Mengapa kita diberikan dua telinga dan satu mulut? Karena kita harus lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Sering banget pasti kan mendengar kalimat itu. Ternyata memang tidak diragukan lagi kebenarannya guys! :) Beberapa pengalaman hidup mengajari saya langsung tentang hal ini.
Saya pernah ngobrol sama seorang teman yang katanya susah dinasihatin,
sebut saja si A. Waktu itu dia cerita tentang keluhannya diperlakuin
nggak enak sama teman lain, yaitu dinasihatin dengan cara marah-marah.
Kedua telinga saya buka lebar-lebar untuk mendengar semua keluhan
terpendamnya. Berdasarkan ceritanya sih memang A ini melakukan
kesalahan, tapi saya dengerin dulu aja sampai dia mengeluarkan semua
unek-uneknya. Akhirnya saya coba tengahin, sebenarnya teman-temannya itu
peduli cuma caranya yang salah. Terus saya coba luruskan juga tentang
kesalahannya. Apa yang saya bilang sama si A ini sebenarnya sama aja
dengan apa yang dikatakan teman-temannya. Cuma cara menyampaikannya
yang dibedain. Dan si A bilang inilah yang dia inginkan. Dia ingin teman-temannya itu nanya dulu lah kenapa bisa melakukan hal itu, dengarkan dulu alasannya, bukan langsung dibombardir dengan kalimat-kalimat penuh amarah. Nah kan terbukti pentingnya mendengar :)
Asal comment, sembarang menjudge, main marah-marah tanpa tahu pasti apa masalahnya adalah hal-hal yang mungkin tanpa kita sadari sering kita lakukan. Itulah saat dimana kita menutup kedua telinga kita rapat-rapat dan membiarkan mulut yang sebenarnya kalah jumlah sama telinga buat bekerja tanpa pikir panjang. Dan sebenarnya hal ini bisa dipastikan kelakuan yang positif.....nyebelin. hehehe Jadi sikap-sikap di atas wajib kita waspadai dan hindari.
Kenapa sih kita bisa melakukan hal-hal positif nyebelin itu? Pertama, karena kita merasa betul atau lebih tepatnya so betul, ditambah dengan jiwa so tahu alhasil mulut kita ngomong seenaknya aja. Asal bunyi. Walaupun bisa jadi apa yang dikatakan memang benar, tapi kedengarannya ngga enak dan jadi males aja buat didengerin.
Penyebab kedua adalah faktor "nggak suka". Biasanya saat kita nggak suka sama seseorang semua yang dilakuin dia selalu terlihat salah di mata kita. Kalau dia ngelakuin kesalahan dikit wih langsung nyerocos persis kayak komentator bola. Terus beluber ngomongin borok-boroknya. Diakhiri dengan so menasihati menggunakan kata-kata pedas level 10. Saking pedasnya bisa sampai keluar api tuh dari mulutnya. Menyeramkan sekali. Padahal di saat orang lain melakukan hal yang sama, kita nggak seheboh itu nanggepinnya. Biasa aja, datar.. kayak ekspresi mukanya si brown boneka Line. Ini bahaya banget karena kita udah kehilangan unsur objektif dalam menilai dan menasihati.
Maka kita perlu menghindari dua hal di atas agar kita nggak jadi manusia yang asal bunyi, suka berkomentar negatif, menjudge orang mentah-mentah, dan marah-marah nggak jelas. Jangan harap saat kita menasihati atau mengingatkan orang lain dengan cara-cara sesat tersebut, maka dia akan menerima dengan enak lalu seketika berubah menjadi anak baik yang penurut. Yang ada dia bakal males dengerin. Dan memang begitu juga yang saya rasakan. Bukannya mengikuti apa yang dikatakan malah jadinya males dan nggak respect. Makanya saya selalu berusaha untuk nggak melakukan itu ke orang lain.
Dari pengalaman pribadi dan orang lain saya pun belajar untuk menahan mulut dan membiarkan kedua telinga bekerja terlebih dahulu. Untuk berkomentar kita membutuhkan cukup informasi biar nggak nyerocos nggak bermutu. Dan untuk mendapatkan informasi itulah kita butuh banyak mendengar. Jika kita belum betul-betul paham duduk permasalahannya maka tahanlah dulu sebentar mulut kita untuk ngasih komentar. Saya juga pernah tuh main seruduk asal bunyi, nada bicara langsung tinggi, nyerocos so betul. Eh taunya setelah mendengar cerita jelasnya saya jadi malu sendiri karena ternyata apa yang saya pikirkan itu salah. hahaha jadinya gendok bin malu abis :D
Jadi saat kita dihadapkan dengan suatu masalah, hal pertama yang harus dilakukan adalah tahan emosi. Don't let emotion take control of you, you're the one who control your emotion. Kemudian bukalah telinga selebar-lebarnya. Belajar mendengar. Setelah kita betul-betul paham jenis permasalahannya seperti apa barulah mulut kita bekerja. Dan jangan lupa fungsi otak kita untuk berpikir. Akal dan pikiran berfungsi untuk menyaring informasi yang kita terima lewat telinga, jadi saat mendengarkan kita bisa menilai secara objektif. Jangan sampai kita membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Selain itu, gunakan pula pikiran kita untuk memilah perkataan yang hendak keluar dari mulut agar pesannya tersampaikan dengan benar. Ingatlah pesan Rasulullah Muhammad SAW :
Coba telanlah dulu kata-kata yang akan kita keluarkan. Kalau rasanya pait, maka diam jauh lebih baik :)
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia
berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ada satu hal lagi yang penting, yaitu libatkan hati. Apa yang datang dari hati maka akan sampai ke hati juga. Tapi jika datangnya dari ego maka akan sampai pula ke ego, jadinya perang ego deh. Akhirnya masalah malah bertambah rumit. Bakalan kerasa beda lho orang yang menasihati dengan melibatkan hati dan yang nggak melibatkan hati. Orang yang nggak melibatkan hati inilah yang cenderung meledak-ledak kayak gunung berapi meletus. Sereeeem man! Berbeda dengan orang yang melibatkan hati, ia menasihati benar-benar atas dasar kepedulian, penyampaiannya akan enak didengar sekalipun ada ketegasan didalamnya. Jadi perlu diwaspadai nih kalau kita menasihati orang lain dengan cara anarkis marah-marah membabi buta. Apa bener tuh kita peduli? Atau cuma bentuk penyaluran emosi berbalut so peduli? Mari kita evaluasi ;)
Semoga Bermanfaat :)
@dinott

good job :) ini baru cara menasihati yg baik dan benar... harus ditelaah dulu duduk permasalahan,jangan asal maen jebreed aja ..hhe
ReplyDeleteterus berkarya ya :)