyah berjalan ke arah Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri untuk menghalangi Ukasyah mengambil qisas. "Wahai Ukasyah inilah ragaku, cambuklah sesukamu." Nabi selangkah mendekatinya.
"Ya Rasul Allah, saat engkau mencambukku, tak ada sehelai kain pun yang menghalangi lecutan cambuk itu." ucap Ukasyah.
Tangis semakin deras mengalir, semakin kencang terdengar. Nabi Saw. tak berucap sepatah kata pun. Nabi Saw. melepaskan gamisnya dam tersingkaplah tubuh sucinya. Pekik takbir yang pilu mulai menggema.
Melihat tubuh Nabi Saw. Ukasyah langsung membuang cambuknya dan berlari memeluk tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, erat ... erat sekali. Tangisnya pecah. Perasaan kerinduan kepada Nabi ia tumpahkan saat itu. Ukasyah menangis gembira, berteriak haru, gemetar bibirnya berucap, "Tebusanmu, jiwaku, Ya Rasul Allah. Siapakah yang sampai hati meng-qisas manusia mulia sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku bisa melekat denganmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka."
Lihatlah rasa cinta yang ditunjukkan Ukasyah.
Bagaimana dengan Bilal ibn Rabah? Bilal yang suara indahnya selalu dirindukan untuk mengumandangkan azan, setelah Rasulullah Saw. wafat tak mau lagi mengumandangkan azan. Itu karena ia selalu menangis tersedu-sedu hingga pingsan ketika mengucapkan, "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah..."
Saat Bilal hampir menemui ajalnya, istrinya menangis. Tapi Bilal berkata, "Sungguh gembiranya aku.... Esok aku akan bertemu dengan orang-orang yang kukasihi. Muhammad dan sahabat-sahabatnya."
Membaca kisah cinta para sahabat kepada Rasulullah Saw., tak terasa membuat air mata menggenangi sudut mataku. Bagaimana mungkin ada yang mencintai sedalam itu bila orang tersebut tidak istimewa?
Sosok yang begitu agung dan bijaksana. Penuh kelembutan namun perkasa, yang tak pernah menyimpan dendam dan begitu tulus berkorban untuk umatnya, yang selalu tersenyum mendoakan kala mendapati siksaan dan berbagai macam ancaman. Lagi-lagi aku tertegun, "Bagaimana mungkin aku tak mencintainya?"
Rasulullah Saw. yang menerima banyak sekali penganiayaan, dilempari kotoran hewan ketika shalat di depan Ka'bah, dilempari batu, dituduh sebagai tukang sihir dan orang gila, terusir dari kampung halamannya sendiri, dan kehilangan orang-orang yang beliau cintai, apakah masih juga tak bisa kucintai ketika beliau melakukan itu semua untukku, untuk para manusia agar mengenal dan menyembah Tuhannya..?
Rasulullah Saw. yang sering bersedih karena melihat umatnya yang tidak mau beriman, yang mendoakan umatnya dalam setiap shalatnya, yang sangat menginginkan kebaikan untuk umatnya.... Beliau yang rela mengorbankan segalanya.
Rasulullah Saw. yang terus meminta kepada Allah ketika peristiwa Isra' Mi'raj agar jumlah rakaat shalat dikurangi karena beliau khawatir umatnya tidak bisa menjalankannya. Begitu jauh ia berpikir, dan semua itu untuk kebahagiaan umatnya, kebahagiaanku juga.
Rasulullah Saw. yang si khutbah terakhirnya berdoa, "Mudah-mudahan Allah menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian, mudah-mudahan Allah menolong kalian, mudah-mudahkan Allah meneguhkan kalian, mudah-mudahan Allah menguatkan kalian, mudah-mudahan Allah menjaga kalian..."
Rasulullah Saw. yang mencintai umatnya ... yang di akhir hayatnya, sempat mengucapkan, "Umatku... unatku... umatku..., " yang memikirkan bagaimana umatnya kelak sepeninggalnya: apakah akan taat atau durhaka kepada Allah ... Rasulullah Saw. yang di sela-sela rasa sakit sakaratulmaut yang dahsyat - saat bernapas saja seolah melewati lubang jarum - masih sempat memohon lirih kepada Allah, "Ya Allah ...., dahsyat nian maut ini. Timpakan saja semua maut (rasa sakit) kepadaku, jangan kepada umatku ... "
Masih tak terasakah cinta di dalam dadaku?
Rupanya, selama ini hati dan pikiranku disibukkan dengan berlomba-lomba mencari kenikmatan duniawi sehingga aku tak memiliki waktu untuk menumbuhkan perasaan cintaku.
Aku hanya mengisi hati dan pikiranku untuk semua hal yang berhubungan dengan dunia, mencintai keluarga dan sanak saudara, namun lupa siapa pembawa kebenaran nyata bagi umatnya.
Rasulullah Saw. pernah menangis dan bersabda, "Aku merindukan saudara-saudara seiman," Para sahabat bertanya, "Bukankah kami saudara-saudara seimanmu ya Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab, "Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudara-saudara seimanku adalah kaum yang hidup setelahku, mereka beriman kepadaku, padahal mereka belum pernah melihatku."
Betapa indahnya, betapa terhormatnya disebut saudara oleh Baginda Nabi Saw. yang mulia. Betapa aku selama ini tidak pernah tahu bahwa begitu indah merindukannya. Bahkan, Allah telah memerintahkan manusia untuk bershalawat atasnya. Innallaha wa mala'ikatahu yushalluna 'alan nabi, ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wasallimu taslima....
Betapa sombongnya diri ini ... Rasulullah Saw. mencintai dan memikirkan umatnya, merindukan umatnya, tapi aku yang mengaku sebagai umatnya tak memiliki cinta untuknya. Aku tidak dapat mengenal Allah tanpa Rasulullah. Aku tidak akan bisa memahami dan mengamalkan Al-Quran tanpa Rasulullah. Aku tak akan menganal Islam dan takkan selamat tanpa syafaatnya. Lalu...., bagaimana mungkin aku mengaku beriman sedang aku tidak mencintainya?
Dari Shanabih, Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya aku menunggu kamu sekalian di telaga dan aku berbangga denganmu di depan umat lainnya. Maka janganlah kamu saling berbunuhan setelahku" (HR Ibn Hibban)
Tak terasa air mata ini kembali mengalir. Subhanallah begitu cintanya Rasulullah Saw. kepada kita, umatnya. Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk Beliau? Seberapa banyakkah pengetahuan kita tentang Beliau? Atau kita lebih tahu silsilah dan kisah tentang artis favorit kita? Astaghfirullahaladzim.. :'(
Ampunilah segala dosa hambaMu ini Ya Alloh. washalallahu 'alaa sayidina Muhammad wa 'ala 'ali sayyidina Muhammad. Asyhadua An Laa ilaahailallah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.
Satu satu nya cara yang bisa kita lakukan sebagai apresiasi cinta kita terhadap Rasulullah Saw. adalah dengan meneladani Akhlak Beliau, Sudahkah kita? Saya masih jauh dari hal tersebut. Tetapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai berubah ke arah lebih baik. Apalagi di Jalan Alloh, InsyaAlloh :)
berubah sedikit demi sedikit dan istiqomah. Untuk istiqomah pasti akan sulit, tapi sulit bukan berarti tidak bisa.
Semangat kawan! Mudah-mudahan kita dapat merasakan nikmatnya bertemu dengan sang kekasih Alloh di Surga nanti. Aamiin Ya Allah Ya Rabbal 'Alamiin :)

Comments:
Post a Comment