March 20, 2014

Pelajaran Futur Edisi Terbaru

Dilanda futur adalah hal yang sangat meresahkan. Walaupun secara sadar tahu persis itu adalah sunatullah, dilanda berkali kali tidak menjadikan semuanya menjadi lebih mudah.

Daripada bahas futurnya, akan lebih baik kan membahas hasil dari kurikulum futur season ini. Hehe Futur membuat diri mendadak puitis (saya sih *nyengir*) tiba tiba seliweran kata bumbu galau.. Kemarin sempet ditulis di memo handphone dan ini hasilnya

"Kau tahu berjalan tanpa arah itu jauh lebih menyakitkan dibanding terjatuh karna gagal. Setidaknya saat gagal, walaupun terkadang kita harus terhenti sejenak, bernapas, kita tahu akan dikirim kemana selanjutnya langkah kedua kaki ini.

Adapun berjalan tanpa arah, kaki kaki berarak bergerak tapi kehidupan sejatinya berhenti. Hanya ada langkah langkah kosong, apa yang dituju, mau kemana, bingung. Bukankah itu jauh lebih menyakitkan? "

Gimana? Cukup galau kan? Hehehehe lucu juga sih saat dibaca ulang. Tapi itu membuatnya sepenuh hati dan dari hati :')

Diselimuti kesedihan karena merasa sedang gagal menjadi nahkoda yang baik bagi hidup sendiri. Entah karena sistem navigasi yang jelek atau angin yang terlalu kencang berhembus. Atau bisa jadi terbajak oleh kilau gemerlap duniawi. Tapi setidaknya kini tersadar bahwa kapal sudah tersesat begitu jauh. Saatnya kembali memperbaiki sistem navigasi dan kembali ke tujuan semula.

Futur edisi terbaru memberikan banyak hikmah. Salah satunya adalah ternyata perang tersulit itu bukan saat menghadapi orang lain, tapi justru saat berperang dengan diri sendiri. Dengan segala kemalasan, alibi, dan kenyamanan untuk berbuat salah yang sama untuk kesekian kali.

Pelajaran berharga lainnya adalah..sebagus apapun topeng kebaikan yang dipakai. Dipoles, diperindah sedemikian rupa, itu semuanya hanya akan menghasilkan kelelahan. Ini bukan tentang melarang berbuat baik dan memperbaiki diri tapi tentang untuk siapa hal tersebut dilakukan. Jika untuk manusia maka dapatlah lelah. Jika untuk Allah dapatlah berkah.

Hal yang sama juga terjadi saat kita mencoba membuat semua orang senang dan terkesima. Ada sebuah kutipan menyebutkan bahwa, kunci kegagalan adalah mencoba menyenangkan semua orang.

Mencoba membuat semua orang senang berarti menggerus prinsip-prinsip pribadi. Menjadi bunglon dalam setiap keadaan. Lelah? Pasti :') bukankah ibadah menyenangkan hati orang lain? Betul.. Tapi bukan disitu letak salahnya. Pernah merasakan mentolelir kesalahan orang lain, atau mengiyakan suatu perbuatan padahal dengan jelas hati berteriak menolak hanya karena asas "kalau bilang nggak, nanti dia nggak mau temenan lagi". Got my point? :)

Ah malu sekali rasanya membuat rangkaian kata seperti ini. Berlaga seperti nona KIA (know it all). Sejujurnya membuat tulisan ini adalah untuk merelease segala emosi dan berbagi pelajaran dari kurikulum futur edisi terbaru yang diyakini terjadi atas kehendakNya. Terlalu pelit jika disimpan sendiri. Pun memori ini sudah so tua, sampai sampai gampang lupa. Dan rasanya cara inilah yang terbaik untuk mengabadikannya :')


Semoga bermanfaat :)
Diny Gustini

Comments:

Post a Comment

Free Blog Template by June Lily