April udah mau tamat dan belum produksi satu pun postingan itu rasanya kayak ada yang kurang. Hehe feels like there is one mission left behind. Tapi lebih dari itu sebenernya kangen juga nulis. Beberapa hari atau mungkin minggu ini udah jaraaaang banget nulis. Nggak disini. Nggak di diary. Dan nggak di note kecil yang selalu dibawa juga.
Ide banyak tapi rasanya takut. Entahlah.. terlalu banyak yang dipikirkan saat mau mulai nulis. Dan semua itu malah berkomplot dan bertransformasi menjadi beban yang akhirnya membuat enggan nulis.
Selama semedi itu otak terus bekerja, mengevaluasi. Sekelebat ada rasa ingin nyerah. Ah mungkin bukan jatahku aktif menulis. Tapi anehnya orang-orang mulai berdatangan ngomongin tulisan yang udah dibuat. Ada pula yang menanyakan kapan buku saya akan terbit? Ditanya gitu saya balik nanya pada diri sendiri. Kapan?
Alih-alih terus berlatih saya memilih menghindar. Saya baca di buku My Life as Writer, Clara NG bilang kalau setiap penulis itu memiliki fase dewasanya masing-masing. Kalau belum melewati masa itu maka itu namanya pemaksaan. Dan rasanya saya belum melewati fase itu. i should learn more and practice more..
Lalu Farida Susanty, seorang penulis muda bilang, nggak kebayang rasanya nulis buku dengan targetan ingin diterbitkan. Begitu katanya.. Karena tulisannya bisa jadi nggak jujur. Terlebih nggak jujur sama diri sendiri. Hati saya mengangguk dengan keras dan teriak : IYA BANGET! hehe
Mungkin semua harus dibalikin ke niat. ya! niat. Sekarang semakin paham betul kenapa hadits tentang niat ada di urutan nomer satu Hadits arbain. Karena niat itu penting. Kenapa saya harus nulis? Mau dibilang keren? Mau dibilang inspiratif? Mau dibilang hebat? Terus dapet apa kalau cuma dipuji doang? Paling ujungnya dapet sombong kan?
Hapus! hapus! hapus! semua niat buruk itu harus dihapus!
Kadang rasanya ingin berhenti. Ah sudahlah nggak usah terbebani, nggak usah nulis. Tapi..... pas ide muncul atau ada sesuatu yang bener-bener gengges banget dipikiran dan rasanya semua orang perlu tau, tapi kemudian nggak dieksekusi itu anehnya selalu diikuti sama rasa bersalah. Bolehlah bilang saya kegeeran. Cuma, kalau dianalogiin itu kayak dititipi sesuatu berharga sama Allah buat dibagiin ke orang tapi ujungnya disimpen sendiri. Rasanya juga kayak dikirim ke tempat gelap, dan saya diamanahi lilin dan korek tapi terlalu takut untuk menyalakan.
Banyak sekali ide yang selama ini diaborsi. Sayang banget memang. Tapi nulis itu nggak bisa dipaksakan ternyata. Niat untuk bisa menulis tiap hari juga ujungnya malah menjadi berkilo-kilo beban yang berakhir lelah. Menulis yang paling indah adalah menuliskan apa yang paling mengganggu pikiran, meluapkannya dengan sepenuh hati. Marissa Anita, si jurnalis cerdas di NET TV yang menyadarkan saya tentang hal tersebut. Entah ini kebetulan keberapa yang hadir, kayak goyang-goyangin badan saya buat bangun dari hiatus yang terlalu lama. Padahal waktu itu lagi ngobrolin tentang Ibu Kartini di Indonesia Morning Show, eh tapi ujung-ujungnya mereka malah saling cerita tentang pentingnya menulis dan keluarlah tips tadi dari Marissa Anita. Tulislah apa yang paling mengganggu pikiranmu. Dan itulah yang saya lakukan sekarang :)
Mungkin terlalu lebay kalau bilang tiap mau berhenti nulis selalu ada aja yang menghalangi. Lebay nggak sih? Haha Tapi yang pasti semua hikmah tersebut seperti jentikan jari yang memerintahkan untuk terbangun dari hipnotis yang dilakukan oleh rasa takut. Terbangun dan tersadar bahwa saya nggak boleh berhenti nulis.
what i need to do now is just.. write, write, and write. stop thinking what will people tell about it. Berhenti berpikir tulisan ini bagus apa nggak. Terserah. Terserah. Terserah. Jika semua itu kemudian malah menjadi beban, i will definitely kick them out.
Menjadi inspiring writer memang impian saya. Tapi ternyata kadang itu membuat saya nggak jujur sama diri sendiri. Kadang juga jadi maksa biar tulisannya menginspirasi. Hal besar yang Allah ajarkan pada saya dari kejadian ini adalah... Belajar Jujur Pada Diri Sendiri. Itu yang terpenting.
Karena menulis itu perlu kejujuran......terutama pada diri sendiri.
Sempat cerita juga sama Teh Pewski (Febrianti Almeera), dan beliau bilang gini :
"Lakukan aja yang suka dilakukan, yg membuat kita senang.. Masih terfokus pada hasil (semisal harus menginspirasi, diapresiasi, dan lain-lain) itu hanya akan menambah bebanmu dalam berkarya yang harusnya leluasa, dan prosesnya adalah senang-senang, dan membahagiakan. Hasil kan hak prerogatif Allah. Kita mah hanya diminta berusaha. Dan sesungguhnya, berusaha juga bukan untuk mendapat hasil din. Berusaha itu untuk menunjukan kepada Allah, seberapa serius ikhtiar kita, dan membuktikan seberapa syukur kita atas kesempatan berusaha yang diberikanNya. Maka,berusahalah dengan gigih, tapi dalam suasana yang senang-senang, happy, bahagia, gembira, sukacita. :)"
Sebuah nasihat yang nancleb langsung ke hati. Alhamdulillah, lewat Teh Pepew Allah ngasih jawaban :) Rasanya rindu sama kebebasan hati saat menulis dulu jauuuuh sebelum menyadari bahwa menulis adalah passion saya. That feels like dancing freely without thinking if people looking at me. just dance and follow the heart. i want to feel that again, forever. feel happy while writing and sometimes laugh with it. so fun and priceless :)
Waaa......rasanya seperti menemukan lagi barang kesayangan yang hilang. Luar biasa senang dan plong :) Alhamdulillah..
Thank You, Ya Rabb for always guiding my steps. And please do not ever leave me alone in this world... i'm scared sometimes... please, hold me tight.. I do always need you...
Sincerely,
Diny Gustini
:')

Comments:
Post a Comment