Dulu semasa kuliah saya belajar banyak proses kimia. Dari semua proses ada satu kesimpulan yang sama, yaitu sebuah proses terdiri dari adanya input, sistem proses, dan kemudian dihasilkan output. Jika sebuah proses hanya memiliki jalur input dan proses tanpa adanya output maka mesin bisa rusak, tentu saja. Tubuh kita saja jika hanya dimasukan makanan terus menerus tanpa adanya proses ekskresi pasti langsung bermasalah.
Beberapa hari kemarin saya sempat mengalami masalah tersebut. Bukan, bukan tentang masalah pencernaan. Tetapi saya mengalami sebuah masalah yang berkaitan dengan input-proses-output ini. Saya menghilangkan elemen terakhir yang membuat saya sukses gagal.
Proses ini terjadi pada otak. Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang saya pikirkan. Tentang menulis lah, tentang rencana kuliah, tentang impian-impian, tentang pekerjaan, tentang kekurangan diri, dan berderet pikiran lainnya. Jika otak saya adalah lapangan bola sebut saja sebesar GBK, dari mulai kursi penonton hingga lapangannya pun penuh sesak nggak ada space. Mungkin lebaynya gitu. Hehe
Siapa yang bertanggung jawab akan hal ini? Apa orang lain? impian saya? rencana kuliah saya? passion saya? jelas bukan. karena mereka merangsak masuk dalam proses berpikir saya ya karena saya yang meng-input mereka. Jadi jelaslah saya memiliki tanggung jawab besar atas tingkat kepadatan pikiran saya sendiri.
Sampailah saya pada keadaan lelah pikiran yang rasanya itu lebih melelahkan dari sekedar lelah fisik. Karena lelah pikiran mengatasinya tidak segampang lelah fisik yang bisa diredam dengan istirahat yang cukup dan pola makan teratur. Lelah pikiran tidak akan menghilang dengan dua hal tersebut. Ah sungguh melelahkan. Sebelum dan sesudah tidur dia masih saja betah menempel di pikiran kita. It's absolutely not so sweet but so sweat!
Akhirnya saya putuskan untuk menghentikan dulu aktifitas yang berpotensi memberikan input baru pada otak. Dengan sangat terpaksa harus istirahat membaca buku sementara. Walaupun sedih juga, tapi ini demi pemulihan pikiran saya agar kembali bugar. Saya pun berkontemplasi.
Ternyata setelah merenungkan segalanya, mencoba menelusuri letak janggalnya, saya pun menemukan beberapa akar permasalahannya. Pertama dan sangat fatal, saya tidak melibatkan Allah dalam mengolah semua pikiran-pikiran tersebut. Saya bekerja sendiri dan itu tindakan SANGAT bodoh. Merasa so jagoan jadi memikirkan segalanya sendirian. Sombong bener dah. Maka sangat pantas jika Allah membuat saya merasakan kepenatan ini. Sentilan yang luar biasa ampuh, biar saya sadar kembali saya ini bukan siapa-siapa tanpaNya. Panggilan rindu Allah itu memang selalu unik :)
Dan kesalahan kedua adalah seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saya menghilangkan satu elemen penting dalam proses berpikir saya, yaitu output. Memang apa sih output dari proses berpikir? Jawabannya tentu saja ACTION! Itulah satu hal penting yang saya lupakan. Terlalu lama berpikir tapi nggak ada sesuatu yang dilakukan itu sama aja bohong. Nggak akan ada lampu kalau dahulu kala Thomas Alva Edison hanya sebatas memikirkan tentang bagaimana cara membuat alat penerangan. Right?
Proses kontemplasi yang dilakukan juga menggiring saya pada sebuah kesadaran akan hal fatal yang selama ini dilakukan, yaitu hidup jadi nggak santai, nggak dinikmati saking kebanyakan mikir. Misal, di otak itu ada susunan rencana A, B, C, dan D. Biasanya saat membuat rencana saya juga membuat estimasi waktunya. Nah saat melakukan rencana A memang saya berusaha mengerahkan kemampuan terbaik, tapi otak saya nggak fokus, dia bekerja memikirkan rencana B dan mengkhawatirkan estimasi waktunya. Saat beralih ke rencana B juga terjadi hal serupa, dan begitu seterusnya sampai semua rencana saya selesaikan. Bagus memang, semua beres dan Alhamdulillah hasilnya pun maksimal. Namun anehnya, saya ngerasa kelelahan disamping kepuasan batin yang didapat karna berhasil menuntaskan semua rencana.
Ternyata, saya lupa untuk menikmati setiap tahapan yang saya jalani. Itulah kesalahan fatalnya. Saya terlalu memikirkan tenggat waktu, memikirkan rencana selanjutnya, memikirkan hasil pekerjaannya. Rasanya jadi nggak nikmat, kurang lezat. Ibarat berjalan di hutan, saya terlalu serius memikirkan tempat tujuan tanpa menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan. Ketika sampai di tempat tujuan, saat yang lain menceritakan indahnya bunga, pegunungan, dan hal-hal menakjubkan lain yang mereka temui selama perjalanan, saya hanya mampu berdiam diri. Kira-kira begitu analoginya.
Semua hasil perenungan ini begitu memberikan banyak pelajaran bagi saya sekaligus PR juga. Syukur Alhamdulillah Allah membimbing saya untuk menemukan semua kebiasaan-kebiasaan buruk yang diluar kesadaran ini. Kedepannya saya harus selalu berusaha agar tidak lupa untuk melibatkan Allah dalam segala hal, karena di tangan Allah lah kunci segalanya. Tidak ada satu kejadian pun yang tercipta tanpa seijinNya.
Selain itu, saya harus belajar untuk menetaskan telur-telur pemikiran saya menjadi aksi-aksi nyata karena sebuah pemikiran tanpa aksi itu NOL besar. Dan dalam proses mewujudkannya pun diperlukan hati dan pikiran yang tenang, agar bisa menikmati setiap detik tahapan kehidupan. Menjalani rencana tanpa merasa beban. Melatih jiwa untuk menari di atas ritme kehidupan saat raga sibuk bekerja. Bismillah semoga dengan pemahaman-pemahaman ini saya bisa menjalani hidup dengan jauh lebih baik, memberikan manfaat jauh lebih banyak, dan menjadi pribadi yang jauh lebih dicintai olehNya. Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap gerak langkah dan terus memberikan sentilan-sentilan atau panggilan rinduNya saat diri mulai menapaki arah yang salah. aamiin ya Rabbal 'Alamin :')
Semoga bermanfaat :)
Diny Gustini
#InspiWriter

merencanakan sedikit hal dulu deh. kerjakan sampai selesai. baru pindah ke pekerjaan yang lain. sikap ini bakalan menyelesaikan masalah dan namabah PD.
ReplyDeleteterimakasih udah mengunjungi blog saya :) terima kasih juga udah ngasih masukan ya :) iya betul harus mulai mengerjakan hal-hal kecil dulu, kalau langsung menargetkan banyak hal biasanya malah jadi pusing sendiri dan akhirnya malah menunda-nunda.
ReplyDelete