Milyaran manusia hidup di muka bumi memiliki visi hidup yang beragam, keinginan yang menggunung, dan kebutuhan yang bejubel. Namun, selalu bisa ditarik satu kesimpulan yang sama bahwa semua manusia menginginkan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya. Tak jarang kegiatan saling sikut, perampasan hak, penindasan, dan hal hal mengerikan lain mewarnai kehidupan ini. tujuannya satu : untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Berita kriminalitas baik yang level rendahan (baca : perampokan) ataupun level elit (baca: korupsi) menjadi makanan kita sehari-hari.
Lalu apakah dengan kebutuhan yang terpenuhi kita akan merasa otomatis bahagia dan merasa puas? Bisa jadi iya. Terlepas dari cara apapun yang ditempuh, saat kita memperoleh apa yang diidamkan kepuasan akan merasuki batin kita.
Jadi itukah tujuan kita hidup? itukah tujuan Allah menciptakan manusia? hanya tentang pemenuhan kebutuhan pribadi? Ini yang menarik. Saya rasa tidak mungkin Allah dengan keMaha BesaranNya menciptakan kita hanya sekedar urusan remeh temeh yang dinamakan "pemuasan kebutuhan pribadi". Life is more than that.
Saya senang sekali mengikuti kisah jejak jejak kesuksesan seseorang. Ada banyak tokoh dunia yang saya kagumi. Nabi Muhammad S.A.W, Muhammad Al Fatih, Jamil Azzaini, B.J. Habibie, Ridwan Kamil, dan masih banyak sosok sosok inspiratif lain yang menjadi guru kehidupan saya.
Mereka adalah tokoh yang berperan aktif dan berprestasi dengan keahlian masing masing. Dari perbedaan keahlian dan profesi yang ditekuni satu kesimpulan yang menarik adalah mereka berbuat tidak hanya untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kesejahteraan bersama. Untuk temen temen yang penasaran, bisa di googling satu persatu nama nama yang saya sebutkan tadi ;)
Orang kaya di dunia ini banyak. Tokoh tokoh yang saya sebutkan tadi Alhamdulillah dikaruniai harta yang berlimpah. Para pejabat korup pun dititipi gelimangan harta. Tapi kedua jenis ini berbeda. Lantas apa yang membedakan keduanya? Ini hasil observasi pribadi dengan segala kekurangan pemahaman ilmu. Tapi menurut kacamata pribadi saya. Perbedaan mencolok dari kedua golongan tersebut adalah : golongan pertama berfokus pada pemberian manfaat pada manusia lain sehingga harta mengikuti mereka dengan sendirinya. Sedangkan golongan kedua fokus pada gelimangan harta tanpa mempedulikan manusia lain. Kualitas hidup mereka sangat jelas berbeda.
Keberlimpahan harta yang dimiliki bukanlah parameter berkualitas atau tidaknya hidup seseorang. Seberapa banyak manfaat yang kita sebar untuk bisa meringakan beban orang lain itulah parameter sejati untuk menentukan kualitas hidup.
Harta juga bukan indikasi kita untuk bisa memberikan manfaat atau tidak. Tidak usah menunggu kaya untuk bisa bermanfaat.
Mendengarkan teman curhat, membantu orang tua, membantu teman untuk
memahami pelajaran yang sulit di sekolah, membuang sampah pada
tempatnya, adalah hal hal yang mungkin kita anggap sederhana tapi bisa
menjadi berarti untuk orang lain. Great things comes from small things.
Hidup hanya untuk pemuasan kebutuhan pribadi itu sudah ketinggalan
jaman. Hidup bukan hanya tentang aku, tapi hidup adalah tentang kita. Bukankah sabda Rasulullah jelas mengatakan bahwa "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Haditsnya tidak berbunyi "Sebaik baik manusia diantaramu adalah manusia yang paling banyak hartanya". rite?
"Kuantitas tak selalu menjamin hidup berkualitas. Kualitas hidup ditentukan oleh besar manfaat yang diberikan :)" - Diny Gustini
Wallahu'alam
semoga bermanfaat :)

Comments:
Post a Comment