January 23, 2014

Pentingnya Keseimbangan

Meskipun keseimbangan adalah hal yang abstrak dan tidak dapat terukur, tapi kita harus senantiasa berusaha untuk meraihnya. Saya baru sadar akan hal itu. Ternyata hidup seimbang itu penting.

Konsep keseimbangan ini baru saja saya temukan dari buku The Procrastination Cure (7 Langkah Menghentikan Sikap Menunda-Nunda) karangan Jeffery Combs.Sebagai seorang yang 80% berjiwa plegmatis menunda-nunda adalah karakter kuat saya. Maka saat pertama kali melihat buku itu langsung saya samber.

Dan keputusan tersebut teramat benar, Alhamdulillah :) banyak sekali ilmu baru yang saya dapatkan. Menurut beliau, ternyata sikap menunda-nunda ini adalah akibat bukan sebab. Maka untuk mengatasinya kita harus cari tahu dulu penyebabnya. Dan penyebabnya ini beragam.

Jeffery Combs membagi penunda-nunda menjadi 6 tipe, yaitu Perfeksionis Neurotik, Pengejar Kesepakatan Besar, Pencemas Kronis, Penunda-nunda Tipe Pembangkang, Pencandu Drama, dan Pemberi Yang Pemarah. Setelah saya baca semua ternyata kesemua tipe ada dalam diri saya tetapi dalam kadar yang berbeda. Ada yang rendah, ada yang sedang, ada yang tinggi, juga ada yang paling tinggi. Kadar yang paling tinggi dalam diri saya adalah penunda tipe pengejar kesepakatan besar dan pemberi yang pemarah.

Karena disini saya akan bercerita tentang keseimbangan maka saya akan berfokus pada tipe pemberi yang pemarah. Pemberi yang pemarah ini karakter kuatnya adalah susah bilang "tidak". Cenderung mengiyakan segalanya walaupun dia tidak bisa. Tapi dibalik sifat pemurahnya itu dia butuh pengakuan dari orang lain. Dia terlalu fokus pada memberi, mengambil banyak tanggung jawab sehingga merasa kewalahan sendiri. Tenggelam dalam kesibukan yang diciptakan sendiri.  Akhirnya menyebabkan apa yang menjadi prioritas tidak dilaksanakan dengan tuntas. Penunda tipe ini bisa sampai lupa untuk menyenangkan diri. There's no time to rest. Pandangannya selalu melayang dari satu tujuan ke tujuan lain, persis seperti diri saya yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Ingin melalukan segalanya tapi berujung melalaikan segalanya.

Obat bagi tipe penunda ini adalah belajar arti keseimbangan. Hal yang harus disadari adalah disamping memberi juga ada hak menerima. Saat membaca buku Menikah Untuk Bahagia, Pak Indra Noveldy juga pernah menyinggung soal ini. Beliau berkata bahwa normalnya manusia pasti ada rasa berharap menerima sesuatu. Tapi sebelum itu kita harus memberi, memberi, dan memberi untuk kemudian memetik hasil dan menerima.

Saat itu saya berontak..tidak setuju dengan pendapat pak Noveldy. Saya pikir memberi ya memberi saja, jangan ada SEDIKIT pun rasa ingin menerima sesuatu. Saya teruuuus tanamkan mindset itu. Awalnya memang bagus, merasa lega jauh dari beban. Tapi tanpa saya sadari saya sedang menghilangkan sisi kemanusiaan saya dan menekan diri saya untuk menjadi malaikat(?) dan akhirnya saya lelah. Saya terlalu logis, saya terlalu ingin bersih, saya memikul beban-beban yang saya ciptakan sendiri.

Saya selalu bercita-cita untuk menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk manusia lain. Maka saya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi orang lain. Berusaha menyenangkan semua orang. Hidup HANYA fokus untuk bermanfaat. Tanpa disadari saya mulai menghilangkan ruang untuk peduli pada diri saya sendiri. Saya seperti hidup untuk orang lain.

Melalui buku pak Jeffery Combs Allah mengenalkan saya dengan konsep keseimbangan. Konsep yang telah saya gerus secara perlahan dalam hidup saya. Berlebihan itu memang tidak baik. Bukan cita-cita menjadi bermanfaatnya yang salah, bukan memberinya yang salah, bukan usaha menyenangkan orang lainnya yang salah. Akan tetapi hilangnya keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pribadi dan orang lain itulah sumber permasalahannya. Terlalu berfokus pada salah satu tentu akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam hidup.

Saya sadar saya terlalu keras berlari. Saya terlalu keras pada diri sendiri. Saya jadi teringat perkataan ibu Ainun pada pak Habibie yang terlalu keras bekerja, beliau berkata, "bagaimana bisa mengurus orang satu negara, jika mengurus diri sendiri saja tidak bisa?" saya harus ingat bahwa sebenarnya amanah terbesar yang Allah titipkan adalah diri saya sendiri. Menjadi pribadi yang bermanfaat tak berarti harus melupakan kebutuhan untuk memperoleh kesenangan pribadi. Peduli pada orang lain tak berarti lupa untuk peduli terhadap diri sendiri.

Lalu apakah konsep keseimbangan ini bertentangan dengan konsep ikhlas? Jika kita mengharapkan imbalan dalam setiap pemberian bukankah itu namanya nggak ikhlas? Tergantung. Jika kita berharap pada imbalan yang diberikan dari orang lain atau orang yang kita beri mungkin bisa jadi menghilangkan keikhlasan. Tapi sebaik baik harapan adalah harapan yang dititipkan pada Allah, dan Allah lah sebaik baik pemberi imbalan. Dan mudah bagi Allah untuk menggerakan siapa saja makhluk ciptaanNya untuk berbuat baik pada kita sebagai balasan segala pemberian yang kita lakukan.

Tulisan ini saya buat untuk pengingat diri sendiri, sebagai alat untuk merelease segala emosi yang ada dalam diri. Saya baru sampai pada titik sadar tentang keseimbangan ini dan saya akan berusaha untuk melalukannya sedikit demi sedikit. Berusaha menjadi tipe pemberi yang sehat.

Bismillahirrahmanirrahim semoga Allah senantiasa membimbing segala gerak langkah aamiin :')

Semoga bermanfaat,
Diny Gustini
#InspiWriter

Comments:

Post a Comment

Free Blog Template by June Lily